Selasa, 17 September 2013

Personal Prophetic Leadership (Perpec-L)



Presented by Kareen el-Qalamy



Tidak terasa hampir mendekati tahun 2014. Nuansanya pun terasa semakin memanas. Mengapa tidak? Entah itu di media masa atau di lingkungan sekitar tempat tinggal sudah marak bertebaran foto-foto dengan slogannya masing-masing. Orang yang ada di foto tersebut tentu berharap dengan sangat mayoritas masyarakat memilihnya.
            Apabila mencoba untuk flash back, berarti Indonesia akan memiliki presiden untuk yang ke-8 kalinya. Dari masa pemerintahan presiden pertama sampai ke-7 tentu mempunyai gaya kepemimpinan masing-masing. Kesekian gaya kepemimpinan tersebut tentu juga membawa dampak tersendiri bagi kondisi bangsa selanjutnya.
            Gaya kepemimpinan berdasarkan motivasi terbagi menjadi dua, yaitu gaya kepemimpinan bersifat ekstrinsik dan gaya kepemimpinan bersifat intrinsik (Fry, 2003 & 2005) Kalau dicermati lebih lanjut, gaya kepemimpinan presiden Indonesia sejak dulu termasuk dalam kategori gaya kepemimpinan ekstrinsik. Sepertinya, untuk presiden yang akan terpilih mendatang perlu mencoba gaya kepemimpinan intrinsik.
            Gaya kepemimpinan intrinsik perlu dicoba untuk diterapkan di Indonesia karena melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk apabila dilihat dari segi moralnya. Maraknya kasus korupsi dan tindak kriminal yang terjadi salah satu penyebabnya bisa jadi dikarenakan kesalahan pemilihan gaya kepemimpinan. Selama ini gaya kepemimpinan yang diterapkan bersifat ekstrinsik dimana belum belum menyentuh sisi terdalam dari individu maupun pemimpin itu sendiri, yaitu aspek spiritual (rohaniah), padahal dalam diri manusia terdapat aspek bio, psiko, sosial, dan spiritual yang tidak terpisahkan satu sama lain.
            Salah satu jenis gaya kepemimpinan intrinsik yaitu gaya kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik memiliki kesamaan sumber dengan gaya kepemimpinan spiritual, yaitu nilai-nilai dan keyakinan individu terhadap nilai-nilai agama atau paham lainnya. Kemudian kepemimpinan profetik melibatkan kesadaran otonomi dan intrinsik individu dalam melakukan aktivitasnya. Gaya kepemimpinan profetik tidak lepas dari nilai kepemimpinan yang ada pada Nabi Muhammad saw. Sifat kepemimpinan Rasulullah yang sangat terkenal ialah 1) Shidiq (benar), 2) Tabligh (menyampaikan), 3) Amanah (dapat dipercaya/jujur), dan 4) Fathanah (cerdas dan bijaksana). Lebih dari itu, keberhasilan kepemimpinan Rasulullah adalah karena ia memiliki akhlak yang terpuji (akhlaq karimah).
            Perbedaan gaya kepemimpinan spiritual tentu ada jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan intrinsik yang lain. Perbedaannya yaitu gaya kepemimpinan intrinsik bersifat syar’iyyah. Kepemimpinan profetik yang bersifat intrinsik plus syariah (Pro+) ini merupakan integrasi antara motivasi intrinsik individu dengan motivasi Ilahiyah yang keduanya berdimensi dunia (hasanah – happines) dan akhirat (salamah – salvation), sehingga hal itu memunculkan aktivitas kehidupan individu, kelompok dan organisasi secara intrinsik. Gaya kepemimpinan profetik inilah yang sangat diperlukan oleh setiap individu dan bangsa Indonesia dalam menata karakter bangsa menghadapi problematika yang semakin beragam.
            So, sebagai warga negara yang baik hati dan tidak sombong sangat dianjurkan untuk bisa mengenali calon-calon pemimpin kita. Minimal memberikan penilaian dari sepak terjang mereka selama ini apakah mereka sudah bisa mengamalkan nilai-nilai kepemimpinan Rosulullah ataukah belum atau malah pernah melukai hati rakyatnya? Jangan sampai memilih kucng dalam karung ya...

Sumber: Ahmad Yasser Mansyur,” PERSONAL PROPHETIC LEADERSHIP SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER INTRINSIK ATASI KORUPSI Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, Nomor 1, Februari 2013
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar