Rabu, 29 Juli 2015

Ramadhan Perjuangan



Presented by Kareen el-Qalamy




          Lama sekali rasanya jari jemari ini tidak menari di atas key board. Minimal sekadar untuk meluapkan seluruh isi hati atau ide yang ada di kepala. Mungkin dikarenakan kesibukan lain yang cukup menyita perhatian, pikiran waktu dan tenagaku, namun aku tidak mau mengkambinghitamkan apapun itu. Aku ingin menggiatkan kembali aktivitas menulisku yang beberapa bulan vakum sejenak. Semoga tetap istiqomah menjadi pejuang pena.
            Vakum menulis membuat beberapa ide yang memenuhi pikiranku lewat begitu saja. Tidak sempat tertuang menjadi sebuah tulisan yang harapannya bisa menginspirasi setiap orang yang membacanya. Walaupun begitu, aku akan tetap mencoba merangkai ide-ide itu kembali.
            Dimulai dari datangnya bulan mulia, bulan penuh barakah, rahmat dan ampunan yaitu bulan Ramadhan. Sungguh diri ini sangat bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukanku dengan bulan yang sangat kunanti-nanti kehadirannya. Bulan Ramadhan yang baru beberapa minggu meninggalkan kita merupakan Ramadhan penuh kesan yang sangat mendalam bagiku. Karena di bulan Ramadhanlah Engkau mengajarkan aku akan arti perjuangan, mengajarkan aku akan arti keikhlasan, mengajarkan aku akan arti berserah diri, mengajarkan aku akan arti berbagi.
Aku sangat merasakan perjuangan yang sangat luar biasa selama Ramadhan. Tidak salah jika Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan perjuangan buatku. Mengapa? Di saat orang lain mencurahkan seluruh jasad, hati dan pikiran untuk bisa khusyuk beribadah kepada Allah, aku tidak semudah itu. Selain aku harus fokus beribadah, aku juga dituntut harus fokus dalam penyelesaian studi Magisterku. Sungguh perjuangan yang sangat berat yang kurasakan saat itu, ditunutu harus bisa tawazun keduanya, antara ibadah dan studi.
Penyelesaian studi tidak semata-mata hanya ingin memperoleh nilai bagus dan mendapat gelar M.Pd, bukan itu. Dibalik penyelesaian studi ada makna mendalam yang memang harus kuperjuangkan, sehingga aku rela tidak merasakan kebersamaan Ramadhan di rumah dengan adik, orang tua dan teman-teman di desa. Makna mendalam tersebut adalah adanya unsur birul walidain di sana. Aku rela mengorbankan segalanya waktu, tenaga, pikiran dan hati demi senyuman yang terlukis di wajah orang tuaku yang ingin melihat anaknya berhasil. Selain itu aku juga tidak ingin menyusahkan orang tuaku lagi. Cukup ini yang terakhir kalinya aku menyusahkan mereka, atas segala pengorbanan yang orangtua berikan untukku, demi kebahagiaan anak-anaknya. Sebagai seorang anak, aku ingin sekali membahagiakan mereka. Akan tetapi sampai sekarang aku merasa belum bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia, belum bisa membalas semua pengorbanan mereka, walaupun itu tidak mungkin. Karena bagaimanapun juga kasih orang tua sepanjang jalan, sedangkan kasih anak hanya sepanjang galah.
Walaupun begitu aku tetap ingin berusaha untuk membahagiakan orang tuaku. Minimal dengan menuruti dan mengabulkan permintaan mereka. Asalkan tidak menyalahi perintah dan larangan-Nya, hal itu akan selalu kuperjuangkan. Termasuk salah satu keinginan orang tuaku adalah mereka ingin aku bisa menyelesaikan studi di semester ini, tepat tiga semester saja. Ramadhan juga merupakan waktu mustajab terkabulnya doa dengan niat awal penyelesaian studi demi birul walidain-ku, demi baktiku, demi cinta dan sayangku kepada kedua orang tuaku. Lantunan doa memohon kelancaran dan kemudahan selalu kupanjatkan. Juga intensitas interaksiku dengan Al-Qur’an semakin kutingkatkan. Walaupun aku disibukkan dengan penyelesaian studi, lantas tidak mengurangi semangat ibadahku untuk mendapatkan malam Lailatul Qodr. Target khatam Qur’an sebanyak dua kali alhamdulillah masih bisa kuraih meskipun tidak lepas dari yang namanya perjuangan.
Ditambah berkah Ramadhan yang kurasakan, alhamdulillah setiap proses yang kulalui serasa semakin dimudahkan oleh Allah hingga akhirnya aku bisa melalui proses sidang tesis di minggu terakhir Ramadhan. Rasa haru, senang dan sedih bercampur menjadi satu. Senang dan haru karena akhirnya aku bisa menjalani sidang tesis dengan hasil yang sangat memuaskan. Sedih karena mau tidak mau aku harus melewatkan momen i’tikaf di masjid saat kebanyakan orang berbondong-bondong melakukannya.
Ramadhan perjuangan, kesan yang kurasakan. Walaupun Ramadhan telah pergi, aku tetap merindukannya untuk bisa berjumpa kembali. Mungkin dengan kondisi yang masih sama (single) atau dengan kondisi berbeda dimana Allah telah mengirimkanku seorang imam yang nantinya bisa membimbing dan menuntunku untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, untuk bisa lebih mencintai Allah. Wallahu’alam. Mudahkan dan lancarkan proses ini ya Rabb... Aku hanya ingin laki-laki terbaik menurut pilihan-Mu. Izinkan aku untuk memantaskan diri, mempersiapkan diri dan untuk memperbaiki diri agar diri ini pantas bersanding dengan hamba-Mu yang sholih. Karena aku yakin, skenario-Mu yang lebih indah atas setiap hamba-Mu.

Jumat, 24 Juli 2015

Sebuah Nama dalam Doa




Presented by Kareen el-Qalamy




            Tahun 2013 menjadi salah satu tahun spesial buatku. Sebuah momen spesial di tahun 2013 alhamdulillah aku dapat menyelesaikan studi S1 Pendidikan Matematika di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Yogya. Tanggal 14 Desember 2013 menjadi kenangan indah saat disematkan gelar S.Pd.Si pada namaku. Keluarga datang mengantarkanku ke acara wisuda. Hampir semua orang, sahabat dan teman memberiku ucapan selamat atas kesuksesanku.
“Rina....selamat ya...,” ucapan dari bapak, ibu dan adik sambil bergantian memelukku.
“Terima kasih ya Bapak, Ibu dan Adik yang selama ini menjadi motivatorku,” ujarku sampai tidak kuat menahan tangis.
            Bertolak dari kampus karena acara wisuda telah selesai. Kami langsung pulang. Sepanjang perjalanan ucapan rasa syukur tidak henti-hentinya mengalir, memenuhi rongga hatiku yang memang sedang dilanda kebahagiaan. Beberapa ikat bunga kupandangi terus menerus semenjak perjalanan hingga sesampainya di rumah. Bunga-bunga yang diberikan oleh sahabat, teman dan keluarga sebagai tanda ucapan selamat. Tetapi sayang, bunga spesial dari seorang laki-laki spesial di hatiku belum bisa aku terima. Toh lelaki yang kumaksud juga belum tahu yang mana, siapa dan kapan dia akan datang, ah sudahlah...batinku. Aku memang berusaha untuk tidak terlalu memikirkan masalah jodoh, walaupun sekarang aku sudah lulus kuliah.
            Keesokan harinya....
Assalamu’alaykum. Rina, kamu pengen ngajar gak?,” sebuah SMS mendarat di Hpku.
Wa’alaykumussalam. Pengen banget Vita..., dimana ngajarnya?,”tanyaku bersemangat.
“Nggantiin aku ngajar di SDIT Baitussalam Prambanan, soalnya aku resend. Kamu segera persiapkan persyaratannya ya, besok kita ketemuan,” balas temanku.
“OK, Insha Allah,” seperti menerima rezeki takterduga. Memang sudah menjadi keinginanku untuk langsung bekerja setelah lulus dan Allah mengabulkannya, alhamdulillah.
            Langsung saja aku mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan. Mulai dari fotokopi ijazah, CV, fotokopi transkrip nilai dan pas foto. Setelah kulihat pas foto yang dimaksud berukuran 3x4 berwarna. Padahal foto yang tersisa tinggal berukuran 2x3 berwarna. Berarti harus cetak foto dulu, batinku.
            Sore harinya di saat semua anggota keluarga berkumpul, aku beritahukan informasi berkenaan tawaran mengajar dari teman. Alhamdulillah, semuanya meenyerahkan segala keputusan kepadaku. Semoga ini menjadi ladang amalku selanjutnya, aamiin. Rasanya taksabaran untuk menunggu hari esok tiba. Segera kupejamkan mata untuk menyambut esok hari dengan penuh keceriaan dan penuh semangat.


                                    @                                @                                @


            Kring.........!!! Nada alarm HPku berbunyi. Lantas bergegas bangun dan mengambil air wudhu. Bertepatan dengan alunan suara adzan Subuh yang begitu syahdu terdengar di saat sang fajar mulai menyingsing. Kulakukan sholat Subuh dengan khidmat, taklupa disertai dengan sholat sunnah Rawatib sebelum Subuh dengan harapan semua aktivitasku hari ini berjalan lancar. Setelah itu sibuk mempersiapkan diri karena harus berangkat pagi-pagi ke Prambanan.
“Nanti ketemu di pertigaan lampu merah, kalau dari arah Yogya lampu merah pertama setelah jembatan,” SMS Vita mengabarkan tempat pertemuanku dengannya.
“OK Vita,”jawabku singkat. Karena selain mempersiapkan diri, aku juga harus beres-beres rumah terlebih dahulu sebelum kutinggal. Maklum bapak, ibu dan adik beraktivitas di luar rumah, jadi sebisa mungkin rumah dalam kondisi bersih ketika kutinggal.
            Perjalanan dengan sahabat setiaku, si kuda merah berlangsung. Menyusuri jalan yang setiap dua kali dalam seminggu kulalui. Setiap berangkat ke Yogya di awal pekan untuk memulai aktivitas perkuliahan dan di akhir pekan ketika mudik. Itu dulu, sekarang sudah berbeda kondisinya. Pasca kelulusanku, aku memutuskan untuk tinggal di Klaten sehingga sekarang sudah jarang sekali ke Yogya. Namun bagaimanapun rute dari rumah-Yogya menyimpan berjuta kenangan yang tidah mudah dilupakan begitu saja. Dengan segala pemandangannya, rutinitasnya, kepadatannya, hiruk pikuknya dan masih banyak yang lain, menjadikanku kangen untuk bisa melewatinya kembali.
            Nampaknya belum banyak yang berubah. Salah satu yang kusayangkan adalah kondisi jalannya yang banyak lubang. Sangat berbahaya bagi pengendara sepeda motor. Oleh sebab itu saya harus berhati-hati ketika melewatinya. Ditambah lagi kepadatan yang terjadi, tidak hanya sebatas persaingan antar kendaraan bermotor atau mobil. Selain itu juga banyak sekali truk-truk pasir dan bus pariwisata yang berlalu lalang di jalan ini. Maka sebagai pengendara harus ekstra sabar dan berhati-hati.
            Tidak terasa sudah sampai Prambanan. Laju motorkuSegera pandanganku menyebar di segala sudut jalan mencari-cari keberadaan Vita.
Assalamu’alaykum  Rin...., langsung ya?” tiba-tiba ada seorang wanita mengendarai sepeda motor menghampiriku dari arah belakang.
Wa’alaykumussalam. OK Vita,” bergegas aku membuntutinya dari belakang.
            Tidak sampai sepuluh menit dari tempat perjumpaanku dengan Vita, sampailah kami di SDIT Baitussalam Prambanan. Langsung saja Vita mengajakku untuk bertemu dengan salah satu ustadzah yang menjadi penanggungjawab penerimaan pengajar baru. Lantas tidak lama kemudian saya dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Sembari memperkenalkan diri, Vita meninggalkanku berdua dengan ustadzah itu. Ternyata ustadzah itu bernama ustadzah Ummi.
“Mbak Karina, sekarang langsung mengikuti tesnya ya. Nanti tesnya ada tiga tahap, tes tertulis, tes wawancara dan tes BAQ sekaligus tahfidz,” ujar ustadzah Ummi.
“Inggih Bu,” hatiku serta merta bergedup kencang ketika mengetahui ada tes tahfidz juga. Padahal hafalanku baru sedikit. Jadi merasa minder.
“Ini saya beri soalnya untuk tes tertulis. Silakan mengerjakan selama 30 menit. Kalau sudah serahkan ke saya, saya ke dalam dulu,” beliau lantas pergi masuk ke ruang guru.
            Seketika itu juga aku langsung mengerjakan soal-soal yang diberikan. Soal-soalnya terdiri dari soal pengetahuan umum dan keislaman. Juga tidak ketinggalan soal pengetahuan mengenai SDIT. Sebisaku menjawab semua pertanyaan yang ada. Tidak sampai 30 menit aku sudah melalui tes tahap pertama. Lalu aku menyerahkan lembar jawaban beserta soalnya ke ustadzah Ummi.
“Sebentar mbak, susuk lagi saja, nunggu tes tahap kedua ya,” sambil berlalu ke ruangan sebelah.
“Inggih Bu.” Tes tahap kedua, yaitu tes wawancara. Jadi deg-degan, kira-kira siapa yang akan mewawancaraiku nantinya. Tiba-tiba seorang bapak-bapak mendekatiku.
“Mbak Karina ya, sudah siap untuk tes wawancaranya?,” tanya beliau dengan pandangan menunduk. Sepertinya bapak ini sangat menjaga sekali, batinku.
“Inggih Pak, insha Allah saya siap,” jawabku meyakinkan diri.
Tes tahap kedua pun dimulai. Seperti diberondong peluru saja, bapak itu menjejaliku dengan bermacam-macam pertanyaan. Akupun menjawab sebisanya, sampai-sampai tidak yakin apakah aku bisa diterima untuk mengajar di sekolah ini. Tidak terasa tes wawancara pun selesai. Beliau langsung meninggalkanku sendirian di kursi tamu. Tidak lama kemudian ustadzah Ummi kembali mendatangiku.
“Gimana mbak? Sudah selesai wawancaranya?,”tanya beliau.
“Sudah Us,” jawabku sambil senyam-senyum karena merasa kurang yakin dengan jawabanku.
“Sekarang tes tahap ketiga yaitu tes BAQ sekaligus tahfidz, bawa mushaf?.”
“Bawa Bu, “ sambil mengeluarkan dari dalam tas.
“Silakan dibuka Q.S  Maryam, coba dibaca dari ayat pertama,” perintah beliau.
            Aku pun langsung membaca ayat pertama dan ayat selanjutnya. Sembari aku membaca, beliau menyimak bacaanku. Beliau lantas menghentikan bacaanku di ayat sepuluh.
“Cukup mbak, sekarang gantian tahfidz. Coba sekarang lafadzkan Q.S An-Naba, qur’annya ditutup ya,” beliau langsung menatapku.
“Inggih Bu,” langsung saja kumulai. Alhamdulillah masih bisa kutangani, batinku.
Tidak membutuhkan waktu lama,  Q.S An-Naba selesai kulafadzkan. Selanjutnya beliau memintaku untuk melanjutkan ayat yang beliau baca. Secara acak beliau membacakan potongan ayat dalam juz 30 dan 29 lantas memintaku untuk melanjutkan. Alhamdulillah bisa terlewati juga.
Tidak lama kemudian aku langsung diberitahukan hasilnya. Tidak kusangka, bahwa aku bisa diterima mengajar di SDIT Baitussalam Prambanan. Minggu depan aku sudah diperbolehkan untuk mengajar. Ternyata aku mendapat jatah mengajar  mata pelajaran matematika dan tahsin metode Ummi. Lantas aku pun pulang dengan rasa bahagia memenuhi rongga hatiku.


                        @                                @                                @

Sepulangnya aku dari mengajar, tiba-tiba sebuah pesan takterduga masuk.
Assalamu’alaykum. Gimana kabarnya Rina?,” isi pesan tersebut. Setelah kulihat, SMS itu dari salah seorang kakak angkatan semasa kuliahku dulu. Aku biasa memanggil beliau Mas Irvan. Beliau beda jurusan denganku dan selisih satu tahun di atasku. Aku kenal beliau saat satu forum studi fakultas. Di forum studi fakultas, kami sama-sama satu divisi. Itulah mengapa saya sangat mengenal Mas Irvan. Beliau lulus lebih awal dua tahun yang lalu.
Wa’alaykumussalam. Eh, Mas Irvan, alhamdulillah baik. Njenengan gimana?,” balasku.
“Baik juga, sekarang sibuk apa Rin? Lama tidak ketemu.,” tanyanya lagi.
“Sekarang saya ngajar di SDIT Baitussalam. Kalau njenengan?.
Saya di SDIT Salman Al-Farisi deket UGM. “
            Saling berbalas SMS pun berlangsung. Maklum, sudah lama tidak bertemu. Dulu, sewaktu sedivisi di forum studi fakultas, beliau orangnya enak diajak kerjasama. Pernah menjadi ketua panitia kajian sains juga. Hampir semua teman-teman merasa segan dengannya. Mungkin karena sikapnya yang supel dan mudah bergaul. Jadi mempunyai banyak teman.
            Hari sudah larut sore, tiba-tiba teringat akan tugas koreksian ulangan harian anak-anak. Aku diberi jatah mengajar di kelas dua A&B. Alhamdulillah, masih bisa menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. Walaupun terkadang merasa capek dan lelah ketika menjalaninya. Tapi rasa capek yang dirasa terbayarkan dengan melihat senyum anak-anak ketika di sekolah. Bertemu anak-anak yang masih lugu dan polos. Wajah mereka menyiratkan belum adanya masalah yang mereka hadapi. Yang ada hanyalah kegembiraan dan kesenangan karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Serasa ingin kembali ke dunia anak-anak lagi.


                                    @                                @                                @


            Hari-hari kujalani dengan menyibukkan diri di dunia anak-anak. Maklum, mendapat jatah mengajar kelas dua. Jadi seperti menjadi anak-anak kembali. Sungguh tidak ada rasa capeknya melihat tingkah polah mereka. Dari pagi jam tujuh sudah harus sampai sekolah sampai pukul tiga sore baru boleh pulang.
            Sesampainya di rumah tidak jarang rasa capek langsung menghinggapi. Ditambah jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Hampir memakan waktu 45 menit. Baru saja membuka pintu kamar, tiba-tiba ada pesan mendarat di Hpku.
Assalamu’alaykum. Dah sampai rumah belum?,”ternyata pesan dari Mas Irvan.
Tanpa menunggu lama langsung kubalas,”wa’alaykumussalam. Alhamdulillah sudah,”jawabku singkat.
            Saling berbalas SMSpun terjadi. Sampai pada topik pembicaraan yang lebih serius.
“Dik, saya ingin melamar kamu, boleh gak?,”pertanyaan yang membuatku sontak termenung. Membuatku lama untuk membalasnya kembali.
“Maaf, saya tidak bisa memutuskan sekarang. Saya minta waktu dulu dan diskusi dengan orang tua,”pesan terakhir yang kukirim sebelum akhirnya aku tertidur karena capek.
            Keesokkan harinya, kebetulan hari Ahad. Agenda di hari Ahad seperti biasa, kerja bakti bersih-bersih rumah. Setelahh selesai bersih-bersih rumah, aku dan ibu pergi ke pasar. Sambil merencanakan akan masak apa, agar tidak bingung untuk membeli apa di pasar. Setelah cukup dengan barang belanjaan, kami pulang.
“Mau masak apa Bu?,”tanya adik setelah sampai di rumah.
“Masak sayur bening dan bakwan jagung,”jawab ibu.
            Sebelum  membantu ibu memasak, menunaikan sholat Dhuha terlebih dahulu. Setelah selesai, taklupa kumemanjatkan doa.
“Ya Allah...jikalau memang Mas Irvan itu jodoh hamba, maka dekatkanlah...namun, jikalau bukan maka jauhkanlah.....,”pintaku segenap hati. Karena aku tahu Allah yang lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka tidak sepantasnya aku memaksakan kehendak untuk dijodohkan dengan seseorang. Toh, selama ini alhamdulillah perasaanku dalam kondisi netral, tidak ada rasa kepada salah seorang laki-laki pun. Namun, aku juga harus meminta pendapat dari orang tua terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Oleh sebab itu aku harus sesegera mungkin mendiskusikan dengan orang tua. Setelah dirasa cukup berdoa, bergegas aku menuju dapur untuk membantu ibu.
“Bu, ada laki-laki yang ingin melamar Rina,”aku pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Laki-laki itu siapa? Orang mana?,”tanya ibu lebih lanjut. Semua pandangan tertuju padaku karena bapak dan adik juga ada di dapur.
“Cie....cie...,”adikku mulai menggoda.
“Kakak angkatan Rina saat kuliah dulu, orang Yogya. Sekarang mengajar di SDIT di Yogya juga.
“Kamu dah yakin? Tapi nunggu kamu selesai kuliah dulu ya,”pinta Bapak menyela pembicaraan.
“Kalau perlu Masnya diminta ke rumah dulu, kenalan sama Bapak dan Ibu,”tambah ibu.
“Inggih Pak, Bu,”balasku singkat.
            Tidak lama kemudian, masakan telah matang. Lantas kami makan siang bersama. Sungguh suasana yang penuh keakraban di dalam sebuah keluarga. Setelah makan, biasanya kami istirahat siang. Maklum, di keluargaku hari Ahad digunakan untuk rehat karena di hari lain kami full bekerja di luar rumah.
Gimana dik? Apa jawabanmu?,salah satu isi pesan dari Mas Irvan yang baru saja kubuka. Sejak dua jam yang lalu dia mengirimkan pesan itu.
Njenengan diminta bapak dan ibu untuk datang ke rumah. Beliau ingin kenalan dengan njenengan dulu, jawabku. Memang setiap kali aku berkomunikasi dengan lawan jenis, bahasa yang kugunakan selalu lugas, tegas dan to the point.
“OK. Kalau begitu minggu depan insha Allah saya akan ke rumahmu, bisa kan? balasnya lagi.
Insha Allah bisa, jawabku.
            Malampun bertandang. Banyak sekali tugas sekolah yang harus kuselesaikan. Terutama koreksian ulangan dari anak-anak. Sebentar lagi juga UTS. Masih ada beberapa materi yang harus kusampaikan. Kupejamkan mata, berharap di sepertiga malam bisa bangun untuk menunaikan sholat malam dilanjutkan dengan sholat Istikhoroh. Tak lupa untuk terus memohon petunjuk Allah agar diberikan pilihan terbaik.
           

                                    @                    @                    @


            Hari-hari kulalui begitu cepat, tidak terasa memang. Tiba-tiba satu minggu kulalui dengan penuh warna. Rasa susah, senang bercampur menjadi satu. Ada-ada saja yang kualami ketika harus mendampingi anak-anak. Hari Ahad pun tiba kembali.        
“Nanti jadi datang jam berapa Rin Masnya?,”tanya ibu sambil bersih-bersih rumah.
“Sore katanya Bu,”jawabku dengan membantu beliau.
            Walaupun akan ada laki-laki yang datang ke rumahku, perasaanku biasa saja. Padahal ini adalah pengalaman pertama seorang laki-laki berniat ingin memperkenalkan dirinya kepada orang tuaku. Karena ini kedatangannya yang pertama kali, Mas Irvan tidak serta merta langsung menyampaikan niatannya itu.
            Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. seperti janji Mas Irvan sebelumnya. Suara motor diparkirkan di depan rumah. Kulihat dari dalam, ternyata Mas Irvan sudah datang.
Assalamu’alaykum,”sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaykumussalam, mari masuk Mas,”bapak langsung mempersilakan Mas Irvan masuk.
            Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam sambil membuatkan minum. Tidak lama kemudian aku pun keluar dengan membawa senampan minuman dan camilan. Di ruang tamu sudah ada Mas Irvan, ibu, bapak dan adik. Setelah itu aku ikut duduk bersama mereka.
            Sebagai awalan, obrolan ringan pun terjadi. Antara Mas Irvan, bapak dan ibu saling bertukar informasi untuk lebih saling mengenal. Mas Irvan menceritakan secara detail terkait kondisi pribadi dan sekaligus kondisi keluarganya. Begitu juga dengan bapak dan ibu. Aku dan adik diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah dirasa cukup, Mas Irvan pun berpamitan pulang. Keburu sore karena beliau langsung pulang ke Yogya.
            Sepulangnya Mas Irvan, terjadi obrolan lebih lanjut dengan kedua orang tua.
“Gimana Rin? Apakah kamu sudah yakin?,” tanya ibu dan bapak.
“Kalau bapak menilai, orangnya baik, agamanya pun juga bagus, sekarang terserah Rina,”bapak memberikan penegasan.
“Rina insha Allah bersedia Pak,”jawabku tenang.
“Tapi ingat, pesan bapak dan ibu, Rina nikahnya tetep setelah lulus kuliah,”pinta Ibu.
            Memang, selain ngajar baru dua bulan ini aku menjalani perkuliahan semester pertama di Program Pascasarjana UNY. Tidak mengherankan jika orang tuaku menginginkanku untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Karena beliau paham, ketika menikah nanti akan bertambah amanah dan tanggung jawabku sebagai seorang istri. Ditambah lagi kalau Allah menganugerahiku seorang anak pertama, semakin bertambah tanggung jawabku. Selain sebagai seorang istri juga sekaligus sebagai seorang ibu.
            Jika aku menikah sebelum studi selesai, orang tua khawatir akan mengganggu konsentrasi kuliahku.karena banyak sekali pengalaman yang sudah terjadi, bahwasannya seorang wanita yang menikah di sela-sela studinya, tidak sedit mereka yang penyelesaian studinya semakin molor. Orang tuaku tidak mau hal itu terjadi padaku. Walaupun aku sendiri tidak masalah dan siap dengan apapun kondisinya. Namun, aku berusaha untuk memahami perasaan orang tuaku. Orang tua yang lebih berpengalaman dan lebih banyak makan garam. Di mana-mana orang tua menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya.
           

                                    @                    @                    @


            Tiga pekan sejak kedatangan Mas Irvan, doa-doa selalu kupanjatkan. Tiba-tiba terdengar pesan singkat di Hpku.
Gimana dik tanggapan orang tua? SMS dari Mas Irvan menanyakan perkembangan dari kedatangannya.
Orang tua memberikan respon positif, balasku.
Kamu sendiri bagaimana? Menerimaku tidak? Tanyanya lagi
Insha Allah saya terima, balasku.
lanjut.
Silakan, jawabku.
            Kembali aku semakin disibukkan dengan tugas-tugas. Selain tugas sekolah, masih ditambah dengan tugas kuliah. Program Pascasarjana memang menuntut mahasiswanya untuk mandiri. Lebih banyak pemberian tugas daripada penyampaian materi dari dosen. Aku mengambil kuliah week end Sabtu-Ahad.  Jadi sama saja selama satu minggu full aku PP Klaten-Yogya.
            Suatu hari....
“Rin, kamu kenapa? Sakit?,”tanya ibu khawatir.
“Rina pusing Bu,”jawabku sambil terbaring di tempat tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
“Apa kamu izin saja ya ngajarnya?,”ibu memberiku saran.
“Iya Bu,”lantas akupun mengetik pesan singkat yang kukirmkan kepada Wakil Kepala bagian kurikulum.
Selama dua hari aku mengharuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Sepertinya memang kecapekkan, karena ini juga masih masa adaptasi antara mengajar dan kuliah.  Selesai makan, lalu minum obat yang diberikan oleh bu dokter.  Seketika itu juga aku teringat bahwa minggu ini Mas Irvan akan datang untuk melamarku. Bapak dan ibu sudah kuberitahu Ah....aku serahkan semuanya pada-Mu ya Allah....,batinku sambil menarik selimut untuk bergegas tidur dengan harapan besok sudah kembali pulih. Kasihan anak-anak kalau kutinggal terlalu lama.
Hari lamaran pun tiba.. tidak menyangka kalau Mas Irvan langsung mengajak keluarganya ke rumahku. Kami menyambut kedatangan mereka. Alhamdulillah kesehatanku telah membaik. Tanpa menunggu lama prosesi lamaran pun dimulai. Suasana yang khidmat. Dalam hati ada getaran yang menyusup. Entah getaran apa ini. Apakah dikarenakan ini adalah lamaranku yang pertama.
Di tengah-tengah perbincangan kami, ternyata pihak keluarga Mas Irvan menginginkan untuk akadnya dipercepat, paling lama sebelum Ramadhan. Tak lupa juga menjelaskan alasannya. Sedangkan orang tuaku tidak bisa memaksakan kehendak bahwasannya Mas Irvan harus menungguku sampai selesai kuliah. Karena masih terlalu lamanya jangka waktu jika harus menungguku selesai kuliah.
Akhirnya dibuat kesepakatan mengenai hari-H yang insha Allah akan diadakan bulan Maret. Terhitung tiga bulan lagi dari sekarang, bulan Desember. Selama jangka waktu tiga bulan itu kami sebisa mungkin harus bisa menjaga perasaan kami satu sama lain.  Tidak lama kemudian prosesi pun selesai. Alhamdulillah....akhirnya dapat berjalan lancar,dalam hatiku.


                                    @                    @                    @


            Waktu terus berjalan. UAS selama dua minggu telah kulalui. Sekarang sudah menginjak bulan Februari, tinggal satu bulan lagi aku akan menyempurnakan separuh dien. Terkadang merasa diri ini belum siap untuk menghadapi hari suci itu. Semoga ini yang tterbaik, buatku dan buat keluargaku, batinku.
            Malam hari ketika aku berbincang-bincang dengan ibu.
“Rin...sepertinya kamu harus tahu,”ibu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
“Setelah kamu dilamar sama Mas Irvan, Bapak dan Ibu tidak bisa tidur nyenyak,”lanjut ibu.
“Seperti tiidak percaya saja, benar gak sih kamu akan menikah. Bapak dan ibu semakin gelisah apalagi ini kurang satu bulan lagi. Yang membuat Ibu dan Bapak gelisah itu gara-gara kamu nikahnya pas kamu belum selesai kuliahnya. Bapak dan Ibu benar-benar belum mengikhlaskan,”ibu memaparkan apa yang selama ini beliau dan bapak rasakan.
            Seperti disambar petir di siang bolong. Ya Allah...maafkan aku...ternyata aku egois, aku tidak memperhatikan perasaan orang tuaku,tangisku dalam hati. Aku tidak mau ibu melihat kesedihanku. Untung saja selesai bicara ibu segera keluar. Seketika itu juga aku segera tidur dan ingin meredam gejolak di hatiku.
            Di sepertiga malam, aku menagis sejadi-jadinya. Di atas sajadahku, tidak peduli mukenaku basah karena linangan air mataku.
Ya Allah....maafkan aku....maafkan jika aku belum bisa membahagiakan orang tuaku. Justru aku hampir saja mengecewakan beliau hanya karena aku tidak menuruti apa nasihat orang tuaku. Hamba tidak mau menikah dalam kondisi orang tua belum sepenuhnya ikhlas melepasku. Apakah ini pertanda dari-Mu bahwa Mas Irvan bukan jodohku? Karena selama ini yang aku inginkan adalah menikah atas dasar restu-Mu dan restu orang tuaku. Jika orang tuaku belum sepenuhnya ikhlas memberiku restu, lebih baik aku batalkan saja lamaran ini. Aku rela sakit hati daripada orang tuaku yang menanggung rasa sakit hatinya karena anak perempuannya tidak bisa menurut nasihatnya. Jadikan ini sebagai tanda baktiku kepada orang tuaku ya Rabb...walaupun selama ini aku belum bisa membahagiakan beliau, minimal hamba tidak menyakiti dan membuatnya kecewa. Aku berjanji setelah ini sebagai bentuk baktiku kepada kedua orang tuaku, aku belum menerima pinangan laki-laki jika orang tuaku belum sepenuhnya memberiku restu, saat khusyuk aku memanjatkan doa. Semoga ini jalan terbaik, walaupun sangat sakit kurasa. Tapi demi orang tuaku, aku rela berbuat apa saja asal bisa membuat orang tuaku tersenyum bahagia ketika melihat anak-anaknya berumah tangga.
            Keesokkan harinya, aku langsung mengirim pesan pendek kepada Mas Irvan.
“Maaf Mas, saya terpaksa memutus ikatan lamaran ini karena orang tua saya belum sepenuhnya ridho dengan rencana pernikahan kita bulan depan.”
“Tidak kusangka dik, rencana kita tidak sesuai denggan harapan. Ya sudah, tidak apa-apa, mungkin kita belum berjodoh. Saya ikhlas dengan keputusanmu. Tolong sampaikan permintaan maaf saya dan keluarga kepada bapak dan ibu.
“Iya Mas.
            Semenjak saat itu, sudah tidak ada komunikasi sama sekali dengan Mas Irvan. Maafkan saya Mas, saya telah menyakiti hati njenengan, membuat njenengan kecewa atas keputusan saya, dalam hatiku. Setelah aku memutus lamaran Mas Irvan, orang tuaku sudah bisa berpikir tenang kembali. Rasa was-was yang selama ini beliau rasakan hilang seketika. Alhamdulillah.....
Teruntuk sebuah nama dalam setiap doaku yang aku belum mengetahui siapa gerangan engkau....
Izinkan aku untuk memantaskan diri sebelum dipersandingkan denganmu...
Izinkan aku untuk memperbaiki diri sebelum mendampingimu....
Izinkan aku untuk mempersiapkan diri sebelum menjadi makmummu....