Selasa, 10 Desember 2013

Jika Aku Boleh Bertanya


Created by Kareen el-Qalamy



         Perjalanan hidup seorang wanita, belum terasa lengkap apabila belum ada pendamping hidup di sisinya. Walaupun semua nikmat hidup telah diraih, pendidikan dan karier telah didapat. Namun, masih terasa hampa dan sepi jika belum ada imam yang bisa membimbingnya.
            Do’a dan ikhtiar selalu dilakukannya. Akan tetapi sepertinya waktu perjumpaan dengan sang belahan jiwa belum kunjung datang. Dalam kondisi yang demikian ini dia terus bersabar menjemput takdir dengan indah. Walaupun godaan terus menghampiri, setan terus membisiki untuk mengotori proses sakral itu dengan bermain api.
            Kalaupun hanya sekadar keinginan menikah sudah dari dulu pernikahan itu  terjadi. Karena sudah berapa pria yang berusaha untuk meminangnya namun ia tolak. Wanita itu tidak hanya sekadar menolak tanpa adanya suatu kejelasan atau bahkan tanpa adanya suatu alasan. Wanita tersebut menolak dengan alasan birul walidain. Toh menikah kan tidak hanya sekadar bersatunya dua insan tetapi bersatunya dua keluarga. Kalau dari pihak keluarga memberi restu insyaAllah sang wanita pun tidak masalah.
            Saat ini wanita itu berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan kondisinya 2 tahun yang lalu. Jika mengingat kembali masa lalu 2 tahun silam, wanita itu pernah menaruh harapan kepada seorang pria. Pria sholeh taat beribadah, paham agama dan sangat menjaga adab pergaulan. 2 tahun silam wanita tersebut tidak pernah lupa untuk memanjatkan permintaannya agar Allah menjodohkan sang wanita dengan pria sholih itu.
            Alhamdulillah Allah secara perlahan membuka hatinya bahwa cara wanita tersebut meminta itu kurang benar. Kalau minta dijodohkan itu sama saja memaksa Allah. Padahal kita hanya sekadar manusia, makhluk penuh dosa, apa hak manusia memaksa Allah sang pemilik manusia?
            Untuk sekarang sang wanita itu sadar, dia lantas sedikit demi sedikit berusaha menghilangkan pengharapannya kepada pria sholih itu. Dia lantas berusaha untuk bersikap ikhlas menerima siapapun yang nantinya Allah takdirkan untuknya. Walaupun terkadang memori sang wanita terhadap pria sholih itu terkadang muncul. Ketika memori terhadap pria itu muncul, sang wanita berusaha untuk menepisnya kuat-kuat, dengan alasan jangan sampai pengharapan itu muncul kembali. Namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya sang wanita masih mendambakan pria sholih itu.
            Wanita itu haanya bisa mencurahkan isi hatinya kepada sang pemilik hati, Allahlah yang paling memahami segala isi hati. Satu pertanyaan yang masih bergelayut di dalam pikirannya, apakah pria sholih tersebut memiliki perasaan yang sama seperti halnya yang dirasakan oleh sang wanita? Tidak ada yang tahu kecuali pria sholih itu dan Allah. Maka sang wanita itu membenahi cara berdo’a tidak dengan nada pemaksaan kepada Allah, tetapi,”Jika Aku Boleh Bertanya”, apakah benar pria sholih itu nanti yang akan menjadi jodohku (baca: sang wanita)? Kalaupun benar ya Allah, maka dekatkanlah, tetapi jika tidak maka jauhkanlah, jangan sampai hati dan pikiran sang wanita terkotori hanya karena teringat akan seseorang yang belum pasti kelak menjadi miliknya ataukah tidak.

Sabtu, 07 Desember 2013

Rasanya di Luar Zona Nyaman



Presented by Kareen el-Qalamy



Seseorang yang sudah terbiasa di lingkungan yang baik tentu akan merasakan hal yang biasa. Biasa dengan aktivitas-aktivitas kebaikan. Perilaku atau karakter terbentuk salah satu faktornya adalah lingkungan tempat tinggalnya. Kalau lingkungan tempat tinggalnya kondusif dan baik maka orang tersebut akan tumbuh menjadi pribadi yang baik pula. Pribadi yang baik ini tentu melakukan perbuatan atau tindakan yang baik pula. Oleh sebab itu perlu adanya pembiasaan terhadap suatu hal yang baik.
            Lain halnya jika orang yang mempunyai pribadi baik yang awalnya tinggal di lingkungan yang baik dikarenakan suatu hal akhirnya berpindah ke suatu lingkungan yang kurang baik. Tentu membutuhkan perjuangan ekstra untuk mempertahankan kebiasaan baik yang selama ini dilakukannya. Hal itu dikarenakan banyaknya godaan yang muncul dari lingkungan yang kurang baik. Akan lebih baik lagi jika dapat mengubah lingkungan yang kurang baik menjadi lingkungan yang baik. Kalau tidak bisa atau belum mampu, minimal memproteksi diri sendiri agar tidak mudah larut. Berusaha mewarnai tetapi tidak ikut terwarnai.
            Bersyukurlah bagi siapapun yang tinggal di lingkungan baik karena itu bisa menjadi sarana untuk mempertahankan keistiqomahan. Bagi mereka yang tinggal di lingkungan yang kurang baik justru menjadi tantangan bagaimana caranya dapat merubah. Apalagi orang tersebut awalnya menempati posisi penting di lingkungan yang baik, tentu menjadi hal yang sayang jika tidak melanjutkan perjuangan walaupun sekarang berada di lingkungan kurang baik. Oleh sebab itu memang benar adanya membuat panggung sendiri lebih sulit dari pada mengisinya

Minggu, 24 November 2013

Dinasti Politik = Nepotisme ?





Akhir-akhir ini kosa kata dinasti politik mencuat setelah tertangkapnya ketua MK terkait kasus korupsi yaang menyeret nama Bupati Banten (Pasti dah tahu namanya). Sebenernya apa sih yang dimaksud dengan dinasti politik? Kalau dalam istilah KKN ada istilah Nepotisme, apakah sama antara nepotisme dan dinasti politik? Untuk lebih mudah memahaminya sebaiknya mencari tahu terlebih dahulu pengertian dari masing-masing kata tersebut.
Nepotisme
            Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Kata ini biasanya digunakan dalam konteks derogatori.
Sebagai contoh, kalau seorang manajer mengangkat atau menaikan jabatan seorang saudara, bukannya seseorang yang lebih berkualifikasi namun bukan saudara, manajer tersebut akan bersalah karena nepotisme. Pakar-pakar biologi telah mengisyaratkan bahwa tendensi terhadap nepotisme adalah berdasarkan naluri, sebagai salah satu bentuk dari pemilihan saudara.
Kata nepotisme berasal dari kata Latin nepos, yang berarti “keponakan” atau “cucu”. 
            Itu tadi baru sebatas pengertian nepotisme. Kalau ditarik kesimpulan nepotisme suatu tindakan pengangkatan seseorang yang masih memiliki ikatan keluarga untuk menempati kursi jabatan tertentu bukan berdasarkan kualifikasi. Sedangkan pengertian dari dinasti politik sendiri akan dibahas dalam paragraf selanjutnya.
            Dinasti Politik atau Politik Dinasti
Belakangan ini isu politik dinasti kembali menguat sejak Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Operasi tersebut terkait penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar terkait Pemilukada Kabupaten Lebak, Banten yang melibatkan kerabat Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah .
Menariknya, Kabupaten Lebak tersebut diketahui dikuasai oleh politik Dinasti Jayabaya yang merupakan Bupati Lebak selama dua periode yang kemudian memajukan putrinya yang dikenal sebagai Iti Jayabaya. Dinasti lain di Banten adalah keluarga Ismeth Iskandar di Kabupaten Tangerang, Wahidin Halim di Kota Tangerang serta Dimyati Natakusumah di Pandeglang.
Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN), Bara Hasibuan membandingkan dengan kasus yang sama di negara-negara demokrasi maju. Dia pun menilai politik dinasti merupakan suatu hal yang wajar. "Di Amerika Serikat kita mengenal keluarga Kennedy, keluarga Gandhi di India, dan keluarga Aquino di Filipina. Keluarga-keluarga tersebut berasal dari negara-negara dengan tingkat gradasi demokrasi yang berbeda. Ini menjadi suatu fakta bahwa aktivitas politik yang berbasis keluarga tak menjadi masalah, selain juga bahwa hak individu untuk berpartisipasi dalam berpolitik," kata Bara di Rumah Gagasan PAN, Jakarta Selatan, Selasa (22/10).
Kendati demikian, menurut Bara seharusnya kekuasaan tak boleh menumpuk pada suatu kelompok atau keluarga agar prinsip check and balance dalam berdemokrasi bisa berjalan dengan baik agar semua pihak bisa berpartisipasi setara dalam berpolitik.
"Oleh sebab itu, politik dinasti juga dianggap menjadi hambatan para pihak untuk berpartisipasi dan melakukan koreksi. Apalagi jika demokrasi itu sendiri baru sampai pada tahap pembudidayaan, demokrasi pada tahap awal perlu dijaga dan dirawat," ujarnya.
"Karenanya, politik dinasti pada tahap itu harus diatur dan tak dapat dibebaskan begitu saja. Atas dasar tersebut, hak-hal politik warga negara untuk mencalonkan dan dicalonkan menjadi wajar untuk diatur, termasuk dibatasi," papar Bara. Sementara itu menurut pengamat politik yang juga hadir dalam diskusi terbatas tersebut, Hamdi Muluk, mengatakan bahwa politik dinasti terjadi lantaran kebobrokan budaya Indonesia yang sejak dulu sudah kacau, dari kultur nepotisme hingga kolusi keluarga. Selain itu orang-orang kotor juga dinilai telah berkumpul di partai politik. Hal tersebut bisa semakin membuat politik dinasti semakin kuat.
"Kebobrokan kultur kita itu kacau, watak kita buluk, karena sistemnya nggak tertata dan hukum enggak jalan. Orang-orang yang disebut free rider itu sekarang banyak di partai politik, itu mereka jajah semua sistemnya," imbuh Hamdi.
Politik dinasti dalam jabatan kepala dan wakil kepala daerah sesungguhnya terjadi secara luas. Puluhan kepala daerah terpilih ataupun gagal dalam pilkada terindikasi punya hubungan kekerabatan dengan pejabat lain. Hal itu dinilai sebagai ”cacat bawaan demokrasi”.
Berdasarkan penelusuran Kompas, setidaknya ada 37 kepala daerah terpilih yang memiliki hubungan kekerabatan dengan pejabat negara lain. Mereka tersebar di Provinsi Lampung, Banten, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Maluku.
Sebagian kerabat meneruskan jabatan yang sama. Bupati Indramayu Anna Sophanah meneruskan jabatan dari suaminya, Irianto MS Syafiuddin. Demikian pula dengan Bupati Kendal Widya Kandi Susanti, Bupati Bantul Sri Suryawidati, Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari, dan Bupati Kediri Haryanti Sutrisno, yang melanjutkan posisi suami masing-masing. Adapun Mohammad Makmun Ibnu Fuad menggantikan ayahnya, Fuad Amin, sebagai Bupati Bangkalan.
Pola lainnya adalah maju dalam pilkada dengan posisi berbeda sehingga dinasti politik bisa terbangun lebih besar. Contohnya, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP, sedangkan anaknya menjadi Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza. Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang dan anaknya, Ivan SJ Sarundajang, Wakil Bupati Minahasa. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, dan adiknya, Ichsan Yasin Limpo, Bupati Gowa.
Contoh lebih luas adalah dinasti politik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Keluarganya menjabat Wakil Bupati Pandeglang, Wali Kota Tangerang Selatan, Wakil Bupati Serang, dan Wali Kota Serang. Data tersebut belum memasukkan kekerabatan yang duduk di lembaga legislatif.
"Kementerian Dalam Negeri sebenarnya sudah mensinyalir kekerabatan dalam jabatan kepala/wakil kepala daerah sejak lama. Sedikitnya ada 57 kepala/wakil kepala daerah yang berhubungan keluarga. Karena itu, kami mengusulkan pembatasan kerabat yang mencalonkan diri dalam pilkada. Bahkan, kalau DPR mau, pengaturan bisa dikembangkan untuk lebih dari satu posisi," tutur Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, di Jakarta, Jumat (18/10/2013).
Namun, sampai saat ini, DPR belum menyetujui usulan pemerintah. Justru DPR memilih ada pengetatan syarat kompetensi, rekam jejak, dan integritas alih- alih membatasi kerabat yang mencalonkan diri dalam pilkada.
Menurut Gamawan, UUD 1945 tidak melarang kerabat untuk mencalonkan diri dalam pilkada atau pemilu sebab setiap orang memiliki hak sama untuk memilih dan dipilih. Namun, disebutkan pula, pembatasan untuk menjamin hak dan kebebasan orang lain berdasarkan keadilan dan norma-norma lain seperti tercantum dalam Pasal 28 J (2).
Menurut pengajar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Haryadi, dalam konteks demokrasi langsung, kualitas kekuasaan terpilih adalah cermin kualitas sebagian pemilihnya. Ketika masyarakat masih sangat paternalistik, kerabat tokoh cenderung menjadi patron budaya, politik, dan ekonomi. Bahkan, tanpa manipulasi atau mobilisasi dalam pilkada, "hegemoni paternalistik" yang di banyak tempat masih kuat akan membawa kemenangan pada kerabat patron.
Itulah penjelasan terkait dinasti politik dikaitkan dengan fenomena atau fakta-fakta yang terjadi di Indonesia bahkan dunia. Dinasti politik sebenarnya hampir sama dengan nepotisme, mengangkat seseorang dari keluarga sendiri untuk menduduki sebuah jabatan di perintahan. Namun ada yang membedakan antara dinasti politik dan nepotisme. Kalau nepotisme jelas melanggar aturan pengangkatan seseorang hanya karena masih terjalin hubungan kekerabatan secara langsung tanpa meengindahkan aturan yang berlaku. Sedangkan dinasti politik tidak secara mutlak dilarang. Dinasti politik sah-sah saja terjadi asal tetap mengikuti aturan main yang ditetapkan, misalnya dengan memenuhi kriteria atau persyaratan yang diberlakukan dan secara kualitas dan kemampuan diri juga memenuhi. Hal ini juga tidak membatasi hak asasi setiap orang untuk mencalonkan atau dicalonkan lalu dipilih. Walaupun orang tersebut masih terbilang kerabat asalkan memenuhi kriteria, berkompeten dan profesional di bidangnya dinasti politik sah-sah saja terjadi. Bagaimana dengan Anda?


Sumber:

Kamis, 14 November 2013

Hidup Untuk Memilih









Presented by Kareen el-Qalamy


Manusia menjalani kehidupannya di muka bumi ini bukan tanpa tujuan. Dalam firman-Nya di Q.S Adz-Dzariyat (51): 56 sudah tertera dengan jelas dan gamblang. Oleh sebab itu manusia tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang diberikan semasa hidup di dunia untuk berbuat sekehendak hatinya.
            Di sisi lain manusia juga diberikan fitrah untuk memilih jalan hidupnya. Hal ini dapat diketahui di Q.S Asy-Syams (91): 8-10Manusia diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya yang tidak terlepas dari segala konsekuensinya. Mau memilih jalan ketakwaan dengan selalu mensucikannya atau malah mengotorinya.
Sebagai makhluk yang diberikan akal dan kejernihan hati tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan. Apalagi memilih jalan hidup yang salah. Jalan hidup yang jauh dari petunjuk Allah. Oleh sebab itu buktikan dengan akal dan kejernihan hati dapat memilih jalan hidup yang sebaik-baiknya karena waktu hidup di dunia hanyalah terbatas.


Senin, 04 November 2013

Malioboro Surganya Pejalan Kaki


Presented by Kareen el-Qalamy



            Yogyakarta dengan banyak slogan di dalamnya. Kota Pelajar, kota Budaya dan yang lebih menonjol yaitu menjadi satu-satunya daerah yang mempunyai keistimewaan. “Yogya Berhati Nyaman”baru saja merayakan hari jadinya yang ke-257. Usia yang dianggap tidak muda lagi bagi berdirinya sebuah provinsi dengan lima kabupaten ini.
            Sejarah juga membuktikan bahwasannya Yogyakarta menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia di zaman penjajahan. Penduduk mana yang tidak bangga jika daerahnya dulu pernah dijadikan sebagai ibukota negara walaupun hanya sementara. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur Belanda masih berdiri kokoh menghiasi Yogya.
            Hal tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik itu domestik maupun manca. Tidak mengherankan jika Yogya dibanjiri turis di beberapa objek wisata. Yogya juga mempunyai banyak variasi objek wisata. Objek wisata bernuansakan alam, sejarah dan budaya.
            Ada yang menarik dari objek wisata budaya, yaitu Malioboro. Malioboro merupakan salah satu tempat yang berfungsi sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat Yogya. Mengapa tidak? Hal ini terbukti bahwasannya di sepanjang sisi jalan Malioboro dipadati oleh pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Barang dagangan yang dijajakan pun tidak sembarangan. Tidak mengherankan jika Malioboro menjadi referensi utama bagi para wisatawan untuk berburu oleh-oleh khas Yogya.
            Pada umumnnya wisatawan yang berkunjung ke objek wisata yang dipilih adalah dari segi kenyamanan. Malioboro sebagai salah satu objek wisata juga sudah selayaknya harus memperhatikan hal itu. Terutama kenyamanan bagi para pejalan kaki.
Saat ini Malioboro lebih dipadati oleh kendaraan baik itu beroda empat maupun beroda dua. Hal itu berdampak pada tidak adanya lahan parkir. Kalaupun ada, bukan lahan parkir sebenarnya yang dipakai namun trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki. Tidak hanya dipakai untuk lahan parkir tetapi juga dipakai untuk tempat berdagang. Hal ini sangatlah disayangkan.
Perlu adanya tindakan khusus dari pemerintah Yogyakarta untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Dibuat semacam peraturan daerah terkait Malioboro bebas kendaraan misalnya. Setelah itu perlu ditindaklanjuti dengan mencari dan menentukan tempat parkir yang layak sebelum memasuki kawasan Malioboro sebagai gantinya. Dengan demikian siapapun yang ingin berkunjung ke Malioboro harus memarkirkan terlebih dahulu kendaraannya di luar kawasan dan memasuki Malioboro dengan berjalan kaki.

Kamis, 17 Oktober 2013

Sang Pemangsa Predator


Presented by Kareen el-Qalamy


Sudah tidak disangsikan lagi bahwasannya Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Khususnya terkait kekayaan flora dan fauna. Beribu bahkan berjuta spesies flora dan fauna yang hidup tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Kekayaan alam ini tentu sangat menguntungkan bagi Indonesia karena bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk menopang kehidupan atau sebagai salah satu sumber penghasilan. Sektor perikanan, pertanian, perkebunan dan peternakan sudah membuktikan hal tersebut. Sangat beragamnya jenis ikan dan hewan laut merupakan komoditas dari sektor perikanan dan kelautan. Beranekaragam jenis tumbuhan layak konsumsi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian dan perkebunan. Bervariasinya hewan ternak yang dapat hidup di iklim Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sektor perikanan dimana masyarakat yang hidup di daerah pesisir tentu sangat menggantungkan hidupnya dengan berprofesi sebagai nelayan. Banyak sedikitnya penghasilan dari hasil melaut sangat bergantung pada banyak sedikitnya jumlah tangkapan dan jenis tangkapannya. Salah satu komoditas tangkapan nelayan yang paling menjanjikan yaitu ikan jenis hiu.
Ikan hiu menjadi komoditas tangkapan yang paling diminati karena terbukti akan kelezatan siripnya ketika diolah menjadi santapan. Ditambah lagi sirip ikan hiu mengandung khasiat sebagai penambah stamina dan orang yang mengkonsumsi sirip ikan hiu akan awet muda. Namun, ternyata khasiat yang selama ini disebut-sebut ada dalam sirip hiu tersebut hanya mitos belaka. Beberapa ahli kesehatan sudah membuktikannya.
Sekarang ini penangkapan hiu semakin marak dilakukan. Berdasarkan data dari Data FAO. Hiu telah menjadi perhatian global. Setidaknya 8,000 ton sirip hiu kering diperdagangkan secara global setiap tahunnya. Data FAO (2010) juga menunjukkan, Indonesia berada pada urutan teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia. Negara tujuan ekspor sirip ikan hiu diantaranya Cina dan Singapura. Padahal jelas-jelas sudah ada peraturan bertaraf internasional yang mengatur akan larangan perburuan ikan hiu tersebut. Ikan hiu dikhawatirkan akan mengalami kepunahan karena perburuan besar-besaran yang dilakukan hanya karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar.
Sumber dari Wikipedia menyebutkan ikan hiu adalah sekelompok (superordo Selachimorpha) ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap  dan tubuh yang ramping. Mereka bernapas dengan menggunakan lima liang insang (kadang-kadang enam atau tujuh, tergantung pada spesiesnya) di samping, atau dimulai sedikit di belakang, kepalanya. Hiu mempunyai tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari parasit, dan untuk menambah dinamika air. Mereka mempunyai beberapa deret gigi yang dapat digantikan.
Hiu mencakup spesies yang berukuran sebesar telapak tangan. Hiu pigmi, Euprotomicrus bispinatus, sebuah spesies dari laut dalam yang panjangnya hanya 22 cm, hingga hiu paus, Rhincodon typus, ikan terbesar yang mampu tumbuh hingga sekitar 12 meter dan yang, seperti ikan paus, hanya memakan plankton melalui alat penyaring di mulutnya. Hiu banteng, Carcharhinus leucas, adalah yang paling terkenal dari beberapa spesies yang berenang di air laut maupun air tawar (jenis ini ditemukan di Danau Nikaragua, di Amerika Tengah) dan di delta-delta.
Hiu umumnya lambat mencapai kedewasaan seksualnya dan menghasilkan sedikit sekali keturunan dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya yang dipanen. Hiu membutuhkan rentang waktu 2-3 tahun untuk bereproduksi. Keturunan yang dihasilkannya pun sangatlah sedikit karena hanya berjumlah 1-10 ekor anakan. Hal tersebut membutuhkan upaya keras dari berbagai pihak untuk melestarikan jenis ikan hiu atau kalau perlu diadakan konservasi dengan cara penangkaran hiu dari proses perkawinan sampai kelahiran anak hiu lantas ketika sudah waktunya dilepaskan kembali ke habitat aslinya.
Bisa dibayangkan jika hiu yang notabene menempati posisi rantai makanan teratas alias sebagai predator menghilang dari peredaran atau punah. Hal ini akan mengakibatkan terputusnya rantai makanan dan menimbulkan ledakan populasi jenis ikan yang berada di bawahnya. Terputusnya rantai makanan dan timbulnya ledakan populasi karena mereka tidak ada yang memangsa sehingga akan saling serang dan memangsa satu sama lain untuk memperebutkan makanan. Kalau sampai hal itu terjadi betapa kacaunya kehidupan bawah laut.
Indonesia sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengatur terkait pengelolaan sumber daya alam. Hal tersebut dapat dilihat dalam Bunyi pasal 33 UUD 1945 sebagai berikut : ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional dan ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Jadi sumber alam yang ada dikelola oleh negara secara adil agar dapat dimanfaatkan oleh rakyat dengan semaksimal mungkin.
UUD 1945 pasal 33 ayat 3 dan 6 ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus dibuat lagi semacam peraturan perundang-undangan yang secara khusus untuk melarang penangkapan ikan hiu. Lebih bagus lagi seperti apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah raja Ampat. Pemerintah daerah raja Ampat dengan tegas  mengeluarkan semacam peraturan daerah (perda) yang berisikan larangan penangkapan dan perdagangan ikan hiu. Akan lebih maksimal jika usaha dari pemerintah raja Ampat juga diikuti oleh daerah-daerah lain agar populasi ikan hiu dapat terselamatkan dan generasi mendatang masih menjumpai hewan predator ini.






Kamis, 26 September 2013

Waspadalah! CCTV di Mana-mana.



Presented by Kareen el-Qalamy

Era kemajuan teknologi yang sangat pesat memang membuat segala sesuatu yang dirasa impossible menjadi sebaliknya. Jika orang di masa lalu hidup di zaman sekarang tentu akan terheran-heran,”kok bisa ya?” Memang seperti itulah adanya. Diiringi dengan kemajuan ilmu pengetahuan mengakibatkan apa sih yang tidak mungkin di dunia ini.
            Dulu, ketika komunikasi jarak jauh dengan seseorang harus bertemu langsung alias menyambangi rumahnya, namun sekarang tinggal pencet saja sudah bisa tersambung dengan mereka yang ada di belahan bumi manapun. Seakan-akan sudah tidaak ada batasnya. Batas wilayah, negara bahkan benua sudah tidak lagi menjadi penghalang. Apalagi waktu, disaat seseorang membutuhkan informasi terkait apapun itu bisa ia dapatkan saat itu juga.
            Tidak hanya kebutuhan akan informasi dan kebutuhan untuk berinteraksi, kebutuhan untuk selalu mendapatkan rasa aman juga tidak terlepas dari campur tangan perkembangan IPTEK. Kebutuhan rasa aman yang diperoleh dari aparat keamanan sudah meenjadi hal yang lumrah. Namun, rasa aman yang disandarkan pada sebuah alat teknologi itu menjadi hal yang luar biasa.
            Tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya kamera CCTV atau lebih kerennya dengan sebutan kamera pengintai (maaf, tidak mencantunkan kepanjangannya, searching sendiri saja ya). Memang, di segala tempat, di setiap sudut tidak bisa lepas dari pemasangan CCTV. Apalagi di tempat-tempat umum dan penuh dengan keramaian. So, setiap gerak-gerik orang yang berada di kawasan yang ada CCTVnya tidak akan bisa luput dari pengintaiannya. Semuanya akan terekam dengan lengkap dan akurat.
            Di sisi lain CCTV itu kan cuma buatan manusia untuk mengawasi segala aspek kehidupan manusia terlebih lagi berkenaan penjagaan terhadap barang buatan manusia atau harta benda mereka. Manusia juga ada penciptanya, so manusia juga tidak terlepas dari pengawasan penciptanya. Akan tetapi mengapa manusia lebih takut dan cemas dengan CCTV yang hanya sekadar buatan manusia itu sendiri daripada pengawasan langsung dari sang Pencipta yang justru paling sempurna dan tidak ada yang menyamai kehebatannya.
            CCTV hanya bisa merekam adegan tertentu dan durasinya pun terbatas. Jika dibandingkan dengan CCTV Allah jelas kalah jauh. CCTV Allah bisa merekam setiap detik kejadian yang ada di segala penjuru tempat dan tanpa mengenal yang namanya kehabisan daya. Durasinya pun tak terbatas karena kejadian dari awal mula penciptaan bumi ini sampai nanti berakhirnya masih bisa terekam. Apalagi umur manusia yang sangat pendek, tentu tidak masalah. Dan semuanya itu nanti akan dibeberkan dan dimintai pertanggungjawaban ketika sudah datang saatnya nanti yaitu hari kiamat.
            Kalau dibayangkan, seandainya manusia menyadari bahwasannya setiap aktivitas yang mereka lakukan baik itu yang tersembunyi maupun terang-terangan, baik sekecil apapun itu sampai sebesar apapun itu pasti akan terekam oleh CCTV Allah tentu tindak kriminal dan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) sangat minim. Pemerintah juga akan menghemat anggaran negara. Terciptanya dunia yang aman, tentram dan penuh kedamaian tentu akan segera terealisasi. So, waspadalah, CCTV ada d mana-mana.
           
            

Selasa, 17 September 2013

Personal Prophetic Leadership (Perpec-L)



Presented by Kareen el-Qalamy



Tidak terasa hampir mendekati tahun 2014. Nuansanya pun terasa semakin memanas. Mengapa tidak? Entah itu di media masa atau di lingkungan sekitar tempat tinggal sudah marak bertebaran foto-foto dengan slogannya masing-masing. Orang yang ada di foto tersebut tentu berharap dengan sangat mayoritas masyarakat memilihnya.
            Apabila mencoba untuk flash back, berarti Indonesia akan memiliki presiden untuk yang ke-8 kalinya. Dari masa pemerintahan presiden pertama sampai ke-7 tentu mempunyai gaya kepemimpinan masing-masing. Kesekian gaya kepemimpinan tersebut tentu juga membawa dampak tersendiri bagi kondisi bangsa selanjutnya.
            Gaya kepemimpinan berdasarkan motivasi terbagi menjadi dua, yaitu gaya kepemimpinan bersifat ekstrinsik dan gaya kepemimpinan bersifat intrinsik (Fry, 2003 & 2005) Kalau dicermati lebih lanjut, gaya kepemimpinan presiden Indonesia sejak dulu termasuk dalam kategori gaya kepemimpinan ekstrinsik. Sepertinya, untuk presiden yang akan terpilih mendatang perlu mencoba gaya kepemimpinan intrinsik.
            Gaya kepemimpinan intrinsik perlu dicoba untuk diterapkan di Indonesia karena melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk apabila dilihat dari segi moralnya. Maraknya kasus korupsi dan tindak kriminal yang terjadi salah satu penyebabnya bisa jadi dikarenakan kesalahan pemilihan gaya kepemimpinan. Selama ini gaya kepemimpinan yang diterapkan bersifat ekstrinsik dimana belum belum menyentuh sisi terdalam dari individu maupun pemimpin itu sendiri, yaitu aspek spiritual (rohaniah), padahal dalam diri manusia terdapat aspek bio, psiko, sosial, dan spiritual yang tidak terpisahkan satu sama lain.
            Salah satu jenis gaya kepemimpinan intrinsik yaitu gaya kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik memiliki kesamaan sumber dengan gaya kepemimpinan spiritual, yaitu nilai-nilai dan keyakinan individu terhadap nilai-nilai agama atau paham lainnya. Kemudian kepemimpinan profetik melibatkan kesadaran otonomi dan intrinsik individu dalam melakukan aktivitasnya. Gaya kepemimpinan profetik tidak lepas dari nilai kepemimpinan yang ada pada Nabi Muhammad saw. Sifat kepemimpinan Rasulullah yang sangat terkenal ialah 1) Shidiq (benar), 2) Tabligh (menyampaikan), 3) Amanah (dapat dipercaya/jujur), dan 4) Fathanah (cerdas dan bijaksana). Lebih dari itu, keberhasilan kepemimpinan Rasulullah adalah karena ia memiliki akhlak yang terpuji (akhlaq karimah).
            Perbedaan gaya kepemimpinan spiritual tentu ada jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan intrinsik yang lain. Perbedaannya yaitu gaya kepemimpinan intrinsik bersifat syar’iyyah. Kepemimpinan profetik yang bersifat intrinsik plus syariah (Pro+) ini merupakan integrasi antara motivasi intrinsik individu dengan motivasi Ilahiyah yang keduanya berdimensi dunia (hasanah – happines) dan akhirat (salamah – salvation), sehingga hal itu memunculkan aktivitas kehidupan individu, kelompok dan organisasi secara intrinsik. Gaya kepemimpinan profetik inilah yang sangat diperlukan oleh setiap individu dan bangsa Indonesia dalam menata karakter bangsa menghadapi problematika yang semakin beragam.
            So, sebagai warga negara yang baik hati dan tidak sombong sangat dianjurkan untuk bisa mengenali calon-calon pemimpin kita. Minimal memberikan penilaian dari sepak terjang mereka selama ini apakah mereka sudah bisa mengamalkan nilai-nilai kepemimpinan Rosulullah ataukah belum atau malah pernah melukai hati rakyatnya? Jangan sampai memilih kucng dalam karung ya...

Sumber: Ahmad Yasser Mansyur,” PERSONAL PROPHETIC LEADERSHIP SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN KARAKTER INTRINSIK ATASI KORUPSI Jurnal Pendidikan Karakter, Tahun III, Nomor 1, Februari 2013
            

Minggu, 15 September 2013

Budaya Kekerasan di Kalangan Pelajar



Presented by Kareen el-Qalamy


           Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa marak berisikan terkait kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. Banyaknya tawuran yang terjadi di kalangan pelajar memunculkan pertanyaan,”Ada apa dengan pelajar kita sekarang?” Pelajar sekarang sangat mudah tersulut emosi hanya dikarenakan hal sepele, misal saling ejek yang berujung pertikaian bahkan sampai memakan korban jiwa. Tidak hanya tawuran, oknum kepolisian sering menangkap basah pelajar yang membawa senjata tajam ke sekolah. Itu kan sangat berbahaya apabila disalahgunakan.
            Hal tersebut tentu membuat miris khususnya bagi para orang tua. Tidak sedikit nyawa melayang sia-sia. Padahal pelajar adalah tumpuan sebuah bangsa yang nantinya akan menjadi pelaku peradaban selanjutnya. Kalau permasalahan sepele saja mereka menghadapinya dengan kekerasan apalagi menyikapi permasalahan besar kelak jika menempati posisi-posisi strategis dalam tataran negara. Mau menjadi apa negara ini?
            Lantas siapa yang patut bertanggung jawab terhadap kondisi demikian? Tidak usah jauh-jauh deh. Coba kita tengok kondisi keluarga yang ada di sekeliling kita atau malah keluarga kita sendiri. Budaya kekerasan sering muncul dikarenakan pelajar - yang berkedudukan sebagai anak di sebuah keluarga -  kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tua sehingga mereka melampiaskan rasa kekurangperhatiannya kepada hal-hal yang tidak semestinya.
Anak juga membutuhkan belaian kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Tidak hanya sekadar pemenuhan kebutuhan dan fasilitas hidup yang lengkap. Karena kalau hanya seperti itu hanya akan membentuk anak menjadi pribadi yang tidak mempunyai perasaan. Anak akan mempunyai rasa cinta, sayang ketika mereka juga bisa merasakannya dari orang tuanya karena orang yang pertama kali dilihat ketika anak lahir ke dunia adalah orang tua. Jadi, sudah sepantasnyalah orang tua yang memberikan porsi perhatian yang lebih besar untuk senantiasa mendidik, mengawasi dan mengerti perasaan mereka. Berawal dari kondisi keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang terlahirlah anak-anak yang humanis pula.
            


Rabu, 04 September 2013

Sebuah Perjalanan


Presented by Kareen el-Qalamy


Perjalanan bersama teman setiaku sudah biasa kulakukan. Menikmati indahnya pemandangan sepanjang perjalanan dengan menaiki kuda merahku yakni sepeda motor Supra Merah seakan-akan sudah menjadi rutinitas. Dimanapun tempatnya dan acara apapun itu. Terkadang ada rasa jenuh ingin mencoba menaiki alat transportasi lain.
            Suatu ketika tidak direncanakan. Pasca munaqosyah/pendadaran skripsi seperti yang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya. Istilah Jawanya boyongan barang-barang yang sudah tidak terpakai di kos untuk dibawa pulang ke rumah. Tetapi belum semua, hanya sebagian saja. Saat itu hari sudah malam tidak mungkin juga aku mengikutsertakan kuda merahku. Akhirnya kuda merahku kutinggal di kos karena besok aku sudah akan kembali ke Yogya lagi.
            Keesokan harinya sambil menunggu hari beranjak siang karena rumahku tidak dijangkau oleh transportasi umum. Hal ini menyebabkan aku meminta tolong kepada ayah untuk mengantarku sampai di stasiun Klaten karena dari situlah aku bisa naik bus. Bus yang kutunggu-tunggu tidak langsung datang menghampiri. Ternyata lebih membutuhkan banyak waktu dari pada naik kuda merahku, batinku. Setelah beberapa menit akhirnya bus jurusan Solo-Yogya pun akhirnya datang juga.
            Sambil berpamitan dengan ayah, aku pun langsung naik ke dalam bus. Suasana bus yang tidak terlalu penuh oleh penumpang sehingga aku masih mendapatkan tempat duduk. Aku lantas mengambil tempat duduk bersebelahan dengan seorang ibu. Nampaknya seorang diri, pikirku.
            Secara tiba-tiba sang ibu bertanya kepadaku,” Ke Yogya? Kuliah ya?”
            “Iya Bu,”jawabku dengan singkat, padat dan jelas.
            Setelah itu suasanapun menjadi hening kembali kecuali suara bus yang menderu-deru memecah kepadatan jalan. Selain itu beberapa pengamen bergantian keluar masuk bus dengan niatan menghibur penumpang selain sekadar mencari nafkah. Dari sekian pengamen ada pengamen perempuan. Kelihatannya masih muda, namun sayang penampilannya tidak terawat. Dia lantas mendendangkan sebuah lagu. Lagu dangdut yang aku tidak hafal judulnya tetapi tidak asing di telinga.
            Secara spontan ibu yang duduk di sebelahku berkomentar terkait lagu dangdut yang sedang dinyanyikan,” Lha kok yo pas banget karo nasibku saiki???” Berbicara dengan logad jawa yang nampaknya sudah fasih, namun dilihat dari raut mukanya seperti orang luar jawa.
            Aku pun memberanikan diri untuk ngobrol dengan sang ibu,”Ibu asalnya mana?”
            ”Jambi mbak, tapi bojoku wong Prambanan. Aku lagi wae pisah cerai karo bojoku, ditinggal selingkuh neng Semarang. Padahal wis duwe anak telu mbak, bayangno...,” ternyata sang ibu baru saja mengalami pengalaman pahit dalam kehidupan rumah tangganya. Secara perlahan air mata pun meleleh membasahi kedua matanya. Apa yang mesti kulakukan?, batinku. Ingin rasanya aku menghibur sang ibu, namun bingung bagaimana caranya. Akhirnya aku hanya bisa menyodorkan tissue, setidaknya bisa menghapus air mata yang terlanjur jatuh.
            Kok yo lagumu kuwi nyindir aku tenan ta mbak?” sang ibu kembali berkomentar terkait lagu yang dinyanyikan oleh pengamen perempuan itu. Aku mencoba mendengarkan dengan saksama. Ternyata benar lagu itu memang menceritakan tentang perpisahan antara suami dan istri, sedangkan pihak istri merasa sangat tersakiti dengan perbuatan yang telah dilakukan suami. Pantas jika sang ibu semakin deras air mata yang mengucur ke pipinya dikarenakan lagu yang ia dengarkan sesuai dengan apa yang baru saja dialaminya.

            Andai saja aku bisa melakukan sesuatu agar ibu itu tidak larut dalam kesedihan, batinku. “Aku saiki lagi arep memperjuangkan hak anakku mbak. Ben bojoku ora sewenang-wenange dhewe ninggalke ngono wae. Anakku berhak entuk penghidupan sing layak,”ujar sang ibu.”Inggih Bu,” komentarku secara singkat karena bingung mau menanggapi bagaimana lagi. Dalam hati aku hanya bisa berdo’a,”Ya Allah, tabahkanlah ibu ini, berikanlah jalan keluuar yang terbaik untuk menyelesaikan permasalahannya.” Tidak terasa bus sudah memasuki kawasan Prambanan. Tanpa berkata-kata kepadaku, sang ibu langsung turun dari bus dan leenyap dari pandangan mataku. Semoga ada hikmah yang bisa kupetik dari sebuah perjalanan yang tidak biasa kulakukan dengan naik bus.

Senin, 02 September 2013

Kontes Kecantikan Justru Merendahkan Martabat Perempuan


Presented by Kareen el-Qalamy



Ini ni.....yang akhir-akhir ini memunculkan kontroversi dari berbagai kalangan. Bisa dilihat di sosmed, ramai banget membicarakan masalah Miss World yang akan diadakan tgl 8 September dan baru pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah, tuan rumah kok acara begituan???Apa bangganya coba??Yang ada malah malu-maluin.
            Terlepas dari dua belak pihak – antara yang pro dangan yang kontra – terkait masalah tersebut. Pengen melihat dari sisi lain dan ingin mengajak para muslimah untuk memikirkan dampak dari diselenggarakannya Miss World.
            Miss World lebih dikenal dengan kontes kecantikan sejagad. Kontes tersebut tentu tidak terlepas dari mempertontonkan aurat – yang sangat bertentangan dengan syariat Islam dan tidak sesuai dengan adab ketimuran – ini memang hasil budaya Barat. Budaya Barat yang sampai sekarang terbukti tidak bisa membawa tatanan masyarakat ke arah lebih baik tetapi semakin merusak semua sisi kehidupan umat manusia.
            Budaya Barat memang sengaja dihembuskan kepada negara-negara muslim khususnya Indonesia – yang menjadi negara no.1 dengan jumlah umat muslim terbanyak sedunia – tidak luput dari sasaran. Dalam surat cinta-Nya jelas-jelas disebutkan bahwasannya orang – orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang terhadap umat muslim sampai umat muslim sendiri mengikuti ajaran mereka. So, mereka melakukan segala cara agar umat muslim jauh dari inti ajaran Islam sendiri.
Apalagi setelah mereka paham bahwa di tangan pemuda muslimlah keberlangsungan Islam, apakah kelak Islam akan memperoleh kejayaannya kembali seperti halnya kejayaan yang pernah diraih tempo dulu atau malah semakin terpuruk. Maka, orang-orang kafir tidak menyia-nyiakan kesempatan salah satunya dengan berusaha merusak generasi pemuda Islam yang selama ini terkenal dengan 3F, Fun, Food and Fashion.
Mengerucut lagi terkait masa depan pemuda Islam yang di dalamnya masih ada himpunan bagian lagi yaitu pemudi Islam, muslimah muda. Muslimah muda sekarang ibaratnya terkepung dari segala penjuru. Lihat saja model-model hijab yang dibuat sedemikian rupa agar menyimpang dari hijab yang disyariatkan, pergaulan bebas semakin meraja lela, dan masih banyak lagi.
Berkaitan dengan Miss World, jelas-jelas itu sangat merendahkan, mencoreng bahkan menodai martabat perempuan terutama muslimah. Muslimah mana yang tidak merasa risih jika aurat yang selama ini kita berusaha menutupnya dipertontonkan dan dilihat oleh seluruh masyarakat dunia yang menyaksikan acara tersebut. Bahkan  tidak hanya dipertontonkan tetapi juga dipamerkan dan dinilai. Yang menilai pun tidak hanya juri tetapi penonton juga berhak untuk memberikan penilaian kira-kira perempuan dari negara mana yang paling cantik dan sexy.
Walaupun ada statement – dari mereka yang pro – penilaian Miss World tidak hanya kecantikan secara fisik akan tetapi yang lebih utama adalah kecantikan sosialnya dan bisa sekaligus memperkenalkan keindahan alam Indonesia di mata dunia, itu pun sama saja. dari pada menghabiskan dana untuk menyelenggarakan acara yang banyak mendatangkan mudharatnya ujung-ujungnya mubadzir, mending dipakai untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang teraniaya di Mesir, Suriah dan Palestina.
Pengadaan Miss World juga tidak terlepas dari tujuan-tujuan terselubung. Salah satunya ya itu tadi ingin merusak generasi pemuda muslim khususnya muslimahnya. Tujuan yang lain pengalihan perhatian masyarakat dunia khususnya Indonesia terkait negara-negara yangs edang mengalami konflik. Semoga pemerintah bisa menyikapi permasalahan tersebut dengan bijak dengan tetap memperhatikan aspirasi masyarakat khususnya yang kontra terhadap penyelenggaraan Miss World dan tidak menganggapnya sebagai angin lalu. Biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu peribahasa yang pas ditujukan kepada panitia penyelenggara Miss World. Walaupun banyak kecaman dari semua elemen tetapi tetap saja ngeyel mengadakan acara yang jelas-jelas merendahkan martabat perempuan Indonesia dan muslimah.

Senin, 26 Agustus 2013

Makna 17 Agustus



Presented by Kareen el-Qalamy



Apakah kita sudah benar-benar merdeka?
            Pertanyaan di atas menggelitik untuk dikaji apalagi bertepatan memasuki bulan Agustus (Ups...sorry kalau Agustusnya dah mo habis). Memang, setiap tahun di tanggal 17 Agustus kita pasti tidak pernah melewatkan moment bersejarah bangsa Indonesia. Ketika 68 tahun yang lalu bangsa ini bisa melepaskan diri dari cengkeraman penjajah selama 3,5 abad.
            Sebagai seorang warga negara kita patut bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah kita rasakan sekarang. Lantas bagaimana sih yang dimaksud dengan merdeka itu? Apakah hanya sekadar lepas dari cengkeraman penjajah saja atau bagaimana? Sudah 68 tahun bangsa ini merdeka namun apa yang sudah diperoleh atau pencapaian apa sajakah yang telah diraih bangsa ini?
            Berbagai pertanyaan muncul berkaitan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia tercinta. Namun apakah benar bangsa ini telah benar-benar merdeka seutuhnya?
Merdeka dari penjajahan segi militer dan fisik sih iya, namun segi budaya, pemikiran, ekonomi, pendidikan dll apakah sudah merdeka? Sepertinya belum. Dari segi budaya, lihat saja remaja kita sekarang lebih menyukai budaya luar negeri – terlebih Korean holic – dari pada budaya kita sendiri. Segi pemikiran, lagi-lagi remaja kita yang menjadi sasaran. Mereka dicekoki dengan pemikiran-pemikiran Barat yang berujung pada kerusakan moral. Di bidang ekonomi dan industri apalagi, bangsa kita hampir dibanjiri produk impor sehingga kepercayaan masyarakat terhadap produk dalam negeri menurun. Masyarakat kita lebih bangga jika bisa membeli produk luar negeri dengan harga yang sangat mahal daripada produk dalam negeri.
Itu baru sebagian kecil fenomena-fenomena yang terjadi. Lantas apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa lakukan aksi walaupun dinilai kecil yakni dengan mengisi kemerdekaan. Melakukan aksi sesuai dengan profesi kita masing-masing dan seprofesional mungkin. Salah satunya dengan gerakan,”Bangga dan Cintai Produk dalam Negeri”, “Bangga dan Cintai Kebudayaan dalam Negeri”, semoga bisa mengantarkan Indonesia kepada makna kemerdekaan sesungguhnya.

Senin, 29 Juli 2013

Nikah Dini or Free Sexs ???



Presented by Kareen el-Qalamy



             Pernikahan dini...
            Bukan cintanya yang terlarang...
            Namun waktu saja belum tepat...
            Merasakan semua...

            Saya yakin, pembaca semua tidak asing dengan satu bait syair di atas. Apalagi bagi Anda yang sering menonton televisi. Salah satu – yang saya temui – stasiun televisi swasta sering sekali menampilkan iklan yang intinya menganjurkan untuk tidak melakukan pernikahan dini, akan tetapi melakukan pernikahan ideal dimana masing-masing pasangan telah memenuhi kriteria usia ideal untuk menikah.
            Saya sempat tergelitik juga, sehingga ingin menuliskannya di sini. Khususnya yang berkaitan dengan free sexs. Atau dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan istilah pergaulan bebas. Mencuplik dari isian kultum saat tarawih, sang ustadz yang notabene bekerja di kantor Pengadilan Agama mengabarkan bahwasannya sampai saat ini dalam catatan Pengadilan Agama Yogyakarta telah terdapat sebanyak 40 pasangan yang menikah dini di Kabupaten Kota Yogya. Itu belum dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di DIY, seperti kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunung Kidul. Jika dibandingkan dengan dengan kabupaten lain, angka tersebut masih kalah. Justru di daerah Bantul, Kulonprogo apalagi GunungKidul lebih tinggi jumlahnya.
            Bagi para orang tua sudah semestinya timbul kekhawatiran terhadap putra-putrinya yang mau menginjak dewasa. Secara otomatis harus bisa meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak-anaknya. Selain itu juga semakin memperbesar porsi perhatian ke anak agar anak tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Karena kalau sampai anak kekurangan cinta dan kasih sayang dari orang tuanya, bisa-bisa mereka melampiaskan kepada hal-hal yang negatif dengan tujuan agar mereka bisa mendapatkan perhatian.
            Padahal, pemuda adalah tiang negara. Apa jadinya masa depan negara ini jika kondisi peemuda dan remajanya sudah bobrok? Kelak, mau tidak mau di tangan para pemudalah yang akan menggantikan posisi-posisi strategis (kekuasaan) di negara ini. Tidak bisa dibayangkan jika kelak negara ini dipimpin oleh orang-orang yang rusak akhlaknya.
            Namun, di sisi lain terkait dengan program pemerintah kalau dipikir dengan melihat kondisi real masyarakat sekarang sangatlah tidak sesuai. Di satu sisi pemerintah menganjurkan masyarakatnya untuk tidak melakukan pernikahan dini. Akan tetapi di sisi lain, seiring dengan perkembangan teknologi dan media yang begitu pesat – seakan-akan pemerintah tidak kuasa membendungnya – masuklah budaya Barat salah satunya free sexs.
Sungguh tidak sinkron, para remaja diminta untuk menjaga pergaulan dengan menahan diri untuk tidak nikah dini, akan tetapi remaja sendiri hampir setiap mata memandang tidak terlepas dari tontonan yang menyuguhkan syahwat, istilah populernya tontonan porno. Entah itu lewat media cetak, media elektronik sampai jejaring sosial. Tak ayal jika banyak remaja yang tidak bisa mengendalikan nafsunya lantas melakukan perbuatan dosa (zina).
Kalau hal tersebut terjadi, maka dengan terpaksa remaja tersebut harus dinikahkan walaupun dengan kondisi mental dan materi yang belum siap. Kalau fenomena seperti ini dibiarkan dan membudaya, tidak bisa dibayangkan kengerian yang akan terjadi, siap-siap menunggu datangnya azab Allah ketika perbuatan zina telah merajalela.
Perlu upaya serius untuk mencegah agar jumlah married by accident (MBA) tidak terus bertambah. Baik itu pemerintah maupun masyarakat harus saling bahu membahu bekerja sama untuk menanganinya. Pemerintah dengan kekuasaannya, setidaknya memfilter tontonan atau tayangan yang ada juga menyeleksi kira-kira tayangan seperti apa yang tidak hanya sekadar tontonan tetapi juga sekaligus tuntunan yang baik bagi generassi muda. Untuk masyarakat khususnya keluarga/orang tua, harus lebih perhatian terhadap putra/i-nya. Tidak hanya sibuk mencari uang untuk kebutuhan keluarga. Asal tahu saja, anak-anak tidak semata-mata bahagia hanya dengan harta yang melimpah, tetapi juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari para orang tuanya. So, nikah dini or free sexs? Mending  gak milih saja. Milihnya nikah ketika sudah siap, siap dalam segala hal. Dengan menikah, akan terjaga kehormatannya. Selain itu keberlimpahan barokah akan didapat. Dari pada free sexs  terus ujung-ujungnya nikah dini atau MBA. Bukan keberkahan yang didapat, tetapi menanggung ddosa seumur hidup dan tentu hal tersebut tidak akan mendatangkan kabahagiaan, yang ada hanyalah kesedihan dan penyesalan tiada ujung.

Jumat, 26 Juli 2013

Ramadhan Kenangan (Part 2)



Presented by Kareen el-Qalamy



Lanjut . . . . .
            Nuansa pedesaan yang asri, nyaman, tenang dan damai. Begitulah yang aku rasakan setelah selang satu minggu sejak penerjuan KKN. Nampaknya aku sudah mulai bersahabat dengan lingkungan alam di sini, Sawah, Girisekar, Panggang. Walaupun hawa dingin sering kali menyergapku, namun itu tidak mengurangi akan ikatan kekeluargaan yang mulai terjalin antara kami, mahasiswa KKN dengan warga setempat.
            Sungguh sangat berbeda dengan apa yang selama ini aku rasakan ketika Ramadhan di rumah. Ramadhan kali ini memang spesial. Apa yang aku rasakan semuanya berbeda. Dari bapak-bapaknya yang ramah, ibu-ibunya yang baik, apalagi remaja dan adik-adik TPAnya lucu-lucu. Terkadang menjengkelkan juga ketika kami mengajar TPA tidak sedikit yang ramai sendiri. Sampai-sampai suara kami dibuat habis oleh mereka karena harus mengkondisikan supaya tenang.
            Di minggu pertama kami masih dalam tahap menganalisis kondisi masyarakat sekitar. Kira-kira apa yang mereka butuhkan. Warga Sawah terkenal dengan mata pencahariannya sebagai seorang petani. Mereka mempunyai banyak ladang. Jenis tanaman pertaniannya saat itu adalah ketela. Maklum memasuki musim kemarau, tanaman yang cocok dan dapat bertahan hidup di tanah gersang tidak ada pilihan lain selain ketela. Maka tidak mengherankan jika hampir setiap rumah pasti terdapat ketela – baik itu yang sudah dikupas kulitnya atau baru saja dicabut dari ladang atau kebun – bertebaran di halaman depan rumah mereka.
            Dari situlah kami berinisiatif membuat program bagaimana agar usaha pertanian ketela mereka maju. Di sisi lain, ternyata mereka masih awam terkait pengolahan ketela. Warga mengolah ketela sebatas diolah menjadi beras ketela, gaplek dan tiwul. Padahal kalau kita melihat di kota, ketela dapat diolah menjadi variasi menu makanan. Oleh sebab itu, kami berinisiatif untuk membuka wawasan masyarakat setempat untuk dapat mengolah ketela lebih variatif lagi. Atau sekaligus dijadikan sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.
            Program yang kami buat sangatlah banyak. Mulai dari program individu maupun kelompok. Untuk program individu, ada yang harus berkaitan dengan program studi masing-masing dan ada yang sifatnya bebas. Berhubung program studiku pendidikan matematika, mau tidak mau aku membuat program yang ada kaitannya dengan pendidikan matematika juga. Aku sadar betul salah satu potensi yang harus di bangun di masyarakat Sawah berawal dari anak-anak. Lantas aku muncul ide untuk membuat program yang sasarannya cocok untuk anak-anak. Alhamdulillah, di dusun Sawah sarana pendidikannya lumayan lengkap, ada TK dan SD. Saat itu terbersit dalam benakku membuat program bimbel (bimbingan belajar) khusus matematika untuk anak SD dan membuat alat peraga matematika berupa bangun ruang di SD kelas 5. Untuk program yang sifatnya bebas, aku berinisiatif membuat kelompok pengajian ibu-ibu dan lomba TPA.
            Sedangkan, untuk program kelompok yang paling berkesan saat itu adalah mengenai seminar ketela diiringi dengan lomba masak berbahan dasar ketela dan pengajian akbar memperingati malam Nuzulul Qur’an. Untuk lomba masak dan seminar ketela, kami menjalin kerja sama dengan salah satu restoran ketela di Yogya. Sedangkan, untuk pengajian Nuzulul Qur’annya bisa dibilang sukses karena jumlah peserta pengajian yang hadir sungguh di luar perkiraan. Mengapa? Selain gabungan dari tiga masjid dalam satu dusun, juga kondisi alam yang memang saling berjauhan antara RT satu dengan RT yang lain. Kami mengambil tempat di balai dusun dengan pertimbangan agar tidak menimbulkan kecemburuan antar jamaah masjid. Di samping itu juga sekaligus mengakrabkan antar jamaah di tiga masjid tersebut. Maklum, di desa nuansa ormas Islamnya masih sangat kuat. Satu masjid bernuansakan Muhammadiyah, sedangkan duanya lagi NU.
            Sungguh, sangatlah menyenangkan menjalani hari-hari Ramadhan di Sawah, Panggang, GK. Tidak terasa hampir tiga minggu. Padahal KKN jangka waktunya dua bulan. Itu saja belum terkurangi libur lebaran. Ah...terasa mempunyai tambahan keluarga baru. ..... To be continue.

Selasa, 23 Juli 2013

Ramadhan, Belajar Hemat

Presented by Kareen el-Qalamy



Ramadhan 1434 H telah tiba. Umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambutnya dengan suka cita. Bulan yang sangat dinanti-nanti kedatangannya karena setiap muslim berlomba-lomba meraih predikat takwa dengan melakukan amalan ibadah sebanyak-banyaknya.
            Di Indonesia khususnya, mempunyai tradisi tersendiri untuk memeriahkan Ramadhan dibandingkan dengan negara-negara lain. Apalagi terdapat banyak suku yang mendiami Indonesia, tenu menambah semarak Ramadhan 1434 H. Setiap suku biasanya mempunyai tradisi tersendiri yang memang diselenggarakan secara khusus di bulan Ramadhan. Tradisi tersebut salah satunya ditandai dengan terdapat menu makanan yang berbeda-beda antara suku yang satu dengan yang lain sebagai hidangan sakral yang harus disajikan selama bulan Ramadhan.
            Akan tetapi, nampaknya masyarakat Indonesia untuk Ramadhan tahun ini mau tidak mau harus merasakan nuansa yang berbeda, yakni dengan ditetapkannya kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Hal tersebut secara otomatis berdampak pada harga kebutuhan pokok yang tentunya ikut-ikutan naik. Padahal seperti sudah menjadi hal yang biasa ketika memasuki bulan Ramadhan naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Apalagi ini didahului dengan naiknya harga BBM pra Ramadhan.
            Memang, hal tersebut sangatlah menguji kesabaran ketika melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Mengapa tidak? Bisa dibayangkan, para suami selaku pencari nafkah dalam keluarga harus memutar otak untuk bekerja lebih giat lagi demi tercukupinya kebutuhan sehari-hari. Para ibu rumah tangga juga tidak lantas menyerahkan urusan kebutuhan hidup kepada suami, justru mereka juga dituntut untuk lebih bisa mengendalikan anggaran rumah tangga sebaik mungkin agar tetap stabil, tidak boros juga tidak terlalu pelit.
            Orang berpuasa agar staminanya tetap terjaga tentu harus diimbangi dengan asupan makanan bergizi. Baik itu ketika berbuka dan saat sahur. Ini pula yang menjadi salah satu permasalahan bagi setiap keluarga ketika dituntut harus bisa mengelola keuangan secara bijak, selain itu juga berusaha untuk memenuhi gizi keluarga. Bagi keluarga yang termasuk dalam kategori menegah ke bawah hal tersebut sangatlah sulit karena pemenuhan gizi keluarga dihadapkan dengan kondisi minimnya penghasilan.
            Setidaknya, kondisi ekonomi yang kurang lantas tiidak menyurutkan semangat untuk tetap melaksanakan ibadah Ramadhan dengan khusyuk. Yakinlah bahwa Allah sudah mempersiapkan kantong-kantong rezeki bagi siapa saja yang ingin menjemputnya. Puasa juga tidak menghalangi bekerja lebih giat lagi. Ketika pekerjaan tersebut diniatkan untuk beribadah mengharap ridho-Nya, insyaAllah Allah tidak akan menyia-nyiakan ikhtiar para hamba-Nya dengan menambah keberkahan yang berlipat-lipat.
Asal tahu saja rezeki itu ada dua jenisnya, rezeki yang datangnya sudah bisa diperkirakan, misal upah dari jerih payah selama bekerja. Satunya lagi rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka. Maka, percayalah akan janji Allah.
Terkait pemenuhan gizi, perlu ditekankan di sini makanan bergizi itu tidak harus mewah dan mahal. Apa-apa yang ada disekeliling kita secara tidak sadar ternyata juga bisa dijadikan sebagai makanan bergizi. Sebagai contoh sayuran yang ada di halaman rumah itu juga bisa dimanfaatkan dan praktis, tinggal petik. Di samping itu juga alami. Tidak perlu bersusah payah menghidangkan makanan yang mahal, yang penting sehat, bergizi dan yang lebih penting lagi amalan ibadah kita bisa diterima oleh Allah SWT. Maka tidak salah jika Ramadhan bisa dijadikan sebagai moment untuk belajar hemat.