Presented by Kareen el-Qalamy
Indonesia
memiliki kekayaan alam yang tiada tara. Bahkan sampai-sampai ada yang bilang
Indonesia disebut sebagai,”Tanah Surga”. Sebutan itu memang benar adanya jika
mau melihat lebih dekat lagi akan kekayaan sumber daya alam yang ada. Entah itu
dari segi barang-barang hasil tambangnya, keanekaragaman jenis baik itu flora
maupun faunanya.
Dilihat dari barang-barang hasil
tambangnya, terbukti beberapa daerah terkenal dengan hasil tambangnya yang
melimpah. Seperti contoh penghasil tambang batu bara terdapat di Sumatera Barat (Ombilin, Sawahlunto),
Sumatera Selatan (Bukit Asam, Tanjungenim), Kalimantan Timur (Lembah Sungai
Berau, Samarinda), Kalimantan Selatan (Kotabaru/Pulau Laut), Kalimantan tengah
(Purukcahu), Sulawesi Selatan (Makassar), dan Papua (Klamono). Tambang besi di Lampung (Gunung Tegak),
Kalimantan Selatan (Pulau Sebuku), Sulawesi Selatan (Pegunungan Verbeek), dan
Jawa Tengah (Cilacap) dan masih bnyak lagi jenis tambang yang lain.
Beraneka ragam jenis flora dan fauna juga tersebar di
seluruh pulau Indonesia. Disamping jenisnya yang variatif, mereka juga punya
ciri khas tersendiri yang memang membedakan dengan flora fauna yang berada di
negara lain. Salah satu jenis fauna yang sangat unik yang dimiliki oleh Indonesia
adalah orang utan. Spesies orang utan ini tersebar di beberapa wilayah
Indonesia, diantaranya di Pulau Sumatra dan Kalimantan.
Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah
spesies orangutan terlangka. Orangutan Sumatra
hidup dan endemik terhadap Sumatra. Mereka lebih kecil daripada orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatra memiliki tinggi sekitar 4.6 kaki dan
berat 200 pon. Betina lebih kecil, dengan tinggi 3
kaki dan berat 100 pon. Orangutan
Sumatra endemik dari pulau Sumatra dan hidupnya terbatas di bagian utara
pulau itu. Di alam, orangutan Sumatra bertahan di provinsiNanggroe Aceh Darussalam (NAD), ujung paling utara Sumatra.
Primata ini dulu tersebar lebih luas, saat mereka ditemukan lebih ke Selatan
tahun 1800-an seperti di Jambi dan Padang. Ada populasi kecil di provinsi Sumatera
Utara sepanjang
perbatasan dengan NAD, terutama di hutan-hutandanau Toba.
Survei di danau Toba hanya menemukan dua areal habitat, Bukit Lawang (didefinisikan sebagai suaka
margasatwa) dan Taman Nasional Gunung Leuser. Tahun 2002, World Conservation Union menempatkan spesies ini dalam IUCN Red List dengan status kritis.
Survei
baru-baru ini tahun 2004 memperkirakan ada sekitar 7.300 ekor orangutan Sumatra
yang masih hidup di alam liar. Beberapa
di antaranya dilindungi di lima daerah di Taman Nasional Gunung Leuser dan
lainnya hidup di daerah yang tidak terlindungi: blok Aceh barat laut dan timur
laut, sungai Batang Toru Barat, Sarulla Timur dan Sidiangkat. Program pembiakan
telah dibuat di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di provinsi Jambi dan Riau dan menghasilkan populasi orangutan
Sumatra yang baru.[1]
Sedangkan Orangutan Kalimantan, Pongo pygmaeus, adalah
spesies orangutan asli
pulau Kalimantan. Bersama dengan orangutan
Sumatra yang lebih kecil, orangutan Kalimantan masuk kedalam
genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orangutan Kalimantan
memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di
penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun. Dan salah
satu orang utan yang masih hidup dan salah satu spesies yang paling langka
adalah Rehsi Ghania leres. yang ditemukan di kantin margahayu.[2]
Itulah salah satu keunikan salah satu spesies yang
Indonesia miliki. Namun kehidupan
keanekaragaman spesies tersebut bukan tanpa permasalahan. Selama beberapa tahun
terakhir ini mereka berada dalam status terancam punah. Mengapa tidak, ancaman
terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang
semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang
menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit,pertambangan dan
pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan
telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak
jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan
pemilik lahan karena dianggap sebagai hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya,
maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal. Tidak hanya menghadapi berkurangnya habitat hidup
mereka, tetapi juga perdagangan ilegal. [3]
Secara
teori, orangutan telah dilindungi di Sumatra dengan peraturan
perundang-undangan sejak tahun 1931, yang melarang untuk memiliki, membunuh
atau menangkap orangutan. Tetapi
pada prakteknya, para pemburu masih sering memburu mereka, kebanyakan untuk
perdagangan hewan. Pada hukum internasional, orangutan masuk dalam Appendix I
dari daftarCITES(Convention
on International Trade in Endangered Species) yang melarang dilakukannya
perdagangan karena mengingat status konservasi dari spesies ini dialam bebas. Namun, tetap saja ada banyak
permintaan terhadap bayi orangutan, baik itu permintaan lokal, nasional dan
internasional untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Anak orangutan sangat
bergantung pada induknya untuk bertahan hidup dan juga dalam proses
perkembangan, untuk mengambil anak dari orangutan maka induknya harus dibunuh.
Diperkirakan, untuk setiap bayi yang selamat dari penangkapan dan pengangkutan
merepresentasikan kematian dari orangutan betina dewasa.
Menurut
data dari website WWF, diperkirakan telah
terjadi pengimporan orangutan bernama ke Taiwan sebanyak 1000 ekor yang terjadi
antara tahun 1985 dan 1990. Untuk setiap orangutan yang tiba di Taiwan, maka
ada 3 sampai 5 hewan lain yang mati dalam prosesnya. Perdagangan orangutan
dilaporakan juga terjadi di Kalimantan, dimana baik orangutan itu hidaup atau
mati juga masih tetap terjual[4]
Berbagai macam cara telah dilakukan agar hewan unik ini
tidak sampai musnah dan berdampak pada generasi penerus selanjutnya. Salah
satunya yaitu dengan mendirikan pusat rehabilitasi untuk merawat oranutan yang
sakit, terluka dan yang telah kehilangan induknya. Mereka
dirawat dengan tujuan untuk dikembalikan ke habitat aslinya. [5]
Survei baru-baru ini tahun 2004 memperkirakan ada
sekitar 7.300 ekor orangutan Sumatra yang masih hidup di alam liar.[5] Beberapa
di antaranya dilindungi di lima daerah di Taman Nasional Gunung Leuser dan
lainnya hidup di daerah yang tidak terlindungi: blok Aceh barat laut dan timur
laut, sungai Batang Toru Barat, Sarulla Timur dan Sidiangkat. Program pembiakan
telah dibuat di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di
provinsi Jambi danRiau dan
menghasilkan populasi orangutan Sumatra yang baru.
Sebagai manusia yang notabene diberi amanah sebagai khalifah,
hendaknya selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang ada. Tidak
hanya mementingan keuntungan jangka pendek semisal mendapatkan komersil saja
tetapi juga untuk jangka panjangnya, agar anak cucu kelak masih bisa melihat
keindahan alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar