Minggu, 09 Februari 2014

Kejutan di Awal Tahun



Presented by Kareen el-Qalamy


         Hampir memasuki satu bulan di tahun 2014. Euphoria tahun baru sepertinya masih hangat terasa. Malam tahun baru yang biasanya dirayakan dengan sangat meriah berujung kemubadziran. Anggaran yang tentunya tidak sedikit jumlahnya rela digelontorkan oleh pemerintah demi terselenggaranya kemeriahan malam tahun baru.
            Ketika malam tahun baru terlewati dengan pesta pora dan keesokan harinya memasuki hari pertama tahun baru mulai terasa dampaknya. Sampah berceceran di mana-mana akibat sisa perayaan tahun baru. Tidak hanya itu dampak yang ditimbulkan setelah perayaan malam tahun baru. Pagi hari di hari pertama yang seharusnya diawali dengan penuh semangat terasa malas akibat begadang semalam suntuk. Begadang untuk menanti detik-detik perayaan tahun baru yang biasanya diisi dengan acara hiburan yang sifatnya hedonis.
            Akan lebih bermanfaat jika acara malam tahun baru diisi dengan introspeksi diri, merenungi apa yang telah diperbuat dan dihasilkan selama satu tahun kemarin. Sekaligus membuat planning apa saja yang akan dikerjakan dan diraih selama satu tahun mendatang.
            Apalagi beberapa hari ini dikejutkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di awal tahun ini. Dibuka dengan peristiwa naiknya harga gas LPG yang membuat hampir seluruh masyarakat yang menggunakan gas LPG menjerit. Selain itu kondisi cuaca di awal tahun yang nampaknya belum bersahabat. Terbukti dengan terjadinya cuaca ekstrem di beberapa negara belahan dunia tidak terkecuali di Indonesia.
            Beberapa diantaranya aktivitas Gunung Sinabung yang ada di Sumatra Utara sejak tahun 2013 sampai sekarang masih terus bergeliat, bahkan beberapa hari ini mengeluarkan semburan api vulkanik yang meluluhlantahkan daerah-daerah sekitarnya. Kemudian disusul banjir yang melanda ibukota. Dimana banjir tersebut memang sudah menjadi rutinitas tahunan setiap musim penghujan. Sampai-sampai pemerintah kota dibuat bingung karena banjir. Segala upaya dilakukan untuk menanggulangi banjir, namun nampaknya belum membuahkan hasil. Banjir Jakarta belum usai, tiba-tiba disusul bencana banjir bandang yang melanda Manado, Sulawesi Utara. Banjir bandang yang melanda Manado hampir menyapu sebagian besar kota Manado.
            Entah apa yang tersirat di balik semua bencana yang terjadi. Sebagai manusia bencana yang terjadi hendaknya menjadi cambukan dari Allah untuk segera kembali mengingat-Nya. Mungkin selama ini kita telah lalai dari mengingat-Nya, ditambah lagi semakin sering bermaksiat dan semakin sedikit beribadah kepada-Nya. Jangan dibilang kesenangan sesaat ketika perayaan tahun baru lantas berubah menjadi kesedihan berkepanjangan karena datangnya bencana. Bersenang-senang dahulu bersusah-susah kemudian. Bagi pemerintah, anggaran tahun baru yang seharusnya bisa dialokasikan untuk korban bencana habis sia-sia. Marilah bersama-sama mengambil ibroh di balik bencana yang terjadi, jangan malah sibuk mencari kambing hitam. Bencana yang terjadi tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab kita semua untuk selalu memperhatikan firman-Nya. Wallahu’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar