Serentetan aktivitas selalu menghadang
Menghalangiku melepas lelah sejenak
Dari pagi hingga sore menjelang
Dari matahari mengintip di ufuk timur
Sampai kembali keperaduannya
Begitulah seterusnya siklus kehidupan
Entah kapan akan segera berakhir
Namun jangan dulu...
Sebelum diri ini meninggalkan jejak
Jejek-jejak sejarah...
Yang akan selalu berkesan
Sepanjang masa
Walau diri ini lekang dimakan senja
Dan jejak-jejak itupun semakin bertambah
Bahkan terukir indah di atas dunia
Created by Cha-My
Rabu, 16 Maret 2011
Kelemahan ke 5 : Kehilangan Peran Kelembagaan
Gerakan Islam menyandarkan gerakannya pada kekuatan individu, di mana tugas/peran gerakan diwakilkan kepada mereka. Hal seperti ini mengharuskan ketergantungan fungsi dan tugas lembaga kepada para individu tersebut. Akhirnya terjadi ketidak-stabilan dan banyaknya perubahan tugas / peran dan kekurangan yang luar biasa dalam memenuhi berbagai peran yang diperlukan oleh lembaga.
Beramal/bergerak di dasari lembaga amat jarang kita lihat. Ada beberap lembaga, tapi sangat terbatas, yang dibentuk berdasarkan strategi, program kerja dengan spirit team work, serta organisasi yang sehat. Sebab itu, gerakan dakwah belum mampu mengejewantahkan/mewujudkan tujuan-tujuannya melalu lembaga-lembaga (yang sesuai).
Bahkan sebagian lembaga yang ada (termasuk partai politik) malah menjadi sia-sia bagi gerakan dakwah yang seharusnya membantu kemajuan gerakan dakwah, dan (bahkan ada yang menyimpang dan menjadi blunder) bagi gerakan dakwah itu sendiri. Masyarakt menjadi kehilangan harapan terhadap perbaikan kehidupan mereka.
Semua itu, tak lain, peran individu terlalu menonjol dan dominan. Tidak lagi diperankan adanya lembaga. Karena saking kuat pengaruh dan peranan individu. Karena itu, berkurangnya peranan lembaga ini, mendorong terjadi penyimpangan yang sangat fatal.
Kendati beberapa individu gerakan dakwah itu berhasil dalam meuwujudkan proyek-proyek dakwah pribadi mereka, namun mereka gagal menyukseskan berbagai aktivitas yang bersifat jama’i. Sebagaimana gerakan dakwah juga belum mampu sampai saat ini melahirkan solusi yang mendesak terhadap “fiqh muassasat” dengan bahasa dan konsepsi moderen yang dipahami.
Aktivitas dakwah akan selalu terbatas kepada “slogan” sampai lahir di seluruh negeri kita (Islam) lembaga-lembaga dakwah Islam yang bersifat massif yang sukses dengan prosentase 10 lembaga besar di setiap negeri Islam, sebelum kita berhak mengkalim untuk masuk ke dalam percaturan menegakkan lembaga-lembaga yang lebih besar lagi (dalam bentuk negara) dengan sukses.
(bersambung, insya Alloh)
Beramal/bergerak di dasari lembaga amat jarang kita lihat. Ada beberap lembaga, tapi sangat terbatas, yang dibentuk berdasarkan strategi, program kerja dengan spirit team work, serta organisasi yang sehat. Sebab itu, gerakan dakwah belum mampu mengejewantahkan/mewujudkan tujuan-tujuannya melalu lembaga-lembaga (yang sesuai).
Bahkan sebagian lembaga yang ada (termasuk partai politik) malah menjadi sia-sia bagi gerakan dakwah yang seharusnya membantu kemajuan gerakan dakwah, dan (bahkan ada yang menyimpang dan menjadi blunder) bagi gerakan dakwah itu sendiri. Masyarakt menjadi kehilangan harapan terhadap perbaikan kehidupan mereka.
Semua itu, tak lain, peran individu terlalu menonjol dan dominan. Tidak lagi diperankan adanya lembaga. Karena saking kuat pengaruh dan peranan individu. Karena itu, berkurangnya peranan lembaga ini, mendorong terjadi penyimpangan yang sangat fatal.
Kendati beberapa individu gerakan dakwah itu berhasil dalam meuwujudkan proyek-proyek dakwah pribadi mereka, namun mereka gagal menyukseskan berbagai aktivitas yang bersifat jama’i. Sebagaimana gerakan dakwah juga belum mampu sampai saat ini melahirkan solusi yang mendesak terhadap “fiqh muassasat” dengan bahasa dan konsepsi moderen yang dipahami.
Aktivitas dakwah akan selalu terbatas kepada “slogan” sampai lahir di seluruh negeri kita (Islam) lembaga-lembaga dakwah Islam yang bersifat massif yang sukses dengan prosentase 10 lembaga besar di setiap negeri Islam, sebelum kita berhak mengkalim untuk masuk ke dalam percaturan menegakkan lembaga-lembaga yang lebih besar lagi (dalam bentuk negara) dengan sukses.
(bersambung, insya Alloh)
Rabu, 16 Februari 2011
Sayang Cantikmu Jangan Diobral
Ukhti…
Semua orang tahu…
Semua orang bisa lihat…
Yang punya mata normal pasti langsung sadar…
Ada akhwat cantik tanpa cadar…
Punya wajah yang bersinar…
Dan senyum yang berbinar…
Ukhti…
Siapa yang tidak suka melihat kulitmu yang bersih?
Siapa yang tidak senang melihat lekuk tubuhmu yang menarik?
Siapa yang menolak melihat wajahmu yang cantik?
Semua orang mau dekat denganmu…
Semua orang ingin menyentuhmu…
Semua orang ingin memilikimu…
Tapi ukhti…
Ketahuilah…
Tak semua orang ingin kau miliki…
Tak semua orang ingin kau mintai pertanggungjawaban atasmu…
Tak semua orang ingin melindungimu…
Tapi aku…aku mau…
Ukhti…
Aku ingin melindungi cantikmu…
Aku mau menjaga dirimu…
Tapi bantulah aku untuk menjagamu…
Yaitu dengan ikut menjaga penampilanmu…
Ukhti…
Aku yakin engkau telah berulang kali mendengarkan ini
Mungkin engkau merasa bosan…
Tapi aku tak akan pernah bosan mengingatkanmu…
Ukhti…
Engkau bagaikan sebuah berlian
Berlian yang indah bersinar…
Banyak orang mengincarmu…
Mereka ingin merenggut sinar itu…
Tapi, Ukhti…
Ketahuilah, sebuah berlian…yang tak hidup itu…
Diberi pnejagaan berlapis-lapis…
Ia dikungkung dalam lemari baja…
Yang dilindungi oleh alarm…
Terali besi…lemari kaca…
Bahkan untuk sekedar melihat indahnya…
Seseorang harus melewati prosedur berbelit-belit
Ukhti…
Berlian itu hanya sebuah batu…
Sedangkan engkau?
Engkau manusia! Engkau hidup! Engkau indah!
Engkau adalah karya sempurna Sang Pemahat sejati
Dan engkau lebih pantas untuk dilindungi…
Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Engkau tahu kan…barang obralan itu…
Mutunya rendah…
Harganya murah…
Seenaknya boleh dijamah…
Rusak tak mengapa…kotor bukan masalah…
Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Simpan cantikmu untuk yang berhak memiliki…
Simpan cantikmu agar engkau makin cantik…
Dengan kesempurnaan aqidahmu…
Dengan kedalaman ilmumu…
Yang terpancar dari balik kerudung dan jilbabmu…
Simpanlah untuk orang yang bersedia menukarnya dengan surga…
Ya, Ukhti…
Hanya ditukar dengan akses bebas masuk surga…
Dari pintu mana saja yang engkau suka sajalah…
Kauberikan akses sepuasnya pada cantikmu…
Dan orang yang akan memberimu akses itu…
Pasti adalah orang yang tidak meminta “uang muka”…
Dari cantikmu…
Sayang…
Cantikmu itu berharga…
Cantikmu itu karunia Allah…
Cantikmu itu amanah…
Engkaulah yang membuat cantikmu…
Menjadi pahala…
Atau fitnah…
Ukhti…
Jangan engkau anggap cantikmu itu murah…
Dunia dan seisinya tak mampu membayar cantikmu itu…
Pemahat terhebat di dunia ini pun tak mampu mengukir bentuk seindah dirimu…
Engkau adalah bidadari dunia…
Tapi…jangan mau hanya jadi bidadari di dunia saja…
Ayo…berusaha menjadi bidadari surga!
Ukhti…
Simpan cantikmu…
Orang-orang itu tak pantas menikmatinya darimu…
Orang-orang itu bahkan membawa api neraka di tiap pandangan mata mereka…
Sayang, cantikmu jangan diobral…
Karena cantikmu…BEDA!
Semua orang tahu…
Semua orang bisa lihat…
Yang punya mata normal pasti langsung sadar…
Ada akhwat cantik tanpa cadar…
Punya wajah yang bersinar…
Dan senyum yang berbinar…
Ukhti…
Siapa yang tidak suka melihat kulitmu yang bersih?
Siapa yang tidak senang melihat lekuk tubuhmu yang menarik?
Siapa yang menolak melihat wajahmu yang cantik?
Semua orang mau dekat denganmu…
Semua orang ingin menyentuhmu…
Semua orang ingin memilikimu…
Tapi ukhti…
Ketahuilah…
Tak semua orang ingin kau miliki…
Tak semua orang ingin kau mintai pertanggungjawaban atasmu…
Tak semua orang ingin melindungimu…
Tapi aku…aku mau…
Ukhti…
Aku ingin melindungi cantikmu…
Aku mau menjaga dirimu…
Tapi bantulah aku untuk menjagamu…
Yaitu dengan ikut menjaga penampilanmu…
Ukhti…
Aku yakin engkau telah berulang kali mendengarkan ini
Mungkin engkau merasa bosan…
Tapi aku tak akan pernah bosan mengingatkanmu…
Ukhti…
Engkau bagaikan sebuah berlian
Berlian yang indah bersinar…
Banyak orang mengincarmu…
Mereka ingin merenggut sinar itu…
Tapi, Ukhti…
Ketahuilah, sebuah berlian…yang tak hidup itu…
Diberi pnejagaan berlapis-lapis…
Ia dikungkung dalam lemari baja…
Yang dilindungi oleh alarm…
Terali besi…lemari kaca…
Bahkan untuk sekedar melihat indahnya…
Seseorang harus melewati prosedur berbelit-belit
Ukhti…
Berlian itu hanya sebuah batu…
Sedangkan engkau?
Engkau manusia! Engkau hidup! Engkau indah!
Engkau adalah karya sempurna Sang Pemahat sejati
Dan engkau lebih pantas untuk dilindungi…
Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Engkau tahu kan…barang obralan itu…
Mutunya rendah…
Harganya murah…
Seenaknya boleh dijamah…
Rusak tak mengapa…kotor bukan masalah…
Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Simpan cantikmu untuk yang berhak memiliki…
Simpan cantikmu agar engkau makin cantik…
Dengan kesempurnaan aqidahmu…
Dengan kedalaman ilmumu…
Yang terpancar dari balik kerudung dan jilbabmu…
Simpanlah untuk orang yang bersedia menukarnya dengan surga…
Ya, Ukhti…
Hanya ditukar dengan akses bebas masuk surga…
Dari pintu mana saja yang engkau suka sajalah…
Kauberikan akses sepuasnya pada cantikmu…
Dan orang yang akan memberimu akses itu…
Pasti adalah orang yang tidak meminta “uang muka”…
Dari cantikmu…
Sayang…
Cantikmu itu berharga…
Cantikmu itu karunia Allah…
Cantikmu itu amanah…
Engkaulah yang membuat cantikmu…
Menjadi pahala…
Atau fitnah…
Ukhti…
Jangan engkau anggap cantikmu itu murah…
Dunia dan seisinya tak mampu membayar cantikmu itu…
Pemahat terhebat di dunia ini pun tak mampu mengukir bentuk seindah dirimu…
Engkau adalah bidadari dunia…
Tapi…jangan mau hanya jadi bidadari di dunia saja…
Ayo…berusaha menjadi bidadari surga!
Ukhti…
Simpan cantikmu…
Orang-orang itu tak pantas menikmatinya darimu…
Orang-orang itu bahkan membawa api neraka di tiap pandangan mata mereka…
Sayang, cantikmu jangan diobral…
Karena cantikmu…BEDA!
Langganan:
Postingan (Atom)