Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Mengabdi Tiada Henti







Presented by Kareen el-Qalamy



              Pagi ini, seolah-olah hanya sebatas rutinitasku semata. Bangun pagi. Itu saja dengan rasa malas. Setelah itu mandi, tentu dengan langkah berat menuju kamar mandi yang hanya berada di samping kamarku. Sepuluh menit kemudian, ada suara yang tiba-tiba memanggilku.
“Dit....buruan sarapan, nanti telat lho...,”teriak ibu memanggilku.
“Iya Bu,”jawabku sambil melangkahkan kaki menuju dapur.
“Ada yang ketinggalan tidak buku-bukunya? Prnya sudah dibawa?,”tanya ibu penuh ketelitian. Beliau tidak mau anak bungsunya itu mendapat teguran dari guru hanya karena sering lupa membawa buku pelajaran.
            Aku hanya mengambil nasi sedikit beserta sayur, dan lauk pauknya. Entah mengapa selera makanku tiba-tiba hilang.
“Kok cuma sedikit makannya?,”tanya ibu sambil melihatku makan
“Keburu terlambat nanti Bu,”jawabku dengan suapan terakhir yang masuk ke mulutku.
            Setelah sarapan aku berangkat ke sekolah. Walaupun waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, namun dengan santainya kukayuh sepeda menuju sekolah. Seperti tidak ada semangat di hari ini.
            Aku bernama Aditya. Anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku perempuan sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya di luar Jawa, tepatnya di Kalimantan. Sedangkan aku duduk di bangku SMA kelas XII. Aku tinggal berdua dengan ibu di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Ayah meninggalkan kami karena orang tua kami bercerai. Sudah sekitar enam tahun aku hidup tanpa didampingi sosok seorang ayah.
            Semenjak ayah dan ibu bercerai, aku menjadi pribadi yang pendiam, tertutup dan suka menyendiri. Aku hampir tidak mempunyai teman akrab. Teman-temanku seperti menjauhiku.
“Aditya Bagus,”panggil guru matematika. Pelajaran untuk jam pertama hari ini adalah matematika.
“Saya Pak,”jawabku sambil mengacungkan tangan.
“PRnya sudah dikerjakan? Coba kamu mengerjakan ke depan PR nomor satu,”pinta Pak Karto. Beliau sudah berumur. Rambutnya saja sudah memutih. Termasuk guru senior di sekolahku.
“Maaf Pak,belum saya kerjakan,”jawabku dipenuhi rasa malu.
“Ya sudah kalau begitu, tapi bapak minta tolong kamu mencoba mengerjakan ke depan,”lanjut Pak Karto.
“Iya Pak, akan saya coba,”sambil melangkah ke depan kelas.
            Walaupun aku orangnya tertutup, akan tetapi aku berusaha untuk mencoba segala hal karena aku suka tantangan. Berusaha untuk tampil percaya diri di muka umum. Memang, aku terkenal malas mengerjakan PR. Semua guru-guru di sekolahku sampai kuwalahan. Namun dibalik rasa malasku, ada sisi positif dimana para guru juga memberikan apresiasi, yaitu mudah menangkap pelajaran yang baru saja diberikan. Terkadang peringkat lima besar dapat kuraih, namun belum pernah aku menduduki peringkat pertama. Hanya beberapa menit saja aku selesai mengerjakan soal di papan tulis.
“Sudah Pak,”aku memberitahukan kepada Pak Karto bahwasannya aku sudah selesai.
“Coba kamu jelaskan jawabanmu kepada teman-temanmu,”pinta Pak Karto sambil melihat ke arahku
            Tidak lama kemudian aku selesai memberikan penjelasan kepada teman-teman asal mula mendapatkan jawaban dari soal tersebut. Setelah itu aku langsung kembali ke tempat duduk. Pak Karto lantas memberikan konfirmasi atas jawabanku.
“Ada yang perlu ditanyakan dengan cara pengerjaan dan jawaban dari Aditya?,”tanya Pak Karto kepada siswa yang lain. Ditunggu beberapa detik tidak ada yang mengacungkan tangan, itu tandanya teman-teman juga sudah paham.
“Ya sudah kalau tidak ada pertanyaan atau tanggapan. Jawaban Aditya sudah benar, namun cara pengerjaannya berbeda sedikit dengan apa yang sudah Bapak berikan. Menurut Bapak itu sangat bagus,”sambil melihat ke arahku.
“Terkadang soal matematika itu dapat dikerjakan dengan banyak cara. Justru itu bisa melatih kreativitas kita dalam pemecahan soal. Ini akan sangat bermanfaat jika dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menjumpai suatu masalah, kita bisa terlatih untuk mencari banyak solusi. Itulah salah satu manfaat atau aplikasi matematika dalam kehidupan sehari-hari,”Pak Karto menjelaskan secara panjang lebar.
            Begitulah Pak Karto, salah satu guru yang aku segani. Walaupun beliau guru matematika, dimana matematika biasanya menjadi momok bagi kebanyakan siswa. Namun seramnya matematika dapat tertutupi dengan metode belajar beliau yang menyenangkan dan variatif. Sehingga para siswa tidak merasa bosan atau kesulitan menerima ilmu matematika yang beliau berikan.


            Tet...tet...tet....tidak terasa dua jam pelajaran matematika telah usai. Setelah itu jam istirahat selama tiga puluh menit. Ketika aku ingin melangkahkan kaki keluar kelas, tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari dalam kelas.
“Aditya,...jangan keluar dulu...,”suara tersebut ternyata suara Pak Karto dimana beliau masih di dalam kelas.
“Oh...iya Pak...,”dengan segera akupun berbalik arah menuju meja Pak Karto.
“Ada apa ya Pak?,”tanyaku.
“Bapak ingin bicara sebentar dengan kamu sekarang. Kamu ada waktu luang?,”jelas Pak Karto.
“Oh...bisa Pak. Mau dimana Pak?,”tanyaku lebih lanjut.
“Di ruang perpustakaan saja.,”beliau sambil berdiri melangkahkan kaki keluar kelas menuju perpustakaan. Akupun langsung mengikuti dari belakang.
Kira-kira ada apa ya?, tanyaku dalam hati. Disertai dengan jantung berdetak mulai terasa kencang. Baru kali ini Pak Karto memanggilku dan ingin berbicara denganku. Sepertinya ada urusan penting yang ingin beliau sampaikan, sampai-sampai meluangkan waktu istirahat beliau hanya untuk mengobrol denganku.
Sesampainya di perpustakaan, kami langsung menempati kursi kosong. Seperti biasa, perpustakaan selalu saja menjadi tempat kedua yang selalu ramai dikunjungi siswa setelah masjid. Aku juga mempunyai hobi membaca. Mungkin sebagai pengisi waktu luang daripada hanya diam dan melamun. Secara rutin seminggu sekali aku meminjam buku ke perpustakaan untuk aku bawa pulang.
Kami memilih tempat duduk yang di pojok. “Jadi begini....,”Pak Karto mencoba mengawali pembicaraan.
“Iya Pak,”balasku.
“Maksud Bapak meminta waktumu sebntar ada yang perlu Bapak bicarakan,”jelas Pak Karto.
“Tentang apa ya Pak?,”tanyaku penasaran.
“Begini, terkait kebiasaanmu tidak pernah mengerjakan PR, itu sebenarnya ada apa?,”sambil menatapku dengan tajam penuh selidik.
Ternyata...soal kebiasaan burukku,batinku. Aku termenung sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Karto.
“Kok malah diam, cerita saja, tidak apa-apa, anggap saja Bapak ini Bapakmu di sekolah. kalau ada masalah ceritakan saja, siapa tahu Bapak bisa membantu,”ujar Pak Karto lebih lanjut.
“Bagaimana ya Pak saya menjelaskannya? Terlalu panjang dan lebar Pak,”aku berusaha untuk membuat prolog atas jawabanku selanjutnya.
“Begini Pak, entah mengapa sesampainya di rumah saya dilanda rasa malas yang hebat. Nuansa rumah saya sudah tidak nyaman lagi bagi saya Pak. Itu terjadi sudah enam tahun lamanya semenjak bapak bercerai dengan ibu,”aku berusaha merangkai kata, walaupun sulit. “Dan saya merasa sangat kasihan terhadap ibu yang setiap hari kerja keras membanting tulang untuk membiayai kehidupan kami. Ibu saya hanya seorang buruh cuci Pak. Saya ingin sekali membantu ibu bekerja, namun tetap tidak bisa karena sore menjelang malam saya baru pulang setelah mengikuti les untuk persiapan UN. Di satu sisi saya juga ingin membanggakan ibu dengan mempersembahkan hasil terbaik dan berharap bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN),”ceritaku panjang lebar, sedangkan Pak Karto diam memperhatikanku dengan seksama disertai dengan tatapan matanya yang teduh.
“Sabar ya Dit, ini ujian hidup buatmu. Kamu harus bisa melalui semuanya ini denganhati yang lapang dan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan impianmu,”Pak Karto mulai menanggapi apa yang telah aku ceritakan.
“Seperti apa yang kamu bilang tadi, bahwa kamu ingin mempersembahkan hasil terbaik untuk ibumu. Maka kamu harus belajar lebih giat lagi. Mumpung masih ada waktu dua minggu lagi menjelang UN. Bapak minta selama waktu dua minggu ke depan kamu selalu mengerjakan PR yang Bapak berikan karena nilai tugas juga menentukan kelulusan, tidak hanya sekadar nilai UN saja,”ujar Pak Karto seolah-olah sedang menasihati anaknya sendiri. aku seperti mendapatkan perhatian dan motivasi dari bapak yang telah lama meninggalkanku.
“iya Pak, mulai sekarang saya akan berusaha melakukan itu,”dengan mata berbinar seperti mendapat semangat baru. Semangat untuk menyongsong masa depan.
“Terima kasih Pak,”sambil mencium tangan Pak Karto
“Alhamdulillah, Bapak ikut senang mendengarnya,”balas Pak Karto.
            Tet...tet....tet....bel tanda masuk pun berbunyi. Kami lantas berpisah, Pak Karto menuju ruang tamu, sedangkan aku menuju ruang kelas untuk melanjutkan pelajaran berikutnya. Lama-lama aku semakin menaruh simpatik dan bersyukur memiliki guru yang sangat perhatian kepada siswa-siswanya seperti Pak Karto. Sampai-sampai muncul niatan dalam hatiku, aku ingin menjadi seorang pendidik seperti halnya Pak Karto.
Sesampainya di rumah. Fajar mulai bersembunyi di balik peraduannya. Kulihat ibu duduk termenung di halaman depan.
“Assalamu’alaykum,”sambil mencium tangan ibu.
“Wa’alaykumussalam, gimana tadi sekolahnya Le?,”tanya ibu.
”Alhamdulillah lancar Bu, tadi saya dapat nasihat dari Pak Karto, guru matematika, diminta belajar tekun,”jelasku.
“Ya sudah kalau gitu, segera mandi sana, habis itu makan. Kita hari ini makan seadanya gak apa-apa ya,”seloroh ibu.
“Siap Bu, apapun makanannya kalau yang masak ibu, pasti enak,”sambil tersenyum menatap ibu lantas berdiri menuju ke dalam rumah.
            Setelah selesai mandi dan makan malam, tidak lama kemudian adzan Isya’berkumandang. Bergegas aku menuju masjid menunaikan sholat Isya’berjamaah. Rumahku dekat dengan masjid. Hanya berjarak beberapa meter saja. Sejak kecil ibu selalu menyuruhku untuk menunaikan sholat lima waktu berjamaah di masjid.
            Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 20.00. teringat pesan nasihat dari Pak Karto untuk selalu rajin belajar dan mengerjakan PR,. Buku pelajaran hari ini mulai kubuka satu persatu, mengecek apakah ada PR atau tidak. Ternyata tidak ada PR untuk hari ini. Walaupun begitu lantas aku melanjutkan untuk belajar. Biasanya aku jam 20.00 langsung tidur tanpa belajar dan mengerjakan PR sama sekali. Namun karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri maka aku mulai membiasakan belajar rata-rata 1-2 jam perhari.



            Dua minggu telah berlalu, Tidak menyangka UN sudah di depan mata. Hari ini jadwal hari pertama UN. Setelah berpamitan dengan ibu dan meminta doa restu agar diberi kemudahan dan kelancaran saat mengerjakan UN aku bergegas berangkat lebih awal agar tidak tergesa-gesa. Sesampainya di sekolah, masih dalam keadaan sepi, baru beberapa siswa yang datang.
“Gimana Dit? Dah siap?,”tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku.
Ketika kutoleh ke belakang,”O...Kamu Wan, bikin kaget saja.”Ternyata yang menepuk pundakku dari belakang adalah Wawan, teman sebangkuku. Akhir-akhir ini aku mulai membuka diri dengan teman-teman.
“Mau gak mau harus siap Wan,”jawabku.
“Aahhh....kalau kamu mah pasti dah siap, kamu kan pinter soal matematika,”seloroh Wawan menggodaku. Hari pertama UN jadwal mata pelajaran yang diujikan adalah matematika
“Kamu bisa aja, aamiin... kamu juga kulihat dh siap Wan. Kita selama ini kan belajar bareng,”balasku.
“Semoga kita sama-sama diberi kemudahan dan kelancaran ya Wan,aamiin...,”harap Wawan
“Aamiin....,”serentak aku dan Wawan mengamini.
Tet...tet....bel tanda masuk berbunyi. Pertanda waktu UN akan segera dimulai. Di dalam ruangan diawasi oleh dua orang pengawas yang berasal dari sekolah lain. Keadaan sangat hening. Nampaknya seluruh siswa sangat berkonsentrasi mengerjakan soal yang telah diberikan. Bismillah...dalam hati sebelum mengerjakan soal. Mulai dari soal yang kuanggap paling mudah satu persatu dapat kuselesaikan.
Waktu terus berjalandiberikan durasi 120 menit untuk menyelesaikan 40 butir soal. Kulihat jam dinding tinggal 30 menit lagi. Kutengok teman sekeliling masih tertunduk dengan tangan memegangi pensil. Semoga semuanya dimudahkan, pintaku dalam hati.
Tidak lama kemudian bel pertanda berakhirnya waktu mengerjakan pun berbunyi. Setelah soal disertai jawabannya telah dikumpulkan ke pengawas, kulihat berbagai ekspresi teman-teman menghiasi wajah mereka. Ada yang diam terpaku, ada yang lega, ada yang senang dll. Aku pun langsung menghampiri Wawan yang tempat duduknya di pojok belakang.
“ Gimana tadi Wan? Bisa ngerjain kan?,”tanyaku.
“Aku pasrah Dit..,”sambil menaruh kepala di atas meja.
“Ya sudah, gak usah dipikirin. Yang berlalu biarlah berlalu,”aku berusaha menghibur Wawan. Sambil menatap keluar kelas, tidak sengaja aku melihat Pak Karto lewat did epan kelas. Langsung saja aku keluar kelas untuk mengejar beliau.
“Pak Karta....!,”panggilku dari belakang, agar beliau berhenti sejenak. Setelah beliau berhenti.
“Terima kasih banyak ya Pak, berkat dorongan motivasi dari Bapak akhirnya saya bisa bangkit dan mempersiapkan UN dengan baik,”aku ingin memberikan ucapan terima kasih kepada Pak Karto sambil mencium tangan beliau.
“Iya Dit, sama-sama. Bapak ikutan senang jika siswa-siswa Bapak berhasil dalam prestasi,”balas beliau dengan tatapan teduh, menenangkan hati.
            Hari pertama UN telah aku lalui. Saatnya untuk mempersiapkan tiga hari yang akan datang karena masih ada beberap[a mata pelajaran yang belum diujikan. Selama UN hampir aku menghabiskan waktu di rumah untuk belajar. Aku ingin mewujudkan cita-citaku, semoga bisa.




            Beberapa minggu kemudian pengumuman kelulusan UN pun datang. Hasil pengumuman UN diambil oleh orang tua masing-masing siswa. Aku ikut serta mengantarkan ibu untuk mengambil hasil UNku. Ketika aku sampai di sekolah dan ibu masuk ke dalam ruang kelas, aku berpapasan dengan Bu Yani. Beliau salah satu staf TU di sekolahku. Lantas beliau memintaku untuk ikut ke ruang TU. Ada hal yang ingin beliau sampaikan. Hal apakah itu yang membuatku bertanya-tanya sepanjang perjalanan menuju ruang TU.
            Sesampainya di ruang TU...
“Aditya Bagus...,”panggil Bu Yani.
“Iya, benar Bu...,”sahutku.
“Selamat ya, kamu diterima di salah satu PTN favorit di Yogya di Fakultas Keguruan dengan jurusan Pendidikan Matematika melalui jalur beasiswa berprestasi,”beliau mengutarakan secara langsung.
Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang beliau sampaikan, aku masih diam terpaku belum bisa berkata apa-apa. Bu Yani jadi heran dengan sikapku. Lantas beliau berusaha meyakinkanku bahwa info itu benar adanya.
“Adit, kok malah diam? Mau gak diterima di PTN favorit lho di Yogya,”tanya Bu Yani membuyarkan pikiranku yang baru saja dipenuhi rasa tidak percaya.
“Benaran Bu? Alhamdulillah...terima kasih ya Allah.....,”balasku penuh ekspresi rasa syukur. Aku mengucapkan terima kasih kepada Bu Yani. Setelah itu berlari keluar menuju ke ruang kelas pembagian hasil rapot. Tidak sabar ingin memberitahukan kabar gembira ini kepada ibu.
            Ternyata ibu sudah menungguku di luar kelas.
“Ibu....,”langsung kupeluk ibu disusul mata yang berkaca-kaca. Apalagi ibu memberitahukanku bahwa aku lulus dengan hasil memuaskan..

            Empat tahun kemudian aku bisa menyelesaikan perkuliahanku dengan meraih gelar sarjana. Tidak membutuhkan waktu lama aku langsung mengajar di salah satu sekolah di kampung halaman, sekaligus menemani ibu yang semakin tua. Selalu kuingat jasa Pak Karto, guru teladan di hatiku. Tatapan matanya yang teduh, menyiratkan akan kesabaran yang beliau miliki selama menjadi seorang guru. Suatu ketika mendapat kabar bahwasannya beliau telah tiada. Saat itu juga air mataku meleleh. Melalui beliau aku bisa meneruskan perjuangan beliau. Selamat tinggal Pak Karto. Engkau telah mengabdi tiada henti. Amalanmu terus mengalir sampai kapanpun..

Jumat, 24 Juli 2015

Sebuah Nama dalam Doa




Presented by Kareen el-Qalamy




            Tahun 2013 menjadi salah satu tahun spesial buatku. Sebuah momen spesial di tahun 2013 alhamdulillah aku dapat menyelesaikan studi S1 Pendidikan Matematika di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Yogya. Tanggal 14 Desember 2013 menjadi kenangan indah saat disematkan gelar S.Pd.Si pada namaku. Keluarga datang mengantarkanku ke acara wisuda. Hampir semua orang, sahabat dan teman memberiku ucapan selamat atas kesuksesanku.
“Rina....selamat ya...,” ucapan dari bapak, ibu dan adik sambil bergantian memelukku.
“Terima kasih ya Bapak, Ibu dan Adik yang selama ini menjadi motivatorku,” ujarku sampai tidak kuat menahan tangis.
            Bertolak dari kampus karena acara wisuda telah selesai. Kami langsung pulang. Sepanjang perjalanan ucapan rasa syukur tidak henti-hentinya mengalir, memenuhi rongga hatiku yang memang sedang dilanda kebahagiaan. Beberapa ikat bunga kupandangi terus menerus semenjak perjalanan hingga sesampainya di rumah. Bunga-bunga yang diberikan oleh sahabat, teman dan keluarga sebagai tanda ucapan selamat. Tetapi sayang, bunga spesial dari seorang laki-laki spesial di hatiku belum bisa aku terima. Toh lelaki yang kumaksud juga belum tahu yang mana, siapa dan kapan dia akan datang, ah sudahlah...batinku. Aku memang berusaha untuk tidak terlalu memikirkan masalah jodoh, walaupun sekarang aku sudah lulus kuliah.
            Keesokan harinya....
“Assalamu’alaykum. Rina, kamu pengen ngajar gak?,” sebuah SMS mendarat di Hpku.
“Wa’alaykumussalam. Pengen banget Vita..., dimana ngajarnya?,”tanyaku bersemangat.
“Nggantiin aku ngajar di SDIT Baitussalam Prambanan, soalnya aku resend. Kamu segera persiapkan persyaratannya ya, besok kita ketemuan,” balas temanku.
“OK, Insha Allah,” seperti menerima rezeki takterduga. Memang sudah menjadi keinginanku untuk langsung bekerja setelah lulus dan Allah mengabulkannya, alhamdulillah.
            Langsung saja aku mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan. Mulai dari fotokopi ijazah, CV, fotokopi transkrip nilai dan pas foto. Setelah kulihat pas foto yang dimaksud berukuran 3x4 berwarna. Padahal foto yang tersisa tinggal berukuran 2x3 berwarna. Berarti harus cetak foto dulu, batinku.
            Sore harinya di saat semua anggota keluarga berkumpul, aku beritahukan informasi berkenaan tawaran mengajar dari teman. Alhamdulillah, semuanya meenyerahkan segala keputusan kepadaku. Semoga ini menjadi ladang amalku selanjutnya, aamiin. Rasanya taksabaran untuk menunggu hari esok tiba. Segera kupejamkan mata untuk menyambut esok hari dengan penuh keceriaan dan penuh semangat.


                                    @                                @                                @


            Kring.........!!! Nada alarm HPku berbunyi. Lantas bergegas bangun dan mengambil air wudhu. Bertepatan dengan alunan suara adzan Subuh yang begitu syahdu terdengar di saat sang fajar mulai menyingsing. Kulakukan sholat Subuh dengan khidmat, taklupa disertai dengan sholat sunnah Rawatib sebelum Subuh dengan harapan semua aktivitasku hari ini berjalan lancar. Setelah itu sibuk mempersiapkan diri karena harus berangkat pagi-pagi ke Prambanan.
“Nanti ketemu di pertigaan lampu merah, kalau dari arah Yogya lampu merah pertama setelah jembatan,” SMS Vita mengabarkan tempat pertemuanku dengannya.
“OK Vita,”jawabku singkat. Karena selain mempersiapkan diri, aku juga harus beres-beres rumah terlebih dahulu sebelum kutinggal. Maklum bapak, ibu dan adik beraktivitas di luar rumah, jadi sebisa mungkin rumah dalam kondisi bersih ketika kutinggal.
            Perjalanan dengan sahabat setiaku, si kuda merah berlangsung. Menyusuri jalan yang setiap dua kali dalam seminggu kulalui. Setiap berangkat ke Yogya di awal pekan untuk memulai aktivitas perkuliahan dan di akhir pekan ketika mudik. Itu dulu, sekarang sudah berbeda kondisinya. Pasca kelulusanku, aku memutuskan untuk tinggal di Klaten sehingga sekarang sudah jarang sekali ke Yogya. Namun bagaimanapun rute dari rumah-Yogya menyimpan berjuta kenangan yang tidah mudah dilupakan begitu saja. Dengan segala pemandangannya, rutinitasnya, kepadatannya, hiruk pikuknya dan masih banyak yang lain, menjadikanku kangen untuk bisa melewatinya kembali.
            Nampaknya belum banyak yang berubah. Salah satu yang kusayangkan adalah kondisi jalannya yang banyak lubang. Sangat berbahaya bagi pengendara sepeda motor. Oleh sebab itu saya harus berhati-hati ketika melewatinya. Ditambah lagi kepadatan yang terjadi, tidak hanya sebatas persaingan antar kendaraan bermotor atau mobil. Selain itu juga banyak sekali truk-truk pasir dan bus pariwisata yang berlalu lalang di jalan ini. Maka sebagai pengendara harus ekstra sabar dan berhati-hati.
            Tidak terasa sudah sampai Prambanan. Laju motorkuSegera pandanganku menyebar di segala sudut jalan mencari-cari keberadaan Vita.
“Assalamu’alaykum  Rin...., langsung ya?” tiba-tiba ada seorang wanita mengendarai sepeda motor menghampiriku dari arah belakang.
“Wa’alaykumussalam. OK Vita,” bergegas aku membuntutinya dari belakang.
            Tidak sampai sepuluh menit dari tempat perjumpaanku dengan Vita, sampailah kami di SDIT Baitussalam Prambanan. Langsung saja Vita mengajakku untuk bertemu dengan salah satu ustadzah yang menjadi penanggungjawab penerimaan pengajar baru. Lantas tidak lama kemudian saya dipersilakan untuk memperkenalkan diri. Sembari memperkenalkan diri, Vita meninggalkanku berdua dengan ustadzah itu. Ternyata ustadzah itu bernama ustadzah Ummi.
“Mbak Karina, sekarang langsung mengikuti tesnya ya. Nanti tesnya ada tiga tahap, tes tertulis, tes wawancara dan tes BAQ sekaligus tahfidz,” ujar ustadzah Ummi.
“Inggih Bu,” hatiku serta merta bergedup kencang ketika mengetahui ada tes tahfidz juga. Padahal hafalanku baru sedikit. Jadi merasa minder.
“Ini saya beri soalnya untuk tes tertulis. Silakan mengerjakan selama 30 menit. Kalau sudah serahkan ke saya, saya ke dalam dulu,” beliau lantas pergi masuk ke ruang guru.
            Seketika itu juga aku langsung mengerjakan soal-soal yang diberikan. Soal-soalnya terdiri dari soal pengetahuan umum dan keislaman. Juga tidak ketinggalan soal pengetahuan mengenai SDIT. Sebisaku menjawab semua pertanyaan yang ada. Tidak sampai 30 menit aku sudah melalui tes tahap pertama. Lalu aku menyerahkan lembar jawaban beserta soalnya ke ustadzah Ummi.
“Sebentar mbak, susuk lagi saja, nunggu tes tahap kedua ya,” sambil berlalu ke ruangan sebelah.
“Inggih Bu.” Tes tahap kedua, yaitu tes wawancara. Jadi deg-degan, kira-kira siapa yang akan mewawancaraiku nantinya. Tiba-tiba seorang bapak-bapak mendekatiku.
“Mbak Karina ya, sudah siap untuk tes wawancaranya?,” tanya beliau dengan pandangan menunduk. Sepertinya bapak ini sangat menjaga sekali, batinku.
“Inggih Pak, insha Allah saya siap,” jawabku meyakinkan diri.
Tes tahap kedua pun dimulai. Seperti diberondong peluru saja, bapak itu menjejaliku dengan bermacam-macam pertanyaan. Akupun menjawab sebisanya, sampai-sampai tidak yakin apakah aku bisa diterima untuk mengajar di sekolah ini. Tidak terasa tes wawancara pun selesai. Beliau langsung meninggalkanku sendirian di kursi tamu. Tidak lama kemudian ustadzah Ummi kembali mendatangiku.
“Gimana mbak? Sudah selesai wawancaranya?,”tanya beliau.
“Sudah Us,” jawabku sambil senyam-senyum karena merasa kurang yakin dengan jawabanku.
“Sekarang tes tahap ketiga yaitu tes BAQ sekaligus tahfidz, bawa mushaf?.”
“Bawa Bu, “ sambil mengeluarkan dari dalam tas.
“Silakan dibuka Q.S  Maryam, coba dibaca dari ayat pertama,” perintah beliau.
            Aku pun langsung membaca ayat pertama dan ayat selanjutnya. Sembari aku membaca, beliau menyimak bacaanku. Beliau lantas menghentikan bacaanku di ayat sepuluh.
“Cukup mbak, sekarang gantian tahfidz. Coba sekarang lafadzkan Q.S An-Naba, qur’annya ditutup ya,” beliau langsung menatapku.
“Inggih Bu,” langsung saja kumulai. Alhamdulillah masih bisa kutangani, batinku.
Tidak membutuhkan waktu lama,  Q.S An-Naba selesai kulafadzkan. Selanjutnya beliau memintaku untuk melanjutkan ayat yang beliau baca. Secara acak beliau membacakan potongan ayat dalam juz 30 dan 29 lantas memintaku untuk melanjutkan. Alhamdulillah bisa terlewati juga.
Tidak lama kemudian aku langsung diberitahukan hasilnya. Tidak kusangka, bahwa aku bisa diterima mengajar di SDIT Baitussalam Prambanan. Minggu depan aku sudah diperbolehkan untuk mengajar. Ternyata aku mendapat jatah mengajar  mata pelajaran matematika dan tahsin metode Ummi. Lantas aku pun pulang dengan rasa bahagia memenuhi rongga hatiku.


                        @                                @                                @

Sepulangnya aku dari mengajar, tiba-tiba sebuah pesan takterduga masuk.
“Assalamu’alaykum. Gimana kabarnya Rina?,” isi pesan tersebut. Setelah kulihat, SMS itu dari salah seorang kakak angkatan semasa kuliahku dulu. Aku biasa memanggil beliau Mas Irvan. Beliau beda jurusan denganku dan selisih satu tahun di atasku. Aku kenal beliau saat satu forum studi fakultas. Di forum studi fakultas, kami sama-sama satu divisi. Itulah mengapa saya sangat mengenal Mas Irvan. Beliau lulus lebih awal dua tahun yang lalu.
“Wa’alaykumussalam. Eh, Mas Irvan, alhamdulillah baik. Njenengan gimana?,” balasku.
“Baik juga, sekarang sibuk apa Rin? Lama tidak ketemu.,” tanyanya lagi.
“Sekarang saya ngajar di SDIT Baitussalam. Kalau njenengan?.
“Saya di SDIT Salman Al-Farisi deket UGM. “
            Saling berbalas SMS pun berlangsung. Maklum, sudah lama tidak bertemu. Dulu, sewaktu sedivisi di forum studi fakultas, beliau orangnya enak diajak kerjasama. Pernah menjadi ketua panitia kajian sains juga. Hampir semua teman-teman merasa segan dengannya. Mungkin karena sikapnya yang supel dan mudah bergaul. Jadi mempunyai banyak teman.
            Hari sudah larut sore, tiba-tiba teringat akan tugas koreksian ulangan harian anak-anak. Aku diberi jatah mengajar di kelas dua A&B. Alhamdulillah, masih bisa menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat. Walaupun terkadang merasa capek dan lelah ketika menjalaninya. Tapi rasa capek yang dirasa terbayarkan dengan melihat senyum anak-anak ketika di sekolah. Bertemu anak-anak yang masih lugu dan polos. Wajah mereka menyiratkan belum adanya masalah yang mereka hadapi. Yang ada hanyalah kegembiraan dan kesenangan karena dunia anak-anak adalah dunia bermain. Serasa ingin kembali ke dunia anak-anak lagi.


                                    @                                @                                @


            Hari-hari kujalani dengan menyibukkan diri di dunia anak-anak. Maklum, mendapat jatah mengajar kelas dua. Jadi seperti menjadi anak-anak kembali. Sungguh tidak ada rasa capeknya melihat tingkah polah mereka. Dari pagi jam tujuh sudah harus sampai sekolah sampai pukul tiga sore baru boleh pulang.
            Sesampainya di rumah tidak jarang rasa capek langsung menghinggapi. Ditambah jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Hampir memakan waktu 45 menit. Baru saja membuka pintu kamar, tiba-tiba ada pesan mendarat di Hpku.
“Assalamu’alaykum. Dah sampai rumah belum?,”ternyata pesan dari Mas Irvan.
Tanpa menunggu lama langsung kubalas,”wa’alaykumussalam. Alhamdulillah sudah,”jawabku singkat.
            Saling berbalas SMSpun terjadi. Sampai pada topik pembicaraan yang lebih serius.
“Dik, saya ingin melamar kamu, boleh gak?,”pertanyaan yang membuatku sontak termenung. Membuatku lama untuk membalasnya kembali.
“Maaf, saya tidak bisa memutuskan sekarang. Saya minta waktu dulu dan diskusi dengan orang tua,”pesan terakhir yang kukirim sebelum akhirnya aku tertidur karena capek.
            Keesokkan harinya, kebetulan hari Ahad. Agenda di hari Ahad seperti biasa, kerja bakti bersih-bersih rumah. Setelahh selesai bersih-bersih rumah, aku dan ibu pergi ke pasar. Sambil merencanakan akan masak apa, agar tidak bingung untuk membeli apa di pasar. Setelah cukup dengan barang belanjaan, kami pulang.
“Mau masak apa Bu?,”tanya adik setelah sampai di rumah.
“Masak sayur bening dan bakwan jagung,”jawab ibu.
            Sebelum  membantu ibu memasak, menunaikan sholat Dhuha terlebih dahulu. Setelah selesai, taklupa kumemanjatkan doa.
“Ya Allah...jikalau memang Mas Irvan itu jodoh hamba, maka dekatkanlah...namun, jikalau bukan maka jauhkanlah.....,”pintaku segenap hati. Karena aku tahu Allah yang lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Maka tidak sepantasnya aku memaksakan kehendak untuk dijodohkan dengan seseorang. Toh, selama ini alhamdulillah perasaanku dalam kondisi netral, tidak ada rasa kepada salah seorang laki-laki pun. Namun, aku juga harus meminta pendapat dari orang tua terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Oleh sebab itu aku harus sesegera mungkin mendiskusikan dengan orang tua. Setelah dirasa cukup berdoa, bergegas aku menuju dapur untuk membantu ibu.
“Bu, ada laki-laki yang ingin melamar Rina,”aku pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Laki-laki itu siapa? Orang mana?,”tanya ibu lebih lanjut. Semua pandangan tertuju padaku karena bapak dan adik juga ada di dapur.
“Cie....cie...,”adikku mulai menggoda.
“Kakak angkatan Rina saat kuliah dulu, orang Yogya. Sekarang mengajar di SDIT di Yogya juga.
“Kamu dah yakin? Tapi nunggu kamu selesai kuliah dulu ya,”pinta Bapak menyela pembicaraan.
“Kalau perlu Masnya diminta ke rumah dulu, kenalan sama Bapak dan Ibu,”tambah ibu.
“Inggih Pak, Bu,”balasku singkat.
            Tidak lama kemudian, masakan telah matang. Lantas kami makan siang bersama. Sungguh suasana yang penuh keakraban di dalam sebuah keluarga. Setelah makan, biasanya kami istirahat siang. Maklum, di keluargaku hari Ahad digunakan untuk rehat karena di hari lain kami full bekerja di luar rumah.
Gimana dik? Apa jawabanmu?,salah satu isi pesan dari Mas Irvan yang baru saja kubuka. Sejak dua jam yang lalu dia mengirimkan pesan itu.
Njenengan diminta bapak dan ibu untuk datang ke rumah. Beliau ingin kenalan dengan njenengan dulu, jawabku. Memang setiap kali aku berkomunikasi dengan lawan jenis, bahasa yang kugunakan selalu lugas, tegas dan to the point.
“OK. Kalau begitu minggu depan insha Allah saya akan ke rumahmu, bisa kan? balasnya lagi.
Insha Allah bisa, jawabku.
            Malampun bertandang. Banyak sekali tugas sekolah yang harus kuselesaikan. Terutama koreksian ulangan dari anak-anak. Sebentar lagi juga UTS. Masih ada beberapa materi yang harus kusampaikan. Kupejamkan mata, berharap di sepertiga malam bisa bangun untuk menunaikan sholat malam dilanjutkan dengan sholat Istikhoroh. Tak lupa untuk terus memohon petunjuk Allah agar diberikan pilihan terbaik.
           

                                    @                    @                    @


            Hari-hari kulalui begitu cepat, tidak terasa memang. Tiba-tiba satu minggu kulalui dengan penuh warna. Rasa susah, senang bercampur menjadi satu. Ada-ada saja yang kualami ketika harus mendampingi anak-anak. Hari Ahad pun tiba kembali.        
“Nanti jadi datang jam berapa Rin Masnya?,”tanya ibu sambil bersih-bersih rumah.
“Sore katanya Bu,”jawabku dengan membantu beliau.
            Walaupun akan ada laki-laki yang datang ke rumahku, perasaanku biasa saja. Padahal ini adalah pengalaman pertama seorang laki-laki berniat ingin memperkenalkan dirinya kepada orang tuaku. Karena ini kedatangannya yang pertama kali, Mas Irvan tidak serta merta langsung menyampaikan niatannya itu.
            Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. seperti janji Mas Irvan sebelumnya. Suara motor diparkirkan di depan rumah. Kulihat dari dalam, ternyata Mas Irvan sudah datang.
“Assalamu’alaykum,”sambil mengetuk pintu.
“Wa’alaykumussalam, mari masuk Mas,”bapak langsung mempersilakan Mas Irvan masuk.
            Aku hanya mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam sambil membuatkan minum. Tidak lama kemudian aku pun keluar dengan membawa senampan minuman dan camilan. Di ruang tamu sudah ada Mas Irvan, ibu, bapak dan adik. Setelah itu aku ikut duduk bersama mereka.
            Sebagai awalan, obrolan ringan pun terjadi. Antara Mas Irvan, bapak dan ibu saling bertukar informasi untuk lebih saling mengenal. Mas Irvan menceritakan secara detail terkait kondisi pribadi dan sekaligus kondisi keluarganya. Begitu juga dengan bapak dan ibu. Aku dan adik diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah dirasa cukup, Mas Irvan pun berpamitan pulang. Keburu sore karena beliau langsung pulang ke Yogya.
            Sepulangnya Mas Irvan, terjadi obrolan lebih lanjut dengan kedua orang tua.
“Gimana Rin? Apakah kamu sudah yakin?,” tanya ibu dan bapak.
“Kalau bapak menilai, orangnya baik, agamanya pun juga bagus, sekarang terserah Rina,”bapak memberikan penegasan.
“Rina insha Allah bersedia Pak,”jawabku tenang.
“Tapi ingat, pesan bapak dan ibu, Rina nikahnya tetep setelah lulus kuliah,”pinta Ibu.
            Memang, selain ngajar baru dua bulan ini aku menjalani perkuliahan semester pertama di Program Pascasarjana UNY. Tidak mengherankan jika orang tuaku menginginkanku untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Karena beliau paham, ketika menikah nanti akan bertambah amanah dan tanggung jawabku sebagai seorang istri. Ditambah lagi kalau Allah menganugerahiku seorang anak pertama, semakin bertambah tanggung jawabku. Selain sebagai seorang istri juga sekaligus sebagai seorang ibu.
            Jika aku menikah sebelum studi selesai, orang tua khawatir akan mengganggu konsentrasi kuliahku.karena banyak sekali pengalaman yang sudah terjadi, bahwasannya seorang wanita yang menikah di sela-sela studinya, tidak sedit mereka yang penyelesaian studinya semakin molor. Orang tuaku tidak mau hal itu terjadi padaku. Walaupun aku sendiri tidak masalah dan siap dengan apapun kondisinya. Namun, aku berusaha untuk memahami perasaan orang tuaku. Orang tua yang lebih berpengalaman dan lebih banyak makan garam. Di mana-mana orang tua menginginkan yang terbaik bagi putra-putrinya.
           

                                    @                    @                    @


            Tiga pekan sejak kedatangan Mas Irvan, doa-doa selalu kupanjatkan. Tiba-tiba terdengar pesan singkat di Hpku.
Gimana dik tanggapan orang tua? SMS dari Mas Irvan menanyakan perkembangan dari kedatangannya.
Orang tua memberikan respon positif, balasku.
Kamu sendiri bagaimana? Menerimaku tidak? Tanyanya lagi
Insha Allah saya terima, balasku.
lanjut.
Silakan, jawabku.
            Kembali aku semakin disibukkan dengan tugas-tugas. Selain tugas sekolah, masih ditambah dengan tugas kuliah. Program Pascasarjana memang menuntut mahasiswanya untuk mandiri. Lebih banyak pemberian tugas daripada penyampaian materi dari dosen. Aku mengambil kuliah week end Sabtu-Ahad.  Jadi sama saja selama satu minggu full aku PP Klaten-Yogya.
            Suatu hari....
“Rin, kamu kenapa? Sakit?,”tanya ibu khawatir.
“Rina pusing Bu,”jawabku sambil terbaring di tempat tidur, padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.
“Apa kamu izin saja ya ngajarnya?,”ibu memberiku saran.
“Iya Bu,”lantas akupun mengetik pesan singkat yang kukirmkan kepada Wakil Kepala bagian kurikulum.
Selama dua hari aku mengharuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Sepertinya memang kecapekkan, karena ini juga masih masa adaptasi antara mengajar dan kuliah.  Selesai makan, lalu minum obat yang diberikan oleh bu dokter.  Seketika itu juga aku teringat bahwa minggu ini Mas Irvan akan datang untuk melamarku. Bapak dan ibu sudah kuberitahu Ah....aku serahkan semuanya pada-Mu ya Allah....,batinku sambil menarik selimut untuk bergegas tidur dengan harapan besok sudah kembali pulih. Kasihan anak-anak kalau kutinggal terlalu lama.
Hari lamaran pun tiba.. tidak menyangka kalau Mas Irvan langsung mengajak keluarganya ke rumahku. Kami menyambut kedatangan mereka. Alhamdulillah kesehatanku telah membaik. Tanpa menunggu lama prosesi lamaran pun dimulai. Suasana yang khidmat. Dalam hati ada getaran yang menyusup. Entah getaran apa ini. Apakah dikarenakan ini adalah lamaranku yang pertama.
Di tengah-tengah perbincangan kami, ternyata pihak keluarga Mas Irvan menginginkan untuk akadnya dipercepat, paling lama sebelum Ramadhan. Tak lupa juga menjelaskan alasannya. Sedangkan orang tuaku tidak bisa memaksakan kehendak bahwasannya Mas Irvan harus menungguku sampai selesai kuliah. Karena masih terlalu lamanya jangka waktu jika harus menungguku selesai kuliah.
Akhirnya dibuat kesepakatan mengenai hari-H yang insha Allah akan diadakan bulan Maret. Terhitung tiga bulan lagi dari sekarang, bulan Desember. Selama jangka waktu tiga bulan itu kami sebisa mungkin harus bisa menjaga perasaan kami satu sama lain.  Tidak lama kemudian prosesi pun selesai. Alhamdulillah....akhirnya dapat berjalan lancar,dalam hatiku.


                                    @                    @                    @


            Waktu terus berjalan. UAS selama dua minggu telah kulalui. Sekarang sudah menginjak bulan Februari, tinggal satu bulan lagi aku akan menyempurnakan separuh dien. Terkadang merasa diri ini belum siap untuk menghadapi hari suci itu. Semoga ini yang tterbaik, buatku dan buat keluargaku, batinku.
            Malam hari ketika aku berbincang-bincang dengan ibu.
“Rin...sepertinya kamu harus tahu,”ibu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
“Setelah kamu dilamar sama Mas Irvan, Bapak dan Ibu tidak bisa tidur nyenyak,”lanjut ibu.
“Seperti tiidak percaya saja, benar gak sih kamu akan menikah. Bapak dan ibu semakin gelisah apalagi ini kurang satu bulan lagi. Yang membuat Ibu dan Bapak gelisah itu gara-gara kamu nikahnya pas kamu belum selesai kuliahnya. Bapak dan Ibu benar-benar belum mengikhlaskan,”ibu memaparkan apa yang selama ini beliau dan bapak rasakan.
            Seperti disambar petir di siang bolong. Ya Allah...maafkan aku...ternyata aku egois, aku tidak memperhatikan perasaan orang tuaku,tangisku dalam hati. Aku tidak mau ibu melihat kesedihanku. Untung saja selesai bicara ibu segera keluar. Seketika itu juga aku segera tidur dan ingin meredam gejolak di hatiku.
            Di sepertiga malam, aku menagis sejadi-jadinya. Di atas sajadahku, tidak peduli mukenaku basah karena linangan air mataku.
Ya Allah....maafkan aku....maafkan jika aku belum bisa membahagiakan orang tuaku. Justru aku hampir saja mengecewakan beliau hanya karena aku tidak menuruti apa nasihat orang tuaku. Hamba tidak mau menikah dalam kondisi orang tua belum sepenuhnya ikhlas melepasku. Apakah ini pertanda dari-Mu bahwa Mas Irvan bukan jodohku? Karena selama ini yang aku inginkan adalah menikah atas dasar restu-Mu dan restu orang tuaku. Jika orang tuaku belum sepenuhnya ikhlas memberiku restu, lebih baik aku batalkan saja lamaran ini. Aku rela sakit hati daripada orang tuaku yang menanggung rasa sakit hatinya karena anak perempuannya tidak bisa menurut nasihatnya. Jadikan ini sebagai tanda baktiku kepada orang tuaku ya Rabb...walaupun selama ini aku belum bisa membahagiakan beliau, minimal hamba tidak menyakiti dan membuatnya kecewa. Aku berjanji setelah ini sebagai bentuk baktiku kepada kedua orang tuaku, aku belum menerima pinangan laki-laki jika orang tuaku belum sepenuhnya memberiku restu, saat khusyuk aku memanjatkan doa. Semoga ini jalan terbaik, walaupun sangat sakit kurasa. Tapi demi orang tuaku, aku rela berbuat apa saja asal bisa membuat orang tuaku tersenyum bahagia ketika melihat anak-anaknya berumah tangga.
            Keesokkan harinya, aku langsung mengirim pesan pendek kepada Mas Irvan.
“Maaf Mas, saya terpaksa memutus ikatan lamaran ini karena orang tua saya belum sepenuhnya ridho dengan rencana pernikahan kita bulan depan.”
“Tidak kusangka dik, rencana kita tidak sesuai denggan harapan. Ya sudah, tidak apa-apa, mungkin kita belum berjodoh. Saya ikhlas dengan keputusanmu. Tolong sampaikan permintaan maaf saya dan keluarga kepada bapak dan ibu.
“Iya Mas.
            Semenjak saat itu, sudah tidak ada komunikasi sama sekali dengan Mas Irvan. Maafkan saya Mas, saya telah menyakiti hati njenengan, membuat njenengan kecewa atas keputusan saya, dalam hatiku. Setelah aku memutus lamaran Mas Irvan, orang tuaku sudah bisa berpikir tenang kembali. Rasa was-was yang selama ini beliau rasakan hilang seketika. Alhamdulillah.....
Teruntuk sebuah nama dalam setiap doaku yang aku belum mengetahui siapa gerangan engkau....
Izinkan aku untuk memantaskan diri sebelum dipersandingkan denganmu...
Izinkan aku untuk memperbaiki diri sebelum mendampingimu....
Izinkan aku untuk mempersiapkan diri sebelum menjadi makmummu....