Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2015

Kegundahan Hati Akan Nasib Bangsa Ini








Presented by Kareen el-Qalamy




              Pasca pemilu 2014 dan terpilihnya pasangan presiden dan wakil presiden, Jokowi dan Jusuf Kalla harapan akan kondisi bangsa dan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik nampaknya sedikit demi sedikit akan semakin luntur dan hilang. Realitas di lapangan lambat laun menunjukan hal tersebut. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pun semakin menyengsarakan rakyat.
Naik turunnya harga BBM sekehendak hati tanpa adanya alasan yang jelas, berhentinya Raskin dan BLT yang diterima rakyat kurang mampu – alih-alih akan diberi kartu sakti, sampai sekarang buktinya mana?, kenaikan tarif listrik, kenaikan tarif kereta api, nilai tukar rupiah anjlok, hukum kocar-kacir, kriminalitas semakin merajalela, mulai dibungkamnya kebebasan pers dan masih banyak lagi kebijakan-kebijakan yang semakin tidak karuan.
Entah sebagai warga negara saya sangat miris melihat kondisi bangsa semakin kian terpuruk. Jokowi yang masa kampanye dulu hadir bak pahlawan yang akan menyelamatkan kondisi bangsa ini dari segala krisis kehidupan, nyatanya apa, sekarang ketika sudah terpilih seolah-olah menghilang entah kemana, Indonesia berasa seperti tidak punya presiden. Para menterinya juga ikut-ikutan, katanya namanya kabinet kerja, tapi apa hasil yang sudah terlihat? Belum ada. Slogan-slogan dan janji-janji yang dulu pernah diteriakan saat kampanye nampaknya tinggal omdo alias omong doang  yang entah akan terealisasi atau tidak.
Itu baru sebatas kebijakan yang memperburuk kondisi bangsa, belum ditambah dengan kebijakan yang juga merugikan dan melukai hati umat Islam. Beberapa isu kebijakan kontroversi pernah akan diberlakukan, sebagai contoh penghapusan kolom agama di KTP, pengaturan doa di sekolah negeri agar takdominan Islam, pengusulan dedengkot Syiah di Indonesia untuk dijadikan Menteri Agama dan masih banyak lagi walaupun itu semua akhirnya tidak jadi diberlakukan. Terakhir isu terkait pemblokiran sejumlah situs Islam yang sekarang ini sedang ramai diperbincangkan di media massa.
Media elektronik seperti TV nampaknya sudah di-setting sedemikian rupa agar tidak memberitakan fakta-fakta yang terjadi terkait kondisi perpolitikan dan pemerintahan sekarang. Masyarakat sengaja disuguhkan dengan tontonan yang melenakan seperti entertaintment, batu akik dll. Hal tersebut mungkin dilakukan agar pemerintah tidak kelihatan boroknya dan menandakan pemerintah tidak mau dikritik. Para mahasiswa di berbagai daerah mulai turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka sengaja tidak diliput sama sekali.
Begitulah kondisi bangsaku dan umat Islam Indonesia sekarang. Ini baru beberapa yang bisa saya tuliskan. Mungkin masih banyak lagi yang tidak nampak dan tanpa disadari. Fenomena ini layaknya seperti gunung es di lautan. Masyarakat dan umat Islam harusnya segera sadar dengan kondisi pemerintahan yang semakin menampakkan tidak pro rakyat tetapi lebih ke pro kapitalis dan tidak pro Islam tetapi malah semakin memusuhi Islam dengan berbagai kebijakan kontroversionalnya. Sadar untuk mulai bersatu menggalang kekuatan untuk bisa memerangi itu semua. Zaman rezim Orde Baru saja bisa digulingkan apalagi sekarang. Sebelum kondisi semakin terpuruk dan umat Islam semakin dibatasi ruang geraknya untuk beribadah dan berdakwah.
Mungkin setelah membaca tulisan ini, ada sebagian kelompok atau rang yang menertawakan, silakan saja. Toh ini salah satu penyaluran aspirasi, kegundahan dan keprihatinan dan sebagai bentuk perhatian saya sebagai seorang warga negara yang ingin kondisi bangsanya berubah menjadi baik melalui tulisan. Harapannya dengan tulisan ini siapaun yang membaca akan tergerak hatinya, terutama mereka-mereka yang memiliki kekuasaan. Saya melakukan yang bisa saya lakukan. Semoga menginspirasi dan menggugah kesadaran masyarakat yang selama ini dininabobokan, padahal tanpa sadar mereka digiring ke lembah kehancuran. Na’udzubillahi min dzalik.  Maafkan apabila ada yang tersinggung dan kurang berkenan dengan tulisan saya. Semoga Allah masih berkenan mencurahkan rahmat-Nya untuk bangsa dan umat ini. Aamiin. Wallahu’alam.



Minggu, 15 Maret 2015

TPA di Pinggir Jalan




Presented by Kareen el-Qalamy




                Setiap makhluk-Nya mempunyai batasan usia masing-masing. Salah satunya termasuk tempat yang dihuni oleh manusia yaitu bumi. Bumi apabila diperhatikan dari masa ke masa (dilihat dari kondisinya), semakin hari semakin memprihatinkan saja. Terserah pembaca boleh sepakat boleh tidak dengan apa yang saya tuliskan di sini. Toh ini sekadar penilaian subjektif saya saja.
            Melihat kondisi bumi yang semakin parah ini menggelitik saya untuk menuangkan uneg-uneg yang ada di pikiran ke dalam tulisan ini. Dengan harapan semakin banyak orang yang membaca, semakin banyak orang pula yang tersadar untuk berubah mengubah pola hidupnya. Karena kebiasaan yang tidak baik di suatu masyarakat apabila terus dibiarkan saja maka lama-lama akan membudaya, menjadi suatu hal yang lumrah dilakukan, padahal awalnya berasal dari kebiasaan yang tidak baik.
            Khususnya bagi masyarakat Klaten dan sekitarnya (apabila ada yang merasa tersinggung saya minta maaf). Fenomena-fenomena ini sering saya jumpai. Pada awalnya hanya beberapa ruas jalan saja atau beberapa desa saja yang saya lihat. Akan tetapi nampaknya fenomena ini semakin meluas.
            Terkait dengan pengelolaan sampah. Memang sampah menjadi permasalahan yang nampaknya tidak ada habisnya dialami oleh suatu daerah atau wilayah. Apalagi daerah atau wilayah itu mengalami kepadatan penduduk. Sepertinya sudah kehabisan akal untuk menanggulangi sampah yang kian hari kian menumpuk.
            TPA (Tempat Pembuangan Akhir) istilah yang sering kita dengar kaitannya dengan sampah. Mau tidak mau sampah entah itu sisa rumah tangga atau limbah industri memerlukan area untuk dijadikan TPA. Di TPAlah sampah-sampah tersebut dibuang atau akan mendatangkan manfaat apabila bisa didaur ulang.
            Entah apa yang saya rasakan, sebel, gregetan, risih, jijik dan sebagainya. Bagi pembaca yang tinggal di sekitar Karangdowo, Pedan, Ceper jangan tersinggung karena apa yang saya gambarkan di sini adalah sebuah realita. Toh tidak semua tempat di Karangdowo, Pedan dan Ceper (atau masih ada daerah lain) yang mengalami kondisi yang sama seperti yang saya gambarkan. Atau bagi pembaca yang sering melewati jalan Cawas-Pedan, jalan Trucuk-Ceper, jalan Pedan-Karangdowo (maaf apabila saya salah menyebutkan nama jalannya,maklum bukan penduduk di tiga kecamatan tersebut) pasti mencim bau tidak sedap ditambah lagi pemandangan sampah yang berserakan di pinggir jalan. Seolah-olah pinggir jalan sudah beralih fungsi menjadi TPA.
Terkadang saya merasa heran, apakah orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jalan tersebut tidak merasa risih dan jijik? Bahkan nampaknya cuek dan acuh tak acuh seperti sudah menjadi pemandangan yang biasa dan lumrah. Jujur dalam hati saya merasa dongkol, kenapa hal seperti itu dibiarkan saja? Aparatur pemerintah desa atau kecamatan juga nampaknya menutup mata dengan pemandangan sampah menggunung di pinggir jalan.
Seperti tidak ada solusi yang dilakukan untuk menanggulangi pembuangan sampah sembarangan di pinggir jalan. Misal memberikan tindakan tegas bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan di pinggir jalan, mempersiapkan TPA yang layak dan jauh dari pemukiman atau aktivitas masyarakat dan memberikan apresiasi bagi aktivis lingkungan yang memberikan perhatiannya terhadap kelestarian lingkungan.  Atau memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang ketrampilan untuk bisa mendaur ulang sampah, minimal mendaur ulang sampah rumah tangga.
Jadi pinggir jalan yang seharusnya bisa ditanami pepohonan dan berfungsi untuk mengurangi polusi udara, malah semakin menambah pencemaran udara berupa bau yang tidak sebab akibat sampah yang menggunung. Pencemaran yang diakibatkan oleh sampah tidak sebatas pada pencemaran udara saja, tetapi juga pencemaran tanah dan air yang ada di lingkungan sekitar. Semoga segera ada tindakan dari aparatur pemerintah desa, kecamatan atau kabupaten. Selain itu juga diperlukan kesadaran dari masyarakat untuk tetap melestarikan kebersihan lingkungan, minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan. Karena kondisi lingkungan masyarakat itu mencerminkan kebiasaan hidup masyarakat juga. Kalau kondisi lingkungan kumuh, kotor, jorok, bisa diambil kesimpulan bahwasannya masyarakat yang mendiami lingkungan tersebut juga memiliki gaya hidup kumuh, kotor dan jorok.

Jumat, 11 Juli 2014

Euphoria Piala Dunia VS Ramadhan


Presented by Kareen el-Qalamy



                Bagi yang mania bola tentu tidak akan melewatkan sedikitpun momen pertandingan piala dunia 2014. Bahkan tidak terasa sudah sampai di penghujung pertandingan. Dua tim raksasa masing-masing perwakilan dari dua benua yang berbeda berhasil lolos di babak final. Tim Jerman mewakili dari benua Eropa, sedangkan Argentina mewakili dari benua Amerika Latin. Nampaknya pertandingan final akan berlangsung sangat sengit karena kemampuan kedua tim yang hampir seimbang.
            Di sisi lain seluruh umat Islam di dunia ini juga sedang menjalankan dan menikmati datangnya Ramadhan. Dimana Ramadhan diiringi dengan ibadah puasa dan memperbanyak amalan-amalan ibadah yang lain. Umat muslim dituntut untuk ber-fastabiqul khoirot agar mendapatkan gelar takwa. Bahkan janji-Nya, pintu syurga dibuka selebar-lebarnya dan syaitan dibelenggu. Nampaknya menjadi salah satu keistimewaan Ramadhan, karena bisa merubah orang yang awalnya merasa berat untuk melangkahkan kaki ke masjid menjadi ringan dan rajin.
            Momen piala dunia vs Ramadhan harus disikapi sebijak mungkin. Sah-sah saja ikut larut dalam pesta bola dunia ini, asal tidak mengganggu kekhusyukan ibadah di bulan Ramadhan. Agar kepuasan yang didapat setelah menonton bola lantas tidak juga mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala dari amalan yang dilakukan. Intinya proporsi harus seimbang atau istimror, balance. Tidak hanya sebatas memenuhi kepuasan akan hobi tetapi juga kepuasan ruhiyah harus selalu terpenuhi. So, Piala Dunia vs Ramadhan? Why not?
           

Kamis, 03 Juli 2014

Hiruk Pikuk Pemilu 2014






Presented by Kareen el-Qalamy


               
Tahun 2014 merupakan momen spesial bagi bangsa Indonesia. Setelah bulan April berlalu dengan terselenggaranya pemilihan legislatif. Nampaknya suasana belum mereda bahkan semakin memanas saja seiring mendekati hari H pemilihan eksekutif yaitu pemilihan presiden dan wakil presiden.
            Tanggal 9 Juli, sudah di depan mata. Persaingan kedua pasang calon semakin ketat saja. Memang, pemilu tahun ini berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana hanya ada dua pasang calon saja yang meramaikan bursa pencapresan. Padahal tahun-tahun sebelumnya diramaikan oleh lebih dari dua pasang, bahkan pernah terjadi pemilu presiden ada lima pasang calon.
Di sisi lain juga tidak mengherankan, dikarenakan dilihat dari segi perolehan suara tiap-tiap partai politik hampir sama atau dipukul rata. Hal ini sangatlah jarang terjadi, bahkan partai pemenangpun tidak bisa memenuhi quota target minimal perolehan suara sehingga mau tidak mau harus berkoalisi dengan partai lain agar bisa mencalonkan kadernya untuk bisa duduk di bursa pencalonan presiden.
Dua pasang ini pun jika dilihat dari track record-nya sama-sama kuat. Perolehan suara hasil survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa kedua pasang berpotensial mendapatkan suara yang hampir sama atau sedikit sekali selisihnya. Hal ini memungkinkan terjadinya pemilihan presiden dilakukan tidak hanya satu putaran. Nampaknya membuat masyarakat semakin gemas saja karena ingin segera tahu kira-kira siapakah presiden yang terpilih untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Memanasnya situasi perpolitikan nampaknya berdampak kepada kondisi media-media Indonesia. Entah itu media cetak maupun elektronik, hampir mayoritas  isi pemberitaan yang ada tidak pernah luput dari pemberitaan pemilu. Baik itu safari kampanye yang dilakukan oleh masing-masing pasang calon maupun informasi terkait persiapan – yang dilakukan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) – dalam penyelenggaraan pesta rakyat ini.
Dalam pemilu, yang dicalonkan sudah ada, tidak lengkap jika tidak ada pemilihnya. Pemilihnya di sini tidak lain dan tidak bukan yaitu masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia harus antusias menyambut pemilu ini. Maka sudah tidak zamannya lagi kata-kata’golput’. Karena pemilu ini sangatlah penting, walaupun hanya lima menit bahkan kurang, itulah nantinya yang akan menentukan nasib Indonesia ke depan. Jika kita acuh, cuek dan paling buruknya lagi ‘golput’ apakah masih pantas disebut sebagai muslim?
Seorang muslim yang mempunyai karakteristik syamil, dalam hal ini tidak memilah-milah dan mau menerima semua ajaran Islam dari berbagai bidang, disebut juga ‘syumuliatul Islam’. Jadi Islam tidak hanya sebatas di masjid saja. Tetapi juga mencangkup bidang pemerintahan dan bernegara. Sehingga menciptakan pemerintahan islam merupakan suatu keniscayaan yang harus selalu diperjuangkan. Dalam buku Manhaj Haroki karangan Syaikh Munir Muh. Al-Ghadban salah satu pondasi yang dibangun oleh Rasulullah ketika hijrah dan salah satu tahapan/periodisasi dakwah yaitu mendirikan negara.
Oleh sebab itu, seorang muslim tentu tidak rela ketika kepemimpinan nantinya jatuh ditangan orang yang mengancam atau bahkan tidak melindungi sama sekali hak dan kepentingan umat Islam. Juga setelah pemimpin terpilih, tidak ada masyarakat di daerah tertentu merasa dirugikan. Maka menjadi seorang muslim sekaligus pemilih, haruslah cerdas, cerdas dalam menentukan pilihan nantinya. Memilih pemimpin yang cerdas, itulah tolak ukur suatu masyarakat dikatakan cerdas pula. Jadi tunggu apalagi, pertimbangkan sebaik mungkin sebelum memilih. Tidak asal ikut-ikutan tetapi juga harus mencari informasi sebanyak-banyaknya dan jangan mudah terpercaya oleh pemberitaan yang terjadi khususnya kampanye hitam. Masyarakat cerdas, wajib memilih pemimpin yang cerdas pula agar dapat membawa perubahan bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi. Indonesia harus bangkit, bangkit menyongsong perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena apabila suatu bangsa yang hari esok lebih baik kondisinya daripada hari ini, itulah bangsa yang beruntung
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Mulai dari diri sendiri, saat ini dan yang paling kecil. Yang paling kecil di sini adalah pemilu. Walaupun kelihatannya sepele, tetapi jangan dianggap remeh karena pemilu akan berdampak besar bagi perubahan bangsa untuk mencapai negara Baldatun toyyibatun warafun ghafur. Aamiin ya Rabb...











Senin, 04 November 2013

Malioboro Surganya Pejalan Kaki


Presented by Kareen el-Qalamy



            Yogyakarta dengan banyak slogan di dalamnya. Kota Pelajar, kota Budaya dan yang lebih menonjol yaitu menjadi satu-satunya daerah yang mempunyai keistimewaan. “Yogya Berhati Nyaman”baru saja merayakan hari jadinya yang ke-257. Usia yang dianggap tidak muda lagi bagi berdirinya sebuah provinsi dengan lima kabupaten ini.
            Sejarah juga membuktikan bahwasannya Yogyakarta menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia di zaman penjajahan. Penduduk mana yang tidak bangga jika daerahnya dulu pernah dijadikan sebagai ibukota negara walaupun hanya sementara. Bangunan-bangunan kuno berarsitektur Belanda masih berdiri kokoh menghiasi Yogya.
            Hal tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik itu domestik maupun manca. Tidak mengherankan jika Yogya dibanjiri turis di beberapa objek wisata. Yogya juga mempunyai banyak variasi objek wisata. Objek wisata bernuansakan alam, sejarah dan budaya.
            Ada yang menarik dari objek wisata budaya, yaitu Malioboro. Malioboro merupakan salah satu tempat yang berfungsi sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat Yogya. Mengapa tidak? Hal ini terbukti bahwasannya di sepanjang sisi jalan Malioboro dipadati oleh pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Barang dagangan yang dijajakan pun tidak sembarangan. Tidak mengherankan jika Malioboro menjadi referensi utama bagi para wisatawan untuk berburu oleh-oleh khas Yogya.
            Pada umumnnya wisatawan yang berkunjung ke objek wisata yang dipilih adalah dari segi kenyamanan. Malioboro sebagai salah satu objek wisata juga sudah selayaknya harus memperhatikan hal itu. Terutama kenyamanan bagi para pejalan kaki.
Saat ini Malioboro lebih dipadati oleh kendaraan baik itu beroda empat maupun beroda dua. Hal itu berdampak pada tidak adanya lahan parkir. Kalaupun ada, bukan lahan parkir sebenarnya yang dipakai namun trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki. Tidak hanya dipakai untuk lahan parkir tetapi juga dipakai untuk tempat berdagang. Hal ini sangatlah disayangkan.
Perlu adanya tindakan khusus dari pemerintah Yogyakarta untuk menanggulangi permasalahan tersebut. Dibuat semacam peraturan daerah terkait Malioboro bebas kendaraan misalnya. Setelah itu perlu ditindaklanjuti dengan mencari dan menentukan tempat parkir yang layak sebelum memasuki kawasan Malioboro sebagai gantinya. Dengan demikian siapapun yang ingin berkunjung ke Malioboro harus memarkirkan terlebih dahulu kendaraannya di luar kawasan dan memasuki Malioboro dengan berjalan kaki.

Kamis, 17 Oktober 2013

Sang Pemangsa Predator


Presented by Kareen el-Qalamy


Sudah tidak disangsikan lagi bahwasannya Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam. Khususnya terkait kekayaan flora dan fauna. Beribu bahkan berjuta spesies flora dan fauna yang hidup tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Kekayaan alam ini tentu sangat menguntungkan bagi Indonesia karena bisa dijadikan sebagai salah satu alat untuk menopang kehidupan atau sebagai salah satu sumber penghasilan. Sektor perikanan, pertanian, perkebunan dan peternakan sudah membuktikan hal tersebut. Sangat beragamnya jenis ikan dan hewan laut merupakan komoditas dari sektor perikanan dan kelautan. Beranekaragam jenis tumbuhan layak konsumsi juga mendukung pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian dan perkebunan. Bervariasinya hewan ternak yang dapat hidup di iklim Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sektor perikanan dimana masyarakat yang hidup di daerah pesisir tentu sangat menggantungkan hidupnya dengan berprofesi sebagai nelayan. Banyak sedikitnya penghasilan dari hasil melaut sangat bergantung pada banyak sedikitnya jumlah tangkapan dan jenis tangkapannya. Salah satu komoditas tangkapan nelayan yang paling menjanjikan yaitu ikan jenis hiu.
Ikan hiu menjadi komoditas tangkapan yang paling diminati karena terbukti akan kelezatan siripnya ketika diolah menjadi santapan. Ditambah lagi sirip ikan hiu mengandung khasiat sebagai penambah stamina dan orang yang mengkonsumsi sirip ikan hiu akan awet muda. Namun, ternyata khasiat yang selama ini disebut-sebut ada dalam sirip hiu tersebut hanya mitos belaka. Beberapa ahli kesehatan sudah membuktikannya.
Sekarang ini penangkapan hiu semakin marak dilakukan. Berdasarkan data dari Data FAO. Hiu telah menjadi perhatian global. Setidaknya 8,000 ton sirip hiu kering diperdagangkan secara global setiap tahunnya. Data FAO (2010) juga menunjukkan, Indonesia berada pada urutan teratas dari 20 negara penangkap hiu terbesar di dunia. Negara tujuan ekspor sirip ikan hiu diantaranya Cina dan Singapura. Padahal jelas-jelas sudah ada peraturan bertaraf internasional yang mengatur akan larangan perburuan ikan hiu tersebut. Ikan hiu dikhawatirkan akan mengalami kepunahan karena perburuan besar-besaran yang dilakukan hanya karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar.
Sumber dari Wikipedia menyebutkan ikan hiu adalah sekelompok (superordo Selachimorpha) ikan dengan kerangka tulang rawan yang lengkap  dan tubuh yang ramping. Mereka bernapas dengan menggunakan lima liang insang (kadang-kadang enam atau tujuh, tergantung pada spesiesnya) di samping, atau dimulai sedikit di belakang, kepalanya. Hiu mempunyai tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari parasit, dan untuk menambah dinamika air. Mereka mempunyai beberapa deret gigi yang dapat digantikan.
Hiu mencakup spesies yang berukuran sebesar telapak tangan. Hiu pigmi, Euprotomicrus bispinatus, sebuah spesies dari laut dalam yang panjangnya hanya 22 cm, hingga hiu paus, Rhincodon typus, ikan terbesar yang mampu tumbuh hingga sekitar 12 meter dan yang, seperti ikan paus, hanya memakan plankton melalui alat penyaring di mulutnya. Hiu banteng, Carcharhinus leucas, adalah yang paling terkenal dari beberapa spesies yang berenang di air laut maupun air tawar (jenis ini ditemukan di Danau Nikaragua, di Amerika Tengah) dan di delta-delta.
Hiu umumnya lambat mencapai kedewasaan seksualnya dan menghasilkan sedikit sekali keturunan dibandingkan dengan ikan-ikan lainnya yang dipanen. Hiu membutuhkan rentang waktu 2-3 tahun untuk bereproduksi. Keturunan yang dihasilkannya pun sangatlah sedikit karena hanya berjumlah 1-10 ekor anakan. Hal tersebut membutuhkan upaya keras dari berbagai pihak untuk melestarikan jenis ikan hiu atau kalau perlu diadakan konservasi dengan cara penangkaran hiu dari proses perkawinan sampai kelahiran anak hiu lantas ketika sudah waktunya dilepaskan kembali ke habitat aslinya.
Bisa dibayangkan jika hiu yang notabene menempati posisi rantai makanan teratas alias sebagai predator menghilang dari peredaran atau punah. Hal ini akan mengakibatkan terputusnya rantai makanan dan menimbulkan ledakan populasi jenis ikan yang berada di bawahnya. Terputusnya rantai makanan dan timbulnya ledakan populasi karena mereka tidak ada yang memangsa sehingga akan saling serang dan memangsa satu sama lain untuk memperebutkan makanan. Kalau sampai hal itu terjadi betapa kacaunya kehidupan bawah laut.
Indonesia sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengatur terkait pengelolaan sumber daya alam. Hal tersebut dapat dilihat dalam Bunyi pasal 33 UUD 1945 sebagai berikut : ayat (3) menyebutkan ; Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ayat (4), Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional dan ayat (5); Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Jadi sumber alam yang ada dikelola oleh negara secara adil agar dapat dimanfaatkan oleh rakyat dengan semaksimal mungkin.
UUD 1945 pasal 33 ayat 3 dan 6 ini tidak bisa berdiri sendiri. Harus dibuat lagi semacam peraturan perundang-undangan yang secara khusus untuk melarang penangkapan ikan hiu. Lebih bagus lagi seperti apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah raja Ampat. Pemerintah daerah raja Ampat dengan tegas  mengeluarkan semacam peraturan daerah (perda) yang berisikan larangan penangkapan dan perdagangan ikan hiu. Akan lebih maksimal jika usaha dari pemerintah raja Ampat juga diikuti oleh daerah-daerah lain agar populasi ikan hiu dapat terselamatkan dan generasi mendatang masih menjumpai hewan predator ini.