Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Di Balik Keceriaannya


Presented by Kareen el- Qalamy

          
          Menjadi seorang pendidik di sebuah lembaga pendidikan tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Pendidik – bagi seorang perempuan – memang sudah menjadi kewajibannya. Kewajiban setiap perempuan kelak ketika Allah menitipkan jiwa yang fitrah. Kemudian dididik hingga mencapai dewasa. Tetapi kalau mendidik anak orang lain, tidak ada ikatan darah sama sekali merupakan tantangan luar biasa. Bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani.
            Mengapa tidak? Pendidik harus bisa memahami dan masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Dunia anak-anak yang nampak sangat mengasyikkan, menyenangkan tanpa adanya setitik noda kesedihan. Yang ada hanyalah kegembiraan dan kesenangan tiada henti. Memang dunia anak identik dengan dunia bermain. Jadi jangan heran jika anak-anak tidak mengenal kata lelah untuk terus bermain.
            Nampaknya inilah yang sedang aku nikmati sekarang. Profesi sebagai seorang pendidik. Apalagi anak didikku anak-anak Sekolah Dasar (SD). Minggu-minggu awal memang kuakui melelahkan bahkan menjengkelkan ketika harus berhadapan dengan anak-anak. Akan tetapi seakan-akan semuanya itu sirna ketika aku mulai memahami psikologi anak-anak.  Yang awalnya aku sangat sulit mengkondisikan mereka untuk tenang saat belajar di kelas, sulit mengatur mereka agar mau tenang saat sholat, sedikit demi sedikit dapat kuatasi. Ditambah lagi kalau ada anak yang nangis dikarenakan bertengkar dengan temannya, terkadang dibuat bingung kira-kira bagaimana mengatasinya.
Maklum masih amatiran, begitulah usahaku untuk menghibur diri. Kuanggap sebagai sarana pembelajaran sebelum aku benar-benar menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak. Dan sekarang, alhamdulillah menangani anak-anak sudah menjadi hal biasa bagiku. Setiap hari ada-ada saja yang mereka lakukan, entah itu BAB di celana, ngompol, sakit dan berulah macam-macam tidak menjadi masalah bagiku. Dunia anak-anak seakan-akan menjadi hal yang unik bagiku.
Ada sebuah peristiwa yang membuatku terkesan berkaitan dengan dunia anak-anak. Di saat aku mengajar matematika di kelas 2, ada seorang anak putra yang memang terlihat cerdas di mataku. Dia cepat sekali paham dengan apa yang aku jelaskan. Padahal dia tipe anak yang tidak bertahan lama untuk duduk diam di kursinya. Pasti setelah beberapa menit dia mulai jalan-jalan di dalam kelas, terkadang menggoda temannya yang lain sehingga menimbulkan kegaduhan di kelas. Tiba – tiba datang pak satpam menengok dari luar pintu. Lantas aku pun menghampiri beliau, nampaknya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku.
Setelah kuhampiri, ternyata ada seorang bapak-bapak, dan aku pun secara spontan berpikiran bahwa bapk-bapak tersebut adalah ayah dari salah seorang siswa di kelas. Setelah kutanya maksud kedatangan beliau, beliau ingin meminta izin untuk menjemput anaknya. Dan anak yang dimaksud adalah anak laki-laki cerdas yang bernama Irsyad. Lantas aku langsung menghampiri Irsyad, memberitahukan bahwa ayahnya datang menjemput.
Ada hal aneh yang kutangkap dari peristiwa itu. Biasanya seorang anak yang dijemput orang tuanya pasti memancarkan raut wajah senang dan ceria. Namun sangat berbeda dengan Irsyad. Dia malah menangis, seakan-akan tidak mau dijemput ayahnya. Sungguh kejadian yang aneh buatku. Walaupun dia tidak mau dijemput, tetap saja ayahnya memaksa membawa Irsyad keluar kelas untuk dijemput pulang. Kejadian itu terus membuatku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
Rasa penasaranku aku lampiaskan dengan bertanya kepada wali kelas 2 yang kuajar. Tiba-tiba sontak dibuat kaget atas penuturan wali kelas bahwasannya Irsyad dalam posisi keluarga broken home. Orang tuanya dalam tahap perceraian. Ya Allah....Irsyad....seorang anak yang selalu terlihat ceria, ternyata menyimpan permasalahan yang sangat pelik menyangkut kondisi keluarganya.
Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Mendadak rasa bersalah pun muncul di dalam hatiku. Takut kalau dia dibawa lari ayahnya karena menjadi rebutan antara ayah dan ibunya. Sedangkan selama ini Irsyad tinggal bersama ibunya. Sangat masuk di akal juga kalau ayahnya rela menjemput ke sekolah dan membawanya ke Purworejo karena kangen. Anak-anak, anak-anak, di balik keceriaan mereka terkadang punya arti tersendiri di kehidupan mereka.
            

Jumat, 26 Juli 2013

Ramadhan Kenangan (Part 2)



Presented by Kareen el-Qalamy



Lanjut . . . . .
            Nuansa pedesaan yang asri, nyaman, tenang dan damai. Begitulah yang aku rasakan setelah selang satu minggu sejak penerjuan KKN. Nampaknya aku sudah mulai bersahabat dengan lingkungan alam di sini, Sawah, Girisekar, Panggang. Walaupun hawa dingin sering kali menyergapku, namun itu tidak mengurangi akan ikatan kekeluargaan yang mulai terjalin antara kami, mahasiswa KKN dengan warga setempat.
            Sungguh sangat berbeda dengan apa yang selama ini aku rasakan ketika Ramadhan di rumah. Ramadhan kali ini memang spesial. Apa yang aku rasakan semuanya berbeda. Dari bapak-bapaknya yang ramah, ibu-ibunya yang baik, apalagi remaja dan adik-adik TPAnya lucu-lucu. Terkadang menjengkelkan juga ketika kami mengajar TPA tidak sedikit yang ramai sendiri. Sampai-sampai suara kami dibuat habis oleh mereka karena harus mengkondisikan supaya tenang.
            Di minggu pertama kami masih dalam tahap menganalisis kondisi masyarakat sekitar. Kira-kira apa yang mereka butuhkan. Warga Sawah terkenal dengan mata pencahariannya sebagai seorang petani. Mereka mempunyai banyak ladang. Jenis tanaman pertaniannya saat itu adalah ketela. Maklum memasuki musim kemarau, tanaman yang cocok dan dapat bertahan hidup di tanah gersang tidak ada pilihan lain selain ketela. Maka tidak mengherankan jika hampir setiap rumah pasti terdapat ketela – baik itu yang sudah dikupas kulitnya atau baru saja dicabut dari ladang atau kebun – bertebaran di halaman depan rumah mereka.
            Dari situlah kami berinisiatif membuat program bagaimana agar usaha pertanian ketela mereka maju. Di sisi lain, ternyata mereka masih awam terkait pengolahan ketela. Warga mengolah ketela sebatas diolah menjadi beras ketela, gaplek dan tiwul. Padahal kalau kita melihat di kota, ketela dapat diolah menjadi variasi menu makanan. Oleh sebab itu, kami berinisiatif untuk membuka wawasan masyarakat setempat untuk dapat mengolah ketela lebih variatif lagi. Atau sekaligus dijadikan sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.
            Program yang kami buat sangatlah banyak. Mulai dari program individu maupun kelompok. Untuk program individu, ada yang harus berkaitan dengan program studi masing-masing dan ada yang sifatnya bebas. Berhubung program studiku pendidikan matematika, mau tidak mau aku membuat program yang ada kaitannya dengan pendidikan matematika juga. Aku sadar betul salah satu potensi yang harus di bangun di masyarakat Sawah berawal dari anak-anak. Lantas aku muncul ide untuk membuat program yang sasarannya cocok untuk anak-anak. Alhamdulillah, di dusun Sawah sarana pendidikannya lumayan lengkap, ada TK dan SD. Saat itu terbersit dalam benakku membuat program bimbel (bimbingan belajar) khusus matematika untuk anak SD dan membuat alat peraga matematika berupa bangun ruang di SD kelas 5. Untuk program yang sifatnya bebas, aku berinisiatif membuat kelompok pengajian ibu-ibu dan lomba TPA.
            Sedangkan, untuk program kelompok yang paling berkesan saat itu adalah mengenai seminar ketela diiringi dengan lomba masak berbahan dasar ketela dan pengajian akbar memperingati malam Nuzulul Qur’an. Untuk lomba masak dan seminar ketela, kami menjalin kerja sama dengan salah satu restoran ketela di Yogya. Sedangkan, untuk pengajian Nuzulul Qur’annya bisa dibilang sukses karena jumlah peserta pengajian yang hadir sungguh di luar perkiraan. Mengapa? Selain gabungan dari tiga masjid dalam satu dusun, juga kondisi alam yang memang saling berjauhan antara RT satu dengan RT yang lain. Kami mengambil tempat di balai dusun dengan pertimbangan agar tidak menimbulkan kecemburuan antar jamaah masjid. Di samping itu juga sekaligus mengakrabkan antar jamaah di tiga masjid tersebut. Maklum, di desa nuansa ormas Islamnya masih sangat kuat. Satu masjid bernuansakan Muhammadiyah, sedangkan duanya lagi NU.
            Sungguh, sangatlah menyenangkan menjalani hari-hari Ramadhan di Sawah, Panggang, GK. Tidak terasa hampir tiga minggu. Padahal KKN jangka waktunya dua bulan. Itu saja belum terkurangi libur lebaran. Ah...terasa mempunyai tambahan keluarga baru. ..... To be continue.

Selasa, 16 Juli 2013

Bertemu di Pra Ramadhan



Created by Kareen el-Qalamy



            Jodoh, memang kekuasaan Allah. Tidak ada yang bisa menebak. Allahlah yang Maha Menentukan apa-apa yang terbaik terutama terkait pasangan hidup. Walaupun sudah menjalin hubungan sekian lama, kalau tidak jodoh tidak bakalan bertemu.
            “Fatimah, apa yang kamu lakukan di sini sendirian?”tanya Eva membuyarkan lamunanku.
            “Eh...enggak...Enggak ngapa-ngapain kok Va,”ekspresiku nampak gugup melihatnya.
            “Hayo...jangan-jangan ngelamun lagi nih, akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun. Ada apa ta sebenarnya?Mbok ya cerita,”Eva melihatku dengan wajah serius.
            “Aku lagi bingung Va,”balasan atas pernyataan Eva yang memintaku untuk cerita. Di siang hari yang sangat terik di sebuah sudut fakultas sambil menikmati taman yang dipenuhi bunga warna-warni. Lantas akupun dengan terpaksa menceritakan permasalahan yang selama ini menggelayut di pikiranku.
            “Apa?Dijodohin?Serius Fa?”Eva nampak terkejut setelah mendengar ceritaku.
            “Serius Va. Apa aku pernah bohong kepadamu?”aku berusaha meyakinkan sahabatku satu-satunya yang paling dekat denganku.
            “Terus bagaimana dengan perasaanmu dengan ikhwan itu?Bukannya kamu menyukai ikhwan lain?”
            “Iya, aku memang menyukai ikhwan lain, tetapi aku tidak bisa melakukan apapun Va. Memang sebaiknya rasa suka itu lebih baik aku simpan dan aku pendam dalam-dalam”seketika itu juga wajahku berubah memerah dan pada akhirnya air mataku tidak terbendung juga.
            “Sudah-sudah, sebaiknya diistikharahkan dulu, minta petunjuk ke Allah, semoga dipilihkan jalan terbaik,”Eva berusaha menenangkanku.
            Eva memang sahabat terbaikku. Dia mengenal betul akan kepribadianku. Pribadi yang sangat kuat memegang prinsip yang telah dimilikinya. Selama ini aku mempunyai cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke S2 terlebih dahulu daripada menikah. Terkait perasaanku dengan ikhwan lain, itu juga tidak bisa aku pungkiri.
            Aku secara diam-diam menaruh rasa suka kepada salah satu ikhwan sesama aktivis dakwah kampus. Selama ini yang tahu hanya aku, Eva dan Allah. Itu pun aku juga tidak tahu menahu apakah ikhwan tersebut juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Sampailah di saat Abi menyodorkanku sebuah blangko biodata seorang ikhwan. Sejak saat itu aku sudaah bisa menerka apa yang ada di jalan pikiran Abi dan Umi. Menjodohkanku, iya menjodohkanku dengan ikhwan yang ada di biodata itu.
            Sekilas ketika aku membaca biodata itu, sekilas aku sangat terpukau dengan kepribadiannya. Pribadi yang sudah tidak diragukan lagi, ikhwan yang notabene juga seorang aktivis dakwah kampus. Dia juga sekaligus menjadi mentor untuk tutorial keagamaan yang diadakan di kampusnya. Di dalam biodata tersebut juga tertempel sebuah foto yang menunjukkan parasnya. Kalau aku yang menilai, aku tidak bisa mengira-ira apakah wajah di dalam foto itu tampan atau tidak.
            Lantas aku pun berkali-kali melakukan sholat istikharah terkait dua pilihan yang mana yang terbaik buatku. Setelah selang tiga hari aku meminta waktu kepada Abi untuk memberikan jawaban.
            “Gimana Fa?Keputusanmu?”tanya Eva ketika itu berkunjung ke kosku.
            “Bismillah, atas jawaban dari sholat istikharah yang telah aku lakukan, nampaknya aku semakin yakin akan pilihan kedua orang tuaku Va,”jawabku.
            “Berarti kamu menerima ikhwan pilihan orang tuamu?”Eva setengah terkejut mendengar pernyataanku.
            “Iya, kamu pasti memikirkan bagaimana perasaanku dengan ikhwan yang selama ini aku sukai? Sudahlah, aku sudah membuang jauh-jauh rasa suka itu. Aku ikhlas dengan apa yang Allah pilihkan untukku karena aku yakin itulah yang terbaik,”sambil memeluk Eva yang selama ini sangat perhatian terhadapku.
            Setiap orang pasti sudah Allah tentukan terkait jodoh. Tinggal menunggu saja saat yang tepat untuk dipertemukan. Itupun juga tidak lepas dari yang namanya ikhtiar. Akhir bulan Juni menjadi saksi akan perjalanan hidupku. Waktu yang kurang dari lima menit namun sangat sakral bagiku akhirnya mengubah semuanya. Mengubah akan statusku, akan hak dan kewajibanku. Tepat H-9 Ramadhan aku menyempurnakan separuh dien. Tidak menyangka aku bisa mempunyai kesempatan lebih untuk meraih berkahnya ketika statusku sudah menjadi seorang istri. Dikarenakan secara otomatis semua amalan ibadah akan dilaksanakan bersama dan tentu itu akan terasa lebih nikmat.
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah akan surprise yang telah Engkau berikan.



Selasa, 09 Juli 2013

Ramadhan Kenangan (Part 1)


Presented by Kareen el-Qalamy



Ramadhan, akhirnya datang juga. Bulan yang sangat spesial, tentunya bukan hanya untukku tetapi juga umat muslim di seluruh dunia. Bulan yang sangat dinanti-nanti kehadirannya dan meninggalkan kesedihan yang sangat ketika pergi. Bulan yang penuh berkah dan maghfirah-Nya. Membuat setiap orang berlomba-lomba ingin mendapatkannya.
            Tidak terasa sudah memasuki Ramadhan 1434. Tidak terasa satu tahun berlalu – sepertinya baru kemarin Ramadhan 1433 pergi meninggalkan kita – dan terucap syukur masih dipertemukan dengan Ramadhan 1434 H. Namun tetap saja Ramadhan 1433 H sangatlah berkesan bagi penulis pribadi, mengapa? Kita simak bersama flash back Ramadhan 1433 H.
            Ramadhan 1433 H, tepatnya puasa tahun kemarin. Memang ada apa sih? Nampaknya kok spesial banget?? Yups....betul sekali, memang benar kalau Ramadhan tahun lalu dirasa sangatlah spesial, meninggalkan berjuta kenangan indah yang mungkin tidak akan terjadi lagi. Tepatnya ketika aku memutuskan mengambil SP (Semester Pendek) untuk menjalani liburan, mengisinya dengan kegiatan KKN. Pada awalnya terasa sangat berat kujalani. Mau seperti apa nanti jadinya tidak bisa aku bayangkan.
            Diawali dengan proses pendaftaran, pembagian kelompok KKN, pembekalan sampai penerjunan di tempat KKN. Saat pendaftaran, alhamdulillah tidak ada hambatan, lancar-lancar saja. Setelah itu pengumuman pembagian kelompok+lokasi KKN. Ternyata tanpa disangka aku memperoleh kelompok yang beranggotakan 9 orang, yang terdiri dari 4 putra dan 5 putri. Ketika diminta untuk ngumpul per kelompok orang-orangnya sih kelihatannya kok pada serius-serius kayak gitu. Aku berusaha mengenali mereka satu per satu. Namanya Iqbal, Ridwan, Rio, Umam, Shofi, Nila, Asya, Mulat dan aku. Lalu pembentukan pengurus kelompok yang saat itu terpilihlah Umam sebagai Pak Ketua, aku – secara terpaksa – jadi sekretaris, Asya jadi Bu bendahara dan sie-sie yang lain. Sampai-sampai aku lupa sie-nya apa saja. Setelah pertemuan pertama dengan teman kelompok setelah berkenalan dan saling bertukar no.HP, pertemuan-pertemuan selanjutnya sering kami lakukan.
            Hingga sampailah kami sepakat untuk mensurvei lokasi KKN sebelum penerjunan. Kami mendapatkan lokasi KKN di Gunung Kidul. Nama dukuhnya Sawah, desa Girisekar, kecamatan Panggang. Jalan yang berkelok, naik turun, pemandangan serba pegunungan di mana-mana, itulah gambaran yang ada di benakku. Sesampainya di sana kami lantas berkenalan dengan keluarga Pak Dukuh yang nantinya akan digunakan sebagai tempat tinggal kami selama KKN. Pak Anjar, begitulah sapaan akrab beliau selaku ketua dukuh Sawah. Ibu Rita, istri dari Pak Anjar dan 2 orang anaknya Anggit yang saat itu duduk di bangku SMP kelas 1 dan Bagus yang masih TK.
            Beberapa lama kami bercengkrama, taklupa diawali dengan menyampaikan maksud kedatangan kami dengan didampingi oleh DPL (Dosen Pendamping Lapangan) lanjut berkenalan satu persatu. Keluarga Pak Dukuh terlihat sangat ramah menyambut kami. Pada akhirnya survei pun selesai dilakukan. Namun ada satu yang bergelayut di benakku, yakni setelah mengetahui bahwasannya antara putra dan putri ditempatkan dalam satu rumah, hanya dipisahkan oleh ruang-ruang kamar. Bisa-bisa bakalan gak pernah lepas kaos kaki nih kecuali di dalam kamar, pikirku. Maklum, dari kelima teman putriku hanya aku sendiri yang penampilannya lain dari pada yang lain.
            Ternyata perjalanan dari Yogya-Panggang menghabiskan waktu selama 1 jam. Ditambah lagi medannya yang ekstrem. Dari kelima teman putriku, hanya aku satu-satunya yang berani bawa motor. Nekad ya...
            Menjelang H-1 sebelum penerjunan kami bagi-bagi tugas untuk membawa barang. Ada barang bawaan yang ditujukan untuk kelompok, ada juga yang ditujukan untuk individu. Tiba-tiba salah satu teman putri yaitu Shofi mendadak minta ganti kelompo karena dia alergi terhadap dingin. Maklum di GK terkenal dengan hawanya yang dingin, apalagi di musim kemarau. Selain itu juga langka air. Kami harus menyediakan budget yang tidak sedikit untuk membeli air.(To be continue...)

Senin, 01 Juli 2013

Kejutan Spesial untuk Orang yang Spesial



Presented by Kareen el-Qalamy



Tanggal 26 Juni 2013, memang ada yang spesial. Mengapa? Di tanggal itulah mama (panggilan sayangku ke ibu) terlahir di dunia. Mo kasih kado apa ya?batinku. dalam tradisi keluarga memang jarang memberikan hadiah di saat hari milad. Alasannya di samping tradisi  Paling cuma sekadar ucapan selamat milad.
            Akan tetapi untuk tanggal itu khususnya aku sendiri memang tidak mau melewatkan dengan hal yang biasa-biasa saja. Walaupun posisiku saat itu masih di Yogya, terlebih dahulu aku mengirimkan SMS ke HP mama untuk memberikan ucapan. Setelah itu aku berinisiatif SMS ke papa dan adik untuk merencanakan sesuatu yang surprise buat mama.
            “Ya, asalkan kamu pulang dulu Mbak,”balas adikku.
            “OK....”
            Tanggal 26 Juni terlewati sudah, H+ 2 aku baru bisa pulang. Biasa kesibukanku di kampus memang lain daripada yang lain. Bisa dibilang libur atau tidak sama saja bagiku. Apalagi hampir menjelang bulan Ramadhan, ingin rasanya aku memetik berkahnya dengan terus berikhtiar untuk bisa munaqosyah di moment tersebut.
            Sesampainya di rumah saat malam mulai tiba. Aku memang terbiasa pulang menjelang Maghrib. Sampai di rumah pun juga menjelang Isya’. Moment yang sangat kurindukan saat mudik, yaitu bercengkrama dengan keluarga di depan TV. Maklum selama di Yogya aku tidak pernah nonton TV. Penasaran dengan perkembangan berita saat ini sambil mengamati kondisi bangsa sekaligus dunia melalui media, walaupun aku sendiri tidak mempercayai kebenaran berita itu 100%.
            Suatu pagi ketika mama dan adik pulang dari pasar – aku diminta untuk tinggal di rumah saja untuk beres-beres alias bersih-bersih – secara spontan aku mendekati adik sambil berbisik agar tidak terdengar oleh mama.
            “Gimana Dik, Mama mo dikasih surprise  apa?”tanyaku.
            “Terserah Mbak aja deh,”jawaban yang kurang memuaskan bagiku
            “Atau kita beliin kue tart?”tanyaku lagi
            “Boleh-boleh, berarti nanti ya nyarinya.”
            Tidak lupa juga aku meminta saran dari papa. Papa juga menyetujuinya.
            Menjelang siang, menunggu saat yang tepat untuk cabut dari rrumah berburu kue tart. Kebiasaan ketika libur di rumah mama pasti beristirahat siang. Saat itu juga saat yang pas untukku dan adik untuk pergi. Mencari-cari kira-kira di mana toko kue yang lengkap. Kami menuju toko kue yang ada di Wedi dikarenakan jaraknya yang lumayan dekat dengan rumahku. Ketemu, tetapi sayang, tinggal satu kue tart-nya dan itu pun harganya mahal. Padahal budget-nya hanya 50 ribu. Mau tidak mau kami bergegas meenuju pusat kota di Klaten.
            Akhirnya kami menemukan salah satu toko kue. Ada berbagai macam pilihan kue tart. Kami memilih salah satu kue tart blackforest yang harganya sesuai dengan kantong, lebih murah bahkan dibandingkan dengan budget yang ada. Kami pun pulang dengan berhasil membawa satu kue tart. Rasa senang dan terkejut dari wajah mama tergambar jelas di bayanganku.
            Sesampainya di rumah. Segera mempersiapkan alat – alat termasuk menyalakan lilin.
            “Nanti Papa masuk duluan sambil mengajak ngobrol Mama biar Mama sedikit terbangun terus Mita dan Pipin menyusul dari belakang sambil membawakan kue tart-nya,” usulku merencanakan surprise untuk mama tercinta.
            Betapa terkejutnya mama ketika melihat kami masuk sambil membawa kue tart.
            “Ni dari mana?”tanya mama. Kami hanya tersenyum melihat mimik wajah mama yang nampaknya bercampur menjadi satu antara senang, terharu dan kaget. Langsung saja mama meniup lilinnya dan kami secara bersama-sama menikmati lezatnya kue tart dalam kebersamaan dan hangatnya rasa kekeluargaan yang tentunya menambah keakraban.
            Begitulah keusilan aku dan adik. Toh baru pertama kali juga. Dulu-dulu tidak pernah membuat kejutan antar anggota keluarga. Aku merindukan saat-saat seperti itu. Semuanya berkumpul menjadi satu dalam suasana kegembiraan. Walaupun aku tahu bahwa sampai berapa kali pun kami mengadakan kejutan buat mama tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan jasa dan pengorbanan mama selama ini yang telah melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik sampai sekarang ini.
            Ya Allah....curahkan nikmat kesehatan, keimanan dan kelapangan kepada kedua orang tua hamba.
            Wafatkanlah beliau dalam keadaan husnul khotimah.
            Ampunilah segala dosa dan kesalahannya.
            Pertemukan  kami semua di dalam syurga-Mu.
            Aamiin ya Rabbal’alamin
           
           

Rabu, 26 Juni 2013

Gak Nyangka


Created by Kareen el-Qalamy



Cinta, memang tidak bisa ditebak. Datang tidak dijemput, pulang gak dianter. Aneh, benar-benar aneh. Ini berkaitan dengan pengalaman seorang akhwat aktivis dakwah kampus yang tidak mau disebutkan identitasnya. Semoga bisa dijadikan pembelajaran bagi akhwat pada umumnya.
            Si akhwat sejak awal sudah menceburkan diri di dunia dakwah. Semenjak semester satu bahkan hampir menginjak tahun ketiga  di usia perkuliahannya, dia masih tetap istiqomah di jalan dakwah. Lika-liku, suka-duka kehidupan dakwah sudah ia jalani dengan penuh perjuangan. Alhamdulillah, semua itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan berarti. Apalagi yang berkaitan dengan VMJ (Virus Merah Jambu) antar aktivis.
            Selama ini si akhwat memang aman dari masalah cinta. Buktinya, tidak pernah ada kasus dia dekat dengan seorang ikhwan. So aman-aman saja. Dia juga tidak muncul sedikitpun rasa suka kepada lawan jenis seperjuangan di dakwah kampus. Jadi, selama ini dia merasa enjoy aja. Enjoy menikmati perjalanan dakwah di kampus.
            Sampai suatu ketika dia dikejutkan dengan pernyataan seorang ikhwan. Secara blak-blakkan ikhwan tersebut menyampaikan niatan untuk mengkhitbah si akhwat. Secara spontan, si akhwat kagetnya minta ampun. Sampai-sampai si akhwat tidak bisa berkonsentrasi saat syuro’karena efek dari pernyataan mengagetkan itu.
            Herannya, satu kalimat yang membuatnya tidak fokus,”gak nyangka”. Gak nyangka kenapa, karena ikhwan yang barusan menyampaikan niatannya itu dulu pernah satu divisi dengannya. Perasaan ikhwannya gak kelihatan kalau dia memang suka dengan si akhwat. Ingat masa lalu dulu juga ikhwan itu sikapnya biasa-biasa saja. Malahan si akhwat mengira ikhwan itu suka dengan temannya. Mengatakannya pun di saat  ikhwannya sudah lulus dan si akhwat masih semester enam.
            Di samping itu, si akhwat juga gak bisa ngebayangin kalau ikhwannya menyampaikan hal yang sama ketika masih satu divisi dulu. Sudah barang tentu si akhwat akan mengambil langkah seribu, sebisa mungkin sembunyi sejauh-jauhnya agar tidak bertemu lagi dengan si ikhwan. Dikarenakan hal itu akan membuatnya merasa tidak nyaman.
            Begitulah kisah”gak nyangka”dari seorang akhwat. Kalau kita perhatikan, dilihat dari sudut pandang ikhwannya, kita acungi jempol karena ikhwan itu bisa mengatur dan memendam rasa sukanya sampai dia lulus. Dapat mengutarakan ketika posisi ikhwan sudah mapan. Itu menunjukkan sesosok ikhwan yang tanggung jawab terhadap segala konsekuensi yang ada, walaupun belum jelas apakah nantinya akan diterima atau tidak.
            Berbeda dengan kebanyakan fenomena yang terjadi saat ini. Ketika ada ikhwan yang sudah mempunyai keinginan kuat untuk menikah, namun belum siap dari segi materinya. Kalau ikhwan yang seperti ini tidak bisa mengendalikan perasaannya, tentu ikhwan tersebut akan melampiaskan dengan cara-cara yang bertentangan dengan syari’at. Misalkan dengan dengan berani menjalin komitmen nikah dengan seorang akhwat.
Padahal jodoh kuasa Allah, kalau benar menjadi pasangannya kelak sih alhamdulillah, tapi kalau enggak? Kasihan si akhwat, dibiarkan menggantung, menunggu tanpa adanya kepastian. Kita juga tidak bisa memprediksi kira-kira apa yang akan terjadi. Takutnya si akhwat sudah terlanjur menunggu komitmen terlalu lama, e..ternyata terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. So, kalau ikhwan itu benar-benar gentlement maka ia akan langsung mendatangi orang tua si akhwat untuk langsung mengkhitbah, tanpa adanya embel-embel kita komitmen dulu yuk...(Enak aje, ogah ah...)

Jumat, 01 Februari 2013

Pagi yang Mencengangkan






Created by Kareen el-Qalamy

Memasuki semester akhir, itulah yang aku rasakan sekarang. Bukannya baru menyadari bahwa diri ini sudah tua – jika dibandingkan dengan kebanyakan mahasiswa sekarang – namun memang dirasa waktu ini berjalan begitu cepat. Perasaan baru kemarin ikut pendaftaran ujian tulis universitas, tahu-tahu sudah harus menyelesaikaan skripsi. KKN dan PLP juga tidak terasa telah usai kujalani.
“Kalau tahu kayak gini aku mending ambil kuliah lagi 6 SKS Na,”komentar Intan salah satu temanku ketika menjalani proses skripsi yang dinilainya tidaklah mudah.
            Aku pun awal-awal tahapan penyelesaian skripsi juga merasakan hal yang sama, rasanya kok sulit banget ya. Tetapi aku segera menyadari bahwa itu semua adalah salah satu proses kehidupan yang harus aku jalani. Aku berusaha untuk menikmati setiap proses yang ada walaupun dirasa sulit. Aku yakin itu semua akan menempaku menjadi sesosok muslimah kuat yang siap menghadapi segala problematika kehidupan ke depannya.
            Selain kegalauan menghadapi proses skripsi juga ada godaan lain yang selalu menghantui pikiranku. Apakah mbak-mbak terdahulu juga merasakan hal yang sama? Sesekali aku membayangkan karena sewaktu awal-awal masuk kuliah selalu satu kos dengan mbak-mbak yang notabene sudah semester tua.
            Apalagi kalau bukan masalah jodoh. Maklum sudah memasuki usia berkepala dua – walaupun masih awal memasuki usia 20n – tetapi itu cukup membuatku resah. Resah memikirkan siapakah gerangan yang akan kudampingi kelak. Menjadikannya sebagai separuh jiwaku. Namun, ketika perasaan itu datang menghinggapi, dengan segera aku melakukan tindakan preventif agar perasaan seperti itu tidak berlarut-larut kurasakan.
Jangan sampai membiarkan waktu yang ada kosong tanpa adanya kegiatan yang bermanfaat, maka dari itu aku sering mengisi waktu luangku. Banyak hal yang bisa kulakukan, ditambah lagi masih aktifnya aku di beberapa organisasi kampus. Sehingga, tidak melulu waktu yang ada hanya sebatas memikirkan skripsi dan jodoh saja, karena kalau demikian lama-lama stres sendiri. Sekaligus sebagai sarana untuk refreshing setelah mengerjakan skripsi.
Pernah suatu malam HPku berbunyi....
Siapa sih jam segini SMS, batinku. Rasa heran muncul karena waktu sudah menunjukkan di atas pukul 21.00. Padahal aku sudah bersiap-siap untuk merenda bulu mataku. Setelah kubuka SMS ternyata . . .
“Rin, galau nih . . .,”Pesan singkat dari Ria, sahabat karibku sejak SMP. Tetapi sekarang dia kuliah di salah satu PT di Surakarta.
“Galau kenapa?”balasku segera.
“Galau umur segini belum ada tanda-tanda datangnya jodoh, sampe-sampe bapakku mo jodohin aku segala lagi,”wah tumben dia berpikiran kayak gitu,batinku. Seingatku dia belum pernah mikirin hal kayak gitu. Jadi pengen ketawa sendiri membaca pesannya.
“Aku juga ngerasain hal yang sama kayak kamu Ria, tapi aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkan dan menyerahkan urusan jodoh ke Allah, malahan aku kemarin baru saja nolak tawaran ta’aruf seorang ikhwan,”aku berusaha menenangkannya.
“Kenapa ditolak Rin?”tanyanya penasaran.
“Ya karena Allah belum menggerakkan hatiku untuk memilihnya Ria,”
Setelah itu dia sudah tidak membalas SMSku. Sudah tidur kali, pikirku. Lantas aku bergegas memejamkan mata tidak sabar ingin segera menyongsong hari esok yang lebih baik tentunya, harapanku. Ditambah lagi aktivitas harianku yang cukup menguras energi selama seharian tadi.
Kurang lebih empat jam waktuku untuk mencharger kembali energi. Seiring adzan Subuh mulai membelai-belai lembut di telingaku. Bergegas bangun dan mengambil air wudhu. Tidak lupa membangunkan teman-teman satu kos untuk kuajak sholat berjamaah. Salah satu keutamaan sholat Subuh berjamaah adalah seakan-akan melakukan sholat selama sehari semalam suntuk. Maka dari itulah kesempatan tersebut sangat sayang jika terlewatkan begitu saja.
Seusai sholat berjamaah, lantas membaca surat cinta-Nya seperti sudah menjadi santapan rohaniku setiap pagi. Memang kalau tidak melakukan serasa ada suatu hal yang hilang dari diri ini. Di tengah-tengah asyiknya merasakan getaran saat tilawah, tiba-tiba pesan singkat pertamaku mendarat di HPku. Saat kubuka . . .
“Dik Rina, sekarang di rumah atau di Yogya? Erni,”terheran-heran aku dibuatnya. Mbak Erni, salah satu mbak kos yang sekarang sudah menyelesaikan kuliah dan sekarang kembali ke kampung halamannya di Sragen.
“Di Yogya mbak, ada apa ya mbak?” sambil menyalurkan rasa penasaranku karena memang sungguh aneh, tumben beliau SMS padahal sudah lama sekali tidak pernah menjalin komunikasi.
“Gini dik, ada seorang ikhwan yang ingin mengkhitbah anti,”gubrakkk......hati ini serasa ingin copot setelah membaca SMS itu. Sungguh pagi yang mencengangkan buatku. Mengapa tidak? Belum lama aku menolak tawaran seorang ikhwan – yang juga melalui perantara temanku – sekarang harus dikejutkan dengan sebuah pesan yang mengabarkan ada seorang ikhwan lagi yang ingin mengkhitbahku. Beribu pertanyaan tentang siapakah sesosok ikhwan tersebut langsung bercokol di pikiranku. Ya Allah....apakah ini termasuk ujian seberapa besar keteguhan hati ini demi sebuah penantian mengharapkan cinta sejati. Cinta yang bisa mengantarkanku untuk lebih mencintai-Mu. Hamba pasrahkan semuanya kepada-Mu, mencoba ikhlas siapa pun yang Engkau pilihkan untukku.


Kamis, 07 Juni 2012

Sepenggal Harapan


By Kareen el-Qalamy

             Tahun ini adalah tahun ke-3 aku kuliah di perguruan tinggi ini. Tidak terasa memang, melihat targetan tinggal satu tahun lagi. Pokoknya aku harus selesai kuliah selama empat tahun. Titik. Banyak tanggung jawab yang harus segera kutunaikan ketika lulus kuliah nanti.
“Jam tujuh? Cepet banget?”gumamku,”aku harus segera mandi. Ren, Reni...Habis kamu siapa? Ngantri mandi donk!” teriakku.
            Bergegas menuju kamar mandi, tak sabar ingin segera sampai di kampus. Terpikir banyak tugas yang harus segera kuselesaikan. Belum lagi makalah dan presentasi yang harus kuhadapi. Uhh, serasa capek sekali...rutinitas harian yang semakin menambah jenuh saja.
“Lho mbak gak sarapan dulu?” tanya Sari teman satu kamarku.
“Ah, gak ah. Keburu-buru je, sarapannya nanti saja,” sambil ngeloyor pergi mengeluarkan sepeda motor. “Pergi dulu ya Sari, assalamu’alaikum,”pamitku setelah menutup pintu gerbang kos.
            Sesampainya di kampus sudah bisa ditebak bahwa perkuliahan sudah dimulai. Bu dosen sudah masuk. Ya.....telat lagi nih... langsung saja aku masuk dan ternyata kegiatan perkuliahan pagi ini adalah diskusi kelompok. Lantas Bu dosen menyuruhku untuk segera bergabung di kelompok diskusi. Akhirnya aku memilih bergabung di kelompok tiga.
“Tumben, hari ini bu dosen menyuruh kita untuk diskusi ya Indah,” sapaku pada salah seorang teman. “Kelompok kita ngerjain yang mana aja nih?”
“Iya, biar gak bosen kali Ki, ni kita kebagian teorema banyak banget je, dari teorema 3.4.1 – 3.4.9.”
“Ayo segera dikerjain,” ajak anggota kelompok yang lain.
            Tidak terasa hari ini adalah hari Sabtu, kulirik jam tangan, wah, tinggal tiga jam lagi. Tidak sabar aku ingin segera mudik ke kampung halaman di Solo. Maklum, sudah hampir dua minggu ini aku tidak pulang karena ada agenda di hari Ahad yang tidak bisa kutinggalkan.
“Kiki, mau ke mana?” tanya Leni.
“Ni mau online Len, kamu?”
“Sama, yuk bareng aja,”berjalan sambil menuruni tangga.
Lantas mencari tempat yang nyaman untuk hotspotan, kami memilih tempat duduk yang paling pojok fakultas lantai satu. Kebetulan, suasananya tenang, sedikit sekali mahasiswa yang berlalu lalang. Mungkin mayoritas masih menjalani kegiatan perkuliahan.
“Kamu mau nyari apa Len?” tanyaku memecah keheningan.
“Ni bahan untuk tugas Kewirausahaan besok,” jawabnya.
“O....kalo aku sih dah ambil,” sambil asyik melototi laptop.
“Lha kamu cari apa Ki?”
“Cari bahan untuk buat abstraksi tema skripsi.”
“Wah....kamu dah sampe situ ya? Cepet banget, aku aja belum pernah ketemu dosen pembimbing temaku.”
”Ayolah, segera, biar lulusnya nanti bisa bareng,” ujarku memotivasi.
            Akhirnya waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Saatnya mudik. Setelah berpisah dengan Leni, kulangkahkan kaki menuju parkiran sepeda motor. Bismillah, semoga tidak hujan dan selamat sampai tujuan. Kunyalakan mesin sepeda motor, lantas menarik gas secara perlahan. Perjalanan menuju Solo pun dimulai.
Ternyata pemandangan jalan raya di sore hari tidak ada bedanya dengan di pagi hari. Pasti dijumpai banyak kemacetan di sana-sini. Ditambah lagi nanti malam, malam minggu. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi jalan raya dimana hampir semua orang ingin menghabiskaan malam minggu di luar. Tidak mengherankan jika Mama selalu menasihatiku untuk tidak pulang larut malam. Karena kondisi rute menuju rumah yang semakin sepi ketika hari beranjak petang.
Sesampainya di rumah, seperti biasa kedatanganku mendapat sambutan hangat dari keluarga, Mama, Papa, kakak dan adik. Terkadang dengan humor khasnya,”Tumben kok pulang Mbak?” Terkadang dengan perasaan agak sedikit jengkel aku membalas,”Lha masak Mbak gak boleh pulang.” Hubunganku dengan adik sangatlah erat. Da tidak canggung untuk menceritakan semua hal yang dialami, entah itu tentang kegiatannya dia di sekolah atau tentang hubungan dia dengan teman-teman sekolahnya. Sedangkan kedua kakakku sudah mempunyai keluarga masing-masing. Bahkan ada yang tinggal di luar Jawa.
Sebagai anak, aku juga mulai mencoba terbuka dengan orang tua. Mulai membuka diri, mengkomunikasikan apapun yang aku alami dan yang aku lakukan dimanapun aku berada. Karena sungguh nyaman ketika bisa mencurahkan semua permasalahan apalagi ke orang yang selalu dekat yaitu orang tua.
“Ma, merasa aneh mboten[1]?” tanyaku dengan menggunakan bahasa Jawa krama inggil [2] terkadang memakai bahasa Indonesia alias bahasa campuran ketika sedang bercengkrama dengan keluarga.
“Aneh kenapa Kiki?” Mama malah balik tanya dengan rasa penasaran.
“Itu lho Mas Lukman, Ma. Masak perhatian banget sih kaliyan [3]Mama dan Papa?”
“Iya lho Kiki, ati-ati[4], jangan-jangan ada sesuatu? Coba tanya Papa?” ternyata Mama sudah paham dengan apa yang aku bicarakan.
            Mengejutkan, setelah aku menanyakan hal yang sama pada Papa ternyata respon yang diberikan sangatlah berbeda. Papa menganggapnya biasa-biasa saja. Entah, mungkin benar jika laki-laki lebih mengutamakan logika, sedangkan perempuan mengutamakan perasaaan. Karena aku merasa perhatian Mas Lukman yang diberikan pada keluargaku sangatlah berlebihan. Seperti ada maksud di balik semua itu.
            Mas Lukman adalah tetangga desaku. Teman satu remaja masjid sejak SMP. Beliau kira-kira lima tahun di atasku. Sekarang sudah merantau ke Jakarta, jadi sudah jarang sekali bertemu. Paling dalam satu tahun bertemu sekali, itu saja saat libur lebaran. Beliau memang seorang pria yang baik, santun, pekerja keras dan taat beribadah. Aku salut dengan motivasinya untuk terus bekerja membiayai keluarganya. Maklum dia anak pertama dan mempunyai lima orang adik. Dia rela hanya sebatas tamatan SMK dan langsung bekerja demi membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Setelah beberapa tahun bekerja, dia lantas memutuskan untuk kuliah mengambil D2, dengan tidak meninggalkan pekerjaannya. Kerja sambil kuliah, subhanallah....
            Namun akhir-akhir ini sikap yang dia tunjukkan pada keluargaku sangatlah berbeda. Memang orang tuaku juga mengenal baik Mas Lukman. Aku mengira hanya aku saja yang merasakan keanehan itu, tetapi Mama juga merasakan hal yang sama. Seperti ada semacam perhatian khusus yang dia berikan.
            Mengapa tidak aneh jika tiap kali lebaran beliau menyempatkan untuk bertandang ke rumah, mungkin sekadar silaturahim. Kalau itu masih lumrah, tetapi ketika dia pulang sempat-sempatnya membelikan obat-obatan herbal untuk orang tuaku, apakah tidak aneh itu namanya. Ditambah lagi sms-sms tausiyah yang dikirimkan, tidak hanya kepadaku saja, tetapi orang tuaku juga menjadi sasaran.
            Ah...tak tahulah... aku tidak mau memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Mencoba untuk pasrah kepada sang Pencipta, apalagi menyangkut masalah jodoh. Masing-masing orang sudah ada jatahnya, tinggal menunggu waktu yang pas untuk dipertemukan. Namun apabila kondisi sekarang, memang perlu segera dipikirkan juga. Apalagi orang tua sering menyinggung tentang hal itu. Ah...ya sudahlah...

*

            Siang yang begitu sangat terik. Tamparan sinarnya membuat peluh serasa ingin mengalir deras. Seperti air terjun di tengah gurun sahara. Berjalan menuju fakultas, di bawah bayang-bayang matahari yang tepat berada di atas kepala. Benar-benar ingin segera berteduh mendinginkan anggota badan yang serasa  mendidih.
“Kiki...!” terdengar sebuah suara yang memanggil namaku. Sambil kutengok ke belakang...
“E...kamu ta Indah,” sapaku setengah kaget.
“Duduk sini dulu yuk.”
“Kamu gak pulang Dah?” sambil bersalaman dan menuju ke sebuah bangku di sudut jalan.
“Pengennya sih segera pulang, tapi angkotnya jam segini belum ada.”
“O...ya..ya...ini kan hari Jum’at, mungkin sopirnya juga Jum’atan dulu Dah.”
            Secara tidak sadar kami terlibat perbincangan hangat. Indah, teman satu kelasku. Anak pondok dan berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Tidak mengherankan jika logat bicaranya kental dengan bahasa Sunda. Orangnya baik dan mudah bergaul. Lucu kalau dia mempraktikkan berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa. Seperti kaku dan tidak pas.
            Namun di tengah-tengah perbincangan tersebut, tidak menduga Indah mengajukan sebuah pertanyaan yang membuatku kaget. Bahkan, membuatku bingung untuk menjawabnya. Dia bertanya padaku tentang jodoh,”Sari dah punya calon?”
“Calon? Ya Allah Indah...memang siapa calonku tuh, belum ada kok.”
“Masak sih? Tapi kriterianya sudah ada kan?” tanyanya dengan penuh selidik.
            Tentang calon, tidak terlalu dipikir. Karena aku sendiri merasa belum siap untuk itu. Tidak hanya sekadar hubungan tetapi juga harus siap untuk melangkah lebih jauh dan tentu dengan niatan meraih ridho-Nya. Karena selama ini aku mencoba untuk ikhlas menerima pasangan yang telah Allah pilihkan. Walau pada kenyataannya aku kenal banyak sekali laki-laki sholeh, tetapi itu tidak lantas mengganggu pikiranku.
            Terkadang, memang benar juga apa yang sering nenek nasihatkan padaku. Harus dipikirkan dari sekarang lho Nduk. Ditambah lagi teman-teman kelas banyak yang tinggal selangkah lagi, ijab qobul.
Serasa tidak mau ambil pusing dengan yang namanya jodoh, aku pun mengalihkan semua perhatian kepada kesibukan dan rutinitasku yang tidak tahu kapan akan berakhir. Berkecimpung di organisasi, tugas-tugas kuliah yang tidak pernah absen menghampiri, juga mulai memikirkan untuk persiapan skripsi, KKN dan PPL. Wow...ternyata padat banget ya.... Maklum namanya saja sudah semester tua, banyak hal yang harus dipikirkan dan diselesaikan.
Saat ini aku mulai mencicil tema skripsi dengan harapan bisa selesai target empat tahun. Bimbingan tema pun aku ikuti secara rutin tiap pekan. Dan ketika antri di ruang dosen untuk bertemu dosen pembimbing, tiba-tiba Hpku berdering.
“Halo, assalamu’alaikum. Wonten menapa [5]Pa?” tanyaku dengan penuh penasaran.
“Ada hal yang perlu Papa bicarakan dengan Kiki, tapi gak bisa ditelepon. Kiki harus segera pulang,” tutur Papa dengan nada serius.
            Seketika itu juga semua perasaan berkecambuk di dalam hati. Beribu-ribu pertanyaan membuat diri penasaran kira-kira ada gerangan apa sehingga tiba-tiba saja Papa menyuruh pulang. Untung saja jadwal kuliah besok dimulai siang hari. Jam tiga tepat perkuliahan hari ini berakhir, segera melangkahkan kaki menuju parkiran dan bergegas pulang.
            Satu jam kemudian, akhirnya sampai di rumah. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan maksud Papa mengapa menyuruhku segera pulang. Namun, Mama memintaku untuk bersih-bersih diri terlebih dahulu. Selepas menunaikan sholat Maghrib dan makan malam, di ruang keluarga timbullah sebuah perbincangan yang meembuatku tercengang.
“Ki, kemarin sore Mas Lukman datang ke rumah,” Papa mengawali percakapan.
“Mas Lukman? Beliau pulang ya Pa? Memangnya wonten[6] perlu menapa[7] Pa, Mas Lukman sowan mriki[8]?” tanyaku.
“Mas Lukman ingin melamarmu Ki,” jawab Papa dengan nada serius penuh penekanan.
“Melamar Kiki? Apa Kiki tidak salah dengar? Atau apa Papa tidak salah ucap?” tanyaku tidak percaya dengan penuturan Papa yang sangat mengagetkanku.
“Benar Ki, Papa tidak salah kok, Mama menjadi saksinya,”tambah Mama.
“Bagaimana Kiki? Papa serahkan sepenuhnya pada Kiki. Kemarin Papa bilang pada Mas Lukman untuk kembali lagi setelah tiga hari untuk meminta kepastian darimu Ki.”
“Baiklah kalau begitu, Kiki akan mencoba untuk mengistikhorohkannya terlebih dahulu Pa, tapi apakah Papa dan Mama merestui?”
“Insya Allah kalau itu sudah menjadi pilihan Kiki dan Kiki yakin, Papa dan Mama akan merestui,” ujar Mama sambil memelukku.
“Terima kasih Ma, Pa.”
            Selama tiga malam berturut-turut aku sholat istikhoroh meminta petunjuk untuk diberikan keputusan yang terbaik. Ya Allah, kalau pun benar Mas Lukman jodohku maka dekatkanlah. Tetapi kalau bukan maka berikan yang terbaik bagiku. Aku berusaha pasrah akan segala jawaban yang akan diberikan tentang kepastian ini.
            Waktu yang telah dijanjikan pun tiba. Hari ini adalah hari dimana aku harus memberikan jawaban akan pinangan dari Mas Lukman. Sesosok pria yang sangat ideal di mataku. Jam dinding menujukkan pukul empat sore, nuansa pedesaan masih sangat terasa. Ditambah lagi masyarakat desa tempat tinggalku masih memegang teguh akan adat-istiadat Jawa. Terdengar suara salam dari luar sambil mengetuk pintu. Jantungku semakin berdebar kencang. Setelah dipersilakan masuk, dari balik almari tamu yang menjadi sekat antara aku dan Mas Lukman, aku mendengarkan dengan penuh seksama apa yaang diucapkan oleh Papa dan Mas Lukman. Sampailah pada pembahasan tentang pinangan itu.
“Bagaimana Kiki, apakah Kiki mau menerima pinangan Mas Lukman?” sebuah pertanyaan yang terasa sangat berat untuk kuberi jawaban. Terasa bibir sangat kelu untuk sekadar mengucapkan satu patah kata, iya atau tidak.
“Bismillahirrohmanirrohim, saya bersedia,” jawabku. Perasaan tidak karuan menyelimuti hatiku. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari bibirku.
            Rasa haru dan bahagia memenuhi ruang tamu sederhana di sore yang sangat indah itu. Tidak akan pernah terlupa. Saat itu juga kedua keluarga langsung membahas mengenai hari-H peresmian ijab qobul dan resepsi pernikahan. Alhamdulillah, semuanya dapat ditentukan saat itu juga. Kami pun sepakat untuk menikah di pertengahan bulan depan. Tinggal tiga minggu lagi, akhirnya aku akan menyempurnakan setengah dienku, dengan mendampingi seorang laki-laki yang sholeh di mataku.
            Segala yang diperlukan segera disiapkan dengan matang. Mulai dari konsep acara dan undangan untuk para tamu juga sudah dicetak, tinggal disebarkan saja. Mendekati hari-H, yang ada hanyalah perasaan senang yang memenuhi pikiranku. Di perkuliahan pun aku semakin bersemangat. Sampai-sampai teman-temanku merasa heran dengan perubahan tingkah laku yang kualami. Mau tidak mau aku pun mengabarkan bahwa aku akan segera menikah. Berbagai respon dilontarkan oleh teman-teman. Mereka seakan-akan tidak percaya dengan apa yang kusampaikan. Lantas berlomba-lomba memberikan ucapan selamat padaku.
            Berada dalam penantian terasa sangat lama sekali. Sekaligus dalam liburan semester. Walaupun tinggal menghitung hari untuk menuju hari-H. Terasa seperti menunggu dalam satu tahun. Ya Allah...ternyata seperti inilah yang namanya menunggu. Untuk bisa disandingkan dengan sang belahan jiwa, mendampinginya untuk tetap berada dalam jalan keimanan.
            Segala persiapan hampir fix 75%. Tujuh hari lagi.....menjemput jodohku.
“Piye[9] Kiki, rasane[10]?” tanya Kakak pertamaku yang baru saja pulang dari Kalimantan, menyempatkan menghadiri pernikahan adiknya.
“Pripun nggih Mbak[11], tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semua perasaan bercampur menjadi satu,” jawabku dengan penuh senyuman.”Menawi Mbak rumiyin pripun[12]?” godaku.
“Ah kamu itu dik, ada-ada saja. Mbak gak mengira kamu berjodoh dengan tetangga sendiri. Teman seangkatan Mbak lagi, dulu di remaja masjid.”
“Ihh, kakak bisa saja,” dengan wajah tersipu malu.
            Disaat suasana rumah dipenuhi dengan rasa suka cita tiba-tiba Mas Lukman datang. Segera aku ke dapur untuk membuatkan minuman. Kira-kira ada gerangan apa Mas Lukman kemari, kupikir-pikir semua keperlukan pernikahan sudah disiapkan. Apa lagi yang mau dibahas. Beribu pertanyaan muncul dibenakku. Mungkin sekadar mengecek saja apakah ada hal-hal yang kurang atau bagaimana.
            Walaupun Mas Lukman sudah resmi mengkhitbahku, tetapi tidak pernah sekalipun diantara kami terjadi komunikasi baik itu lewat sms atau secara langsung. Karena ingin menjaga kesucian diri masing-masing sebelum ada ikatan resmi. Itulah yang membuatku semakin salut dengan sesosok Mas Lukman.
            Minuman spesial siap untuk dihidangkan. Melangkahkan kaki menuju ruang tamu.
“Sebelumnya saya minta maaf dengan sangat kepada bapak dan seluruh keluarga, khususnya pada dik Kiki.”
“Lho emangnya ada apa ta Mas Lukman kie?”
“Entah saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Maaf Pak, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan prosesi pernikahan ini.”
            Dari balik almari tamu, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Mas Lukman membatalkan rencana pernikahan ini. Memangnya dengan alasan apa Mas Lukman tega berucap seperti itu? Dengan hati remuk redam kuberusaha mendengarkan kelanjutan percakapan antara Papa dan Mas Lukman.
“Apa yang Mas Lukman ucapkan tadi?” tanya Papa dengan nada sedikit meninggi.
“Beri saya kesempatan untuk menjelaskan mengapa saya mengambil keputusan yang tentu membuat bapak dan keluarga kecewa, terutama dik Kiki. Ini semua bukan atas dasar kemauan saya Pak.”
“Lantas kenapa Mas? Padahal semuanya sudah dipersiapkan, tinggal satu minggu lagi kalian akan menjadi sepasang suami-istri. Teganya kamu melakukan hal seperti itu terhadap anak saya,” ujar Papa dengan luapan emosi yang semakin memuncak.
“Sabar Pa, coba sekarang ceritakan Mas Lukman, apa yang menjadi alasan Mas Lukman membatalkan pernikahan ini secara sepihak,” ujar Mama berusaha menenangkan suasana.
“Ada salah seorang anggota keluarga saya yang tidak setuju kalau saya menikah dengan dik Kiki. Nenek saya masih memegang teguh adat Jawa yang tidak memperbolehkan anak pertama menikah dengan anak ketiga. Bapak, Ibu dan saya sudah berusaha untuk memberikan penjelasan dengan berbagai macam cara. Tetapi nenek tetap saja ngotot dengan pendiriannya. Bahkan beliau mengancam sampai mau bunuh diri kalau saja pernikahan ini tetap dilanjutkan. Nenek memang sangat menyayangi saya, mungkin karena saya cucu laki-laki satu-satunya jadi beliau tidak mau suatu hal yang tidak-tidak menimpa cucu kesayangannya. Akhirnya kami dengan terpaksa mengambil keputusan ini Pak. Saya mohon maaf dengan sangat, sekaligus mewakili bapak dan ibu yang tidak bisa bertandang kemari karena harus menemani nenek yang opname di rumah sakit. Sejak nenek mengetahui kalau saya ingin menikah dengan dik Kiki kesehatan beliau langsung drop. Sehingga dengan terpaksa kami menuruti permintaan nenek agar kesehatan beliau tidak semakin memburuk. Jujur Pak, saya sendiri juga sangat berat mengambil keputusan ini, karena sudah lama saya menyimpan perasaan suka terhadap dik Kiki, tinggal selangkah lagi untuk mendampinginya, ternyata Allah berkehendak lain. Semoga bapak dan keluarga memaafkan saya dan keluarga saya. Untuk dik Kiki semoga dipertemukan dengan orang yang lebih baik. Kami belum berjodoh Pak”
            Setelah mengutarakan secara panjang lebar, Mas Lukman pun pamit. Kupandangi dari balik jendela kamar, dengan wajah kecewa dan sedih Mas Lukman pergi. Apakah Mas Lukman merasakan apa yang aku rasakan? Masuk ke kamar, mengunci diri dan ingin menangis sejadi-jadinya. Terdengar panggilan Papa dan Mama tidak aku gubris sama sekali.
Ya Allah, kenapa ini terjadi padaku? Disaat aku ingin merasakan indahnya pernikahan, ternyata itu tinggal kenangan. Kulihat mushaf yang tergeletak di atas meja. Kubuka-buka dan mulai kubaca huruf demi huruf.”Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik bagimu”


 







Biografi Singkat

Nama Lengkap                        : Karina Pramitasari
Tempat, tanggal lahir              : Pati, 02 April 1991   
Alamat Asal                            : RT 03 / RW 06 Pulorejo, Jotangan, Bayat, Klaten
Alamat di Yogyakarta                        : Santan, Maguwoharjo, Sleman,Yogyakarta
No Tlp/ Hp                              : 085725302181
Jurusan/ Semester                    : Pendidikan Matematika / VI
Alamat e-mail                          : karinaxii_ipa4_19@yahoo.co.id      
Alamat blog/ web                    : ka-muslim.blogspot.com
Profesi                                     : Aktivis mahasiswa
PT                                             : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Fakultas                                   : Sains dan Teknologi









                                                                                                                                


[1] Tidak (dalam bahasa Jawa krama inggil)
[2] Bahasa Jawa yang tingkatannya paling halus ditujukan kepada orang yang lebih tua
[3] Dengan (istilah Jawa krama inggil)
[4] Hati-hati
[5] Ada apa Pa?
[6] Ada
[7] Apa
[8] Datang ke sini
[9] Bagaimana
[10] Rasanya
[11] Bagaimana ya Kak?
[12] Kalau Kakak dulu bagaimana?