Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Desember 2014

Kangen










Presented by Kareen el-Qalamy



Menulis.....adalah aktivitas mulia bagi orang yang mau bersungguh-sungguh menekuninya. Sebentar saja jari-jari ini tidak menari di atas kertas, atau di atas keyboard nampaknya ada sesuatu yang hilang dari dalam diri. Apalagi meninggalkan aktivitas menulis dalam waktu yang tidak sebentar. Rasa kangen tiba-tiba menyeruak di dalam hati.

Karena hanya dengan menulislah, bisa mengungkapkan seluruh isi perasaan bahkan yang tidak bisa terwakili dengan kata-kata pun. Hanya dengan menulislah bisa mengeluarkan segala ekspresi yang ada tanpa malu orang lain melihatnya. Walaupun mungkin hanya segelintir orang saja yang mau membacanya.

Dengan menulis.....bisa menginspirasi setiap orang yang membacanya. orang yang terinspirasi oleh tulisan yang positif tentu lantas akan mempengaruhi alam bawah sadarnya dan secara refleks akan dapat mengamalkan dalam kehidupan kesehariannya. Itu akan menjadi pertanda bahwa pahala berkat terinspirasinya orang lain akan mengalir tanpa sedikitpun bagi si penulis. Bayangkan kalau semua orang yang ada di Indonesis bahkan dunia terinspirasi, akan berapa banyak pahala pula yang akan mengalir bagi si penulis.

Dengan menulis pulalah dapat menjadi perantara bagi seseorang menjemput hidayahnya. Seseorang yang berhijrah dari kondisi yang kurang baik menuju kondisi yang lebih baik. Pasti pahala yang mengalir akan semakin banyak.

Bagi siapapun...tidak ada salahnya mencoba untuk menulis. Menulis tidak memerlukan bakat, tetapi memerlukan kemauan dan motivasi. Yakinlah, setiap huruf yang kau rangkai, akan menimbulkan makna tersendiri dalam hati bagi yang mau merasakannya. Sebuah rangkaian huruf yang indah....akan bisa dirasakan oleh jiwa yang indah pula. Oleh sebab itu, menulislah dari hati, agar dapat tersampaikan kepada hati-hati yang lain pula. Agar dapat termaknai dengan baik, diresapi dan dihayati sehingga mendapatkan kandungan pesan yang ingin disampaikannya.

Bagi yang sudah menekuni aktivitas menulis, tetaplah istiqomah di dalamnya. Warisan sebuah peradaban hanya bisa dilihat dari seberapa banyak karya yang telah dihasilkan....Karena bertahan itu lebih sulit daripada memulai kembali dari nol. akan lebih banyak godaan yang menghadang, bahkan semakin banyak. Tetaplah berjuang para pahlawan pena, hingga air laut pun habis menjadi tintamu....So, MENULIS, MENULIS dan MENULIS...!


Jumat, 03 Mei 2013

Bongkar, Terobos, Menang


Presented by Kareen el-Qalamy



Darah muda, darahnya para remaja.
            Begitulah isi dari salah satu bait lagu yang sempat booming pada masanya. Seakan-akan dibahasakan secara tersirat pun sudah mengidentifikasikan inti yang ingin disampaikan oleh pengarang lagu bagi penggemarnya. Bait ini mengkisahkan tentang pemuda.
            Pemuda yang identik dengan semangat membaranya. Tingginya antusiasme menyebabkan golongan pemuda tidak mau ketinggalan peluang. Selalu ingin mengambil peran di dalamnya. Sejarah sudah membuktikan bagaimana sepak terjang pemuda memang sangatlah ampuh.
            Perkembangan Islam dari zaman Rosulullah tidak memungkiri adanya peran pemuda. Bergantinya metode dakwah yang semula memakai metode sembunyi-sembunyi lantas berubah menjadi secara terang-terangan dikarenakan salah seorang sahabat masuk Islam. Dialah Umar bin Khotob yang termasuk salah satu dari pemuda Quraisy saat itu.
            Juga ketika zaman Khulafaur Rasyidin. Saat Islam memasuki era ekspansi. Di sana muncul sosok-sosok panglima perang yang notabene masih dalam kategori pemuda, diantaranya Khalid bin Walid, Salman al-Farisi dll. Melalui tangan-tangan merekalah Islam dapat tersebar seantero jagad, dari belahan bumi timur ke barat.
            Peristiwa yang tidak jauh berbeda berkaitan dengan sumbangsih pemuda yaitu terkaait sejarah kemerdekaan Indonesia. Munculnya golongan muda - walaupun sempat terjadi ketegangan dengan golongan tua – sejak pengawalan persiapan kemerdekaan sampai pembacaan proklamasi tetap diberikan apresiasi.
            Oleh sebab itu generasi muda sekarang sudah selayaknya patut berbangga dan bersyukur memiliki pendahulu yang keren. Akan lebih mengena jika semangat para pendahulu dapat diwarisi oleh generasi muda sekarang. Semangat pantang menyerah, optimis dan berani menjadi ikon selama ini. Wajar jika pemuda disebut-sebut sebagai agent of change karena di tangan pemudalah perubahan - perubahan besar terjadi. So Bongkar, Terobos, Menang!!!.

Sabtu, 23 Maret 2013

La Tahzan


Presented by Kareen el-Qalamy


Inna ma’al ‘usri yusro, sungguh menandakan adanya secercah harapan di balik segala permasalahan hidup. Lantas menimbulkan rasa optimisme untuk melangkah ke depan karena habis gelap terbitlah terang. Diibaratkan sayur tanpa garam jika suatu kehidupan tanpa adanya masalah.
            Masalah yang datang tergantung tanggapan masing-masing orang seperti apa. ada yang menganggapnya sebagai peringatan, ada yang menganggap sebagai ujian, bahkan ada juga musibah itu sebagai azab, na’udzubillah. Beruntung bagi mereka jika masalah yang datang sebagai ujian yang harus dilalui. Mengapa? Dikarenakan itu bearti merupakan tanda-tanda naik derajat seperti halnya siswa yang memang harus mengikuti ujian untuk naik kelas. Seorang muslim belum dianggap beriman jika dia belum diberi musibah.
            Bagi yang menganggap masalah sebagai peringatan, itu berarti bisa dijadikan sebagai peluang emas untuk dimanfaatkan sebagai sarana melatih kesabaran, keikhlasan dan kesyukuran. Ini sebagai tanda bahwa Allah masih sayang terhadap hamba-Nya. Peringatan untuk selalu berbuat baik dan peringatan untuk selalu menjauhi perbuatan buruk.
            Namun, jangan sampai masuk dalam kategori datangnya masalah merupakan azab yang harus diterima. Azab selalu identik dengan hal-hal yang buruk. Sama halnya dengan hukuman. hukuman bagi siapa saja yang melakukan perbuatan buruk juga.
Manusia hanyalah merencanakan dan Allah yang menentukan. Apabila ketentuan Allah tidak seindah yang kita harapkan, memang itu merupakan masalah bagi kita. Namun, alangkah lebih bijak jika permasalahan terseut bisa dikelola dan diselesaikan secara baik-baik. Menyelesaikan masalah tanpa masalah. So, La Tahzan, innallaha ma’ana.

Jumat, 22 Februari 2013

Di Jalan Dakwah Anti Menikah


Presented by Kareen el-Qalamy



Di jalan dakwah anti menikah, kalimat itu membuatku merinding setelah membacanya. Sebuah pesan singkat masuk di HPku yang sarat akan makna. Seakan – akan menjadi sebuah pengharapan yang sangat amat mendalam kepada sang Maha Cinta, maha Pemilik Cinta.
            Memang untuk para pemuda yang masih lajang khususnya, tidak ada topik pembicaraan lain yang lebih menarik dibandingkan dengan topik’pernikahan’. Baru sekadar mendengar saja sudah bisa membuat angan-angan  melambung jauh. Membayangkan berjuta keindahan di dalamnya – atau malah tak terhingga jumlahnya – berkaitan dengan pernikahan. Kalau mencari tahu dari segi pemaknaan katanya menyiratkan kesakralan dan kesucian. Karena menikah termasuk salah satu dari sunnah Rosulullah SAW yang harus dijalankan buat mereka yang ngakunya sebagai umat beliau.
            Nah, oleh sebab itu untuk menjalani proses pernikahan baik itu sejak pra sampai pasca tentu harus dilakukan dengan cara-cara atau langkah-langkah yang sakral pula. Alias sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Maka dari itu untuk menuju ke jenjang pernikahan membutuhkan persiapan-persiapan. Untuk awalan meluruskan niat terlebih dahulu. Kira-kira niatan menikah itu untuk apa. Apakah hanya sekadar untuk menyalurkan hasrat biologis semata? Ataukah memiliki niatan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah sekaligus menyempurnakan setengah ­dien?
            Kalaupun niatan menikah agar bisa menyalurkan hasrat biologis saja, hal itu menandakan tidak ada bedanya dengan binatang. Namun, alangkah lebih mulianya jika menikah itu diiringi dengan niat yang benar. Setelah itu berusaha melakukannya sesuai dengan tuntunan yang telah disyariatkan (ittiba’Rosul).
            Setelah menentukan niatan awal, perlu menentukan tujuan-tujuan apa saja yang mau diraih saat menikah. Menikah juga harus mempunyai orientasi kira-kira selain bernilai ibadah menikah juga bisa mengandung nilai lebih/nilai-nilai yang lain. Hal tersebut membuat pernikahan menjadi bertambah keberkahannya. Inilah yang menjadikan sebuah pernikahan yang tidak biasa/spesial.
            Salah satu tujuan yang membuat pernikahan yang dilakukan berbeda dengan pernikahan-pernikahan pada umumnya yaitu pernikahan tersebut mengandung orientasi dakwah. Inilah yang disebut deengan menikah di jalan dakwah. Jadi, baik itu dari kedua belah pihak – baik itu dari pihak laki-laki maupun perempuan – yang semasa single menjadi aktivis dakwah, akan sangat disayangkan jika setelah menikah tidak dilanjutkan atau berhenti dari aktivitas dakwahnya.  Oleh sebab itu untuk menuju sebuah pernikahan di jalan dakwah membutuhkan banyak persiapan khusus, baik itu berawal dari proses pencarian pasangan sampai ke akad nikahnya.
            Akan lebih memuluskan lagi orientasi menikah di jalan dakwah apabila mendapatkan atau dipertemukan dengan jodoh yang mempunyai visi dan misi yang sama. Karena keduanya sudah sama-sama paham dan sepakat, tinggal menjalani prosesnya tanpa adanya perdebatan. Maka dari itu kriteria pasangan yang dipilih turut andil juga untuk semakin memudahkan terealisasikannya tujuan yang dimiliki.
            Untuk mendapatkan kriteria calon pasangan yang pas, ada trik-trik yang bisa dilakukan. Salah satunya banyak-banyaklah bergaul dengan orang-orang sholeh. Mengapa demikian? Banyak bergaul dengan orang sholeh membuat kita lebih banyak mengenal dan mempunyai teman-teman sholeh. Bisa jadi jodoh datang dari teman-teman sholeh yang sudah menjadi teman seperjuangan dalam dakwah. Padahal orang-orang sholeh identik dengan hidup berjamaah. Karena dengan hidup berjamaah pulalah orang-orang sholeh tersebut bisa saling menguatkan dan saling mengingatkan satu sama lain.
            Diibaratkan jamaah itu adalah sapu lidi yaang sangat ampuh membersihkan dedaunan yang jatuh ke tanah dibandingkan dengan sebatang lidi. Dakwah akan bergerak masssive jika dilakukan secara berjamaah. Sama halnya menikah, dimana menikah itu tidak hanya mempertemukan dua individu tetapi juga mempertemukan dua keluarga yang mungkin awalnya tidak saling kenal. Bisa dibayangkan jika dua keluarga yang dipersatukan adalah keluarga yang sudah akrab dengan kegiatan dakwah, tentu kekuatan yang diperlukan untuk berkontribusi di jalan dakwah akan semakin besar pula.
            Oleh sebab itu tidak menyangka jika menikah berkorelasi dengan berjamaah, khususnya pernikahan yang berorientasikan dakwah. Hal ini sungguh menjanjikan ladang pahala yang sangat luar biasa. Pesan khusus untuk para muslimah – yang masih single dan tengah berada dalam masa penantiannya – jangan pernah berputus asa untuk merealisasikan tujuan,”Di jalan dakwah anti menikah”.

Sabtu, 09 Februari 2013

Sekuat Si Raja Rimba


Presented by Kareen el-Qalamy


Lihatlah gambar singa itu.....Keren ya,komentar kaum hawa karena melihat postur tubuhnya yang gagah perkasa. Cakep banget deh pokoknya, bergantian dari kaum adam yang tidak mau kalah. Semuanya benar apa adanya. Tidak ada yang salah, atau malah benar semua.
            Sudah sepantasnyalah dari dahulu sampai sekarang predikat si raja hutan tidak bisa lepas dari binatang mamalia ini. Baru dilihat dari postur tubuhnya saja memang sudah sangat pantas dia menyandang gelar si raja hutan. Dan yang lebih aneh lagi belum ada satu hewan pun yang bisa menandingi keperkasaannya.
            Kalau kita refleksikan dengan kehidupan manusia - tidak ada salahnya belajar dari makhluk Allah yang berlainan jenis – kira-kira bisa tidak mengambil pelajaran dari hewan yang bernama singa ini. Hewan yang terkenal buas ini memiliki watak positif yang tidak ada salahnya jika kita tiru. Sesuatu yang dapat kita pelajari dari singa adalah: apa pun yang kita lakukan, kita harus melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan segenap kekuatan kita.
Seperti yang kita tahu, singa selalu mengejar hewan buruannya dengan sekuat tenaga dan tidak akan berhenti mengejar sampai hewan buruannya lemah tak berdaya dalam cengkramannya.
Dalam kehidupan kita sebagai manusia, hewan buruan ini adalah ibarat dari cita-cita.
Contohlah singa, jangan pernah berhenti sebelum apa yang Anda cita-citakan dapat Anda raih. Semangat! Nah, kita bisa menjadikan singa sebagai cerminan untuk selalu berusaha mewujudkan semua mimpi-mimpi kita. Tidak mengenal kata berputus asa atau bahkan menyerah begitu saja. Maka dari itu mulailah dari bermimpi....Berawal dari mimpi itulah kita akan terus termotivasi untuk berusaha mewujudkan apa yang selama ini kita impikan. Karena tidak ada yang mustahil di hadapan Allah. Man jadda wajada !!!

Selasa, 08 Januari 2013

Jadi Veteran Dakwah, Mau???



           

Presented by Kareen el - Qalamy

                Seiring berjalannya waktu, cepat atau lambat, terasa atau tidak terasa. Terutama bagi mereka yang menyandang gelar sebagai mahasiswa tidak lama lagi akan segera berakhir. Bisa dikatakan begitu. Apakah selamanya akan menjadi mahasiswa? Tentu tidak. Semua itu akan ada waktu deadlinenya.
            Lebih mengerucut lagi, salah satu unsur masyarakat kampus, yaitu mahasiswa. Mahasiswa yang dibahas di sini bukanlah sembarang mahasiswa. Selain menyandang gelar sebagai mahasiswa juga sekaligus sebagai aktivis dakwah kampus (ADK). Nampaknya terlihat keren ya. Memang, di tangan aktivis dakwah kampus inilah yang nantinya akan melanjutkan risalah Rosulullah. Bahasa kerenya sebagai penyambung lidah Rosul.
Gelar ADK ini bukanlah main-main. Hanya mereka yang mempunyai komitmen tinggi terhadap nasib dakwah Islam ke depan yang pantas menyandang gelar itu. Oleh sebab itu bagi mereka yang masih setengah-setengah jangan harap bisa bertahan. Hanya orang-orang yang mempunyai loyalitas dan totalitas yang mampu bertahan hingga surga menantinya.
Menjadi seorang ADK bukannya sepi dari tantangan dan godaan. Justru dengan adanya cobaan dan godaan yang datang, akan semakin bertambah tinggi derajat keimanan dan ketakwaan. Asalkan para ADK ini mampu melewati semua itu dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan kesyukuran. Tapi kalau sebaliknya bisa berabe lho.
Cobaan dan ujian yang menghadang sangatlah bervariatif. Akan semakin bertambah kuat cobaan dan ujian yang datang ketika ADK sudah menyelesaikan masa studinya di kampus. Ada yang memilih untuk kembali ke daerahnya masing-masing atau malah menetap di kota tempatnya dulu ia belajar di kampus.
Oleh sebab itu hal ini sangatlah perlu dipikirkan masak-masak oleh ADK yang memang sudah mau selesai masa studinya. Jangan sampai aktivitas dakwah yang pernah dilakukan di kampus menjadi terhenti hanya karena lulus alias berguguran di jalan dakwah. Hal ini perlu diwaspadai karena dalam keenyataannya memang seperti itu. ADK yang dulunya notabene kader yang militan, qowy, haroki dll yang menempati jabatan strategis di dakwah kampus, menjadi orang yang zero amanah setelah kembali ke masyarakat. Fenomena seperti itu sangatlah disayangkan.
Jika setelah lulus masih ingin berkontribusi di dunia dakwah, alangkah baiknya setelah lulus kuliah melanjutkan estafet dakwah di lingkungan masyarakat. Singkatannya sama ADK tapi kepanjangannya Aktivis Dakwah Kampung. Masyarakatlah lahan dakwah yang sesungguhnya. Apabila dibandingkan dengan kampus, problematika yang ada belumlah sekompleks jika berdakwah di masyarakat. Dakwah masyarakat ini bisa dikatakan juga dakwah pasca kampus.
Tidaklah mudah memang karena dakwah pasca kampus juga memiliki karakteristik tersendiri. Namun walaupun lebih sulit dan berat saat menjalaninya, mau tidak mau harus menyongsongnya agar tidak mendapatkan gelar sebagai veteran dakwah. Salah satu caranya dengan memiliki keahlian khusus dimana dengan keahlian tersebut dengan mudah bisa mempengaruhi orang lain untuk memuluskan dalam menyampaikan kebenaran. Dengan keahlian yang dimiliki orang lain akan segan untuk mendengarkan apa yang kita sampaikan.
            Oleh sebab itu bagi aktivis dakwah kampus sebelum terlanjur menceburkan diri di dakwah masyarakat, mumpung masih ada kesempatan. Kesempatan untuk selalu mengupgrade kafaah diri agar memiliki bekal ketika nantinya harus kembali ke masyarakat. Asal tahu saja bahwa masyarakat membutuhkan kontribusi dari para aktivis dakwah pasca kampus. So, menjadi veteran dakwah, sorrylah yaw...