Rabu, 16 Februari 2011

Sayang Cantikmu Jangan Diobral

Ukhti…
Semua orang tahu…
Semua orang bisa lihat…
Yang punya mata normal pasti langsung sadar…
Ada akhwat cantik tanpa cadar…
Punya wajah yang bersinar…
Dan senyum yang berbinar…

Ukhti…
Siapa yang tidak suka melihat kulitmu yang bersih?
Siapa yang tidak senang melihat lekuk tubuhmu yang menarik?
Siapa yang menolak melihat wajahmu yang cantik?
Semua orang mau dekat denganmu…
Semua orang ingin menyentuhmu…
Semua orang ingin memilikimu…

Tapi ukhti…
Ketahuilah…
Tak semua orang ingin kau miliki…
Tak semua orang ingin kau mintai pertanggungjawaban atasmu…
Tak semua orang ingin melindungimu…
Tapi aku…aku mau…

Ukhti…
Aku ingin melindungi cantikmu…
Aku mau menjaga dirimu…
Tapi bantulah aku untuk menjagamu…
Yaitu dengan ikut menjaga penampilanmu…

Ukhti…
Aku yakin engkau telah berulang kali mendengarkan ini
Mungkin engkau merasa bosan…
Tapi aku tak akan pernah bosan mengingatkanmu…

Ukhti…
Engkau bagaikan sebuah berlian
Berlian yang indah bersinar…
Banyak orang mengincarmu…
Mereka ingin merenggut sinar itu…

Tapi, Ukhti…
Ketahuilah, sebuah berlian…yang tak hidup itu…
Diberi pnejagaan berlapis-lapis…
Ia dikungkung dalam lemari baja…
Yang dilindungi oleh alarm…
Terali besi…lemari kaca…
Bahkan untuk sekedar melihat indahnya…
Seseorang harus melewati prosedur berbelit-belit

Ukhti…
Berlian itu hanya sebuah batu…
Sedangkan engkau?
Engkau manusia! Engkau hidup! Engkau indah!
Engkau adalah karya sempurna Sang Pemahat sejati
Dan engkau lebih pantas untuk dilindungi…

Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Engkau tahu kan…barang obralan itu…
Mutunya rendah…
Harganya murah…
Seenaknya boleh dijamah…
Rusak tak mengapa…kotor bukan masalah…

Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Simpan cantikmu untuk yang berhak memiliki…
Simpan cantikmu agar engkau makin cantik…
Dengan kesempurnaan aqidahmu…
Dengan kedalaman ilmumu…
Yang terpancar dari balik kerudung dan jilbabmu…
Simpanlah untuk orang yang bersedia menukarnya dengan surga…

Ya, Ukhti…
Hanya ditukar dengan akses bebas masuk surga…
Dari pintu mana saja yang engkau suka sajalah…
Kauberikan akses sepuasnya pada cantikmu…
Dan orang yang akan memberimu akses itu…
Pasti adalah orang yang tidak meminta “uang muka”…
Dari cantikmu…

Sayang…
Cantikmu itu berharga…
Cantikmu itu karunia Allah…
Cantikmu itu amanah…
Engkaulah yang membuat cantikmu…
Menjadi pahala…
Atau fitnah…

Ukhti…
Jangan engkau anggap cantikmu itu murah…
Dunia dan seisinya tak mampu membayar cantikmu itu…
Pemahat terhebat di dunia ini pun tak mampu mengukir bentuk seindah dirimu…
Engkau adalah bidadari dunia…
Tapi…jangan mau hanya jadi bidadari di dunia saja…
Ayo…berusaha menjadi bidadari surga!

Ukhti…
Simpan cantikmu…
Orang-orang itu tak pantas menikmatinya darimu…
Orang-orang itu bahkan membawa api neraka di tiap pandangan mata mereka…
Sayang, cantikmu jangan diobral…
Karena cantikmu…BEDA!

Senin, 24 Januari 2011

Kelemahan ke 4 : Munculnya Pemimpin ala 'Syekh'

Seringkali gerakan dakwah melahirkan pemimpin ala/model 'Syekh'. Seakan dia adalah pahlawan malaikat yang legendaris; memiliki kemampuan membuka tabir (ghaib), kekuatan superman, mengetahui segala sesuatu dan menguasai segala sesuatu dan ... (ini dia) memimpin jamaah/organisasi seumur hidup ...
Nasib dan masa depan gerakan dakwah sangat terikat dengan model pemimpin seumur hidup seperti ini ... Sebab itu, tidak mungkin menyingkirkannya dari kursi kepemimpinan ... Semua aktivitas dan tindak tanduknya sangat menentukan warna dan arah organisasi, apapun bentuknya ... Jika keluar negeri, ia tetap mengendalikan organisasinya dari jauh ...
Dalam pertemuan-pertemuan, pemimpin model seperti ini selalu mendominasi jalannya acara. Ia bicara kapan dia mau ... di mana ia mau dan sebanyak apa yang dia mau ... serta judul apa yang dia inginkan ... Padahal dia sama sekali tidak mempersiapkan diri sebelumnya ... Tidak pula menyusun pikiran-pikiran atau cata-catatannya. Dia memiliki hak untuk menguasai pembicaraan dan semua hadirin harus menampakkan penghormatan padanya dan mendahulukannya dalam segala sesuatu, tanpa peduli atas tuntutan posisi kepemimpinannya yang memerlukan kehalian-keahlian, kemampuan-kemapuan dan spesialisasi.
Problem/hambatan utama yang dihadapi para pemimpin level kedua ialah siapa gerangan yang akan mampu menggantikan 'Syekh' itu? Setiap mereka sudah ditempel dijidatnya sebuah keyakinan bahwa mereka tidak ada apa-apanya di hadapan sang 'Syekh' itu ... Tawadhu' atau 'ketundukan' seperti ini sudah menjadi syarat pembentukan/rekrutmen haraki ... Mayoritas mereka tidak pernah berlatih atas kebebasan berpendapat dan kepemimpinan melalui praktek syura jama'i. Penghormatan yang agung terhadap 'Syekh' tidak memungkinkan mereka untuk menantangnya dan berbeda pendapat dengannya, bahkan hanya sekedar mempertanyakannya ... apalgi membangun pemikiran/pendapat yang berbeda dengannya ...
Terkadang hubungan yang dibangun tercerminkan dalam ungkapafan sufi "murid di hadap guru (Syekh)-ya harus seperti mayyit (orang mati) di hadapan orang yang memandikannya". Demikianlah dalam banyak hal keputusan yang sangat diperlukan dari sang 'Syekh' bisa saja berubah menjadi sebuah doa'. Amat sangat disayangkan kondisi seperti ini berulang dan terus menerus terjadi (di banyak kawasan, tanpa terkecuali di Indonesia), dan bahkan sampai ke tingkat sebahagian mereka menuduh sebagian yang lain dengan perkataan: "Sesuai, nifaq (atau pura-pura) atau berpisah". Kita berlindung pada Allah dari ungkapan demikian. Namum, kita juga menemukan sebagian sifat-sifat itu paling tidak ada pada sebagian besar para pemimpin gerakan dakwah.
Kita sekarang harus mempelajari dengan sungguh-sungguh dan objektif paraktek dan pengalaman dunia internasional moderen di mana untuk masa terbaik (kepemimpinan) yakni antara 4 sampai 6 tahun saja dan mungkin diperpanjang hanya untuk satu kali masa jabatan ... Sebuah kondisi yang memungkinkan untuk memimpin itu paling lama hanya 12 tahun. Ketika masa kepemimpinan selesai, maka mantan para pemimpin itu bisa bersaham positif dan efektif melalui komite khusus/spesialis atau sebagai penasehat bagi pemimpin yang baru disebabkan kehormatannya atau keahliannya atau pengalamannya.
(bersambung, insya Alloh)www.eramuslim.com

Kamis, 13 Januari 2011

Kelemahan ke 3 : Kegagalan Tarbiyah Kaum Ibu dan Anak-Anak

Kegagalan yang jelas terjadi pada kaum ibu dan anak-anak. Saat kita berhasil mentarbiyah sebahagaian kaum bapak/lelaki, kita gagal di sektor lain (kaum ibu dan anak-anak). Kita belum mampu memebentuk pergerakan kaum ibu yang efektif. Kaum ibu di kalangam kita masih belum mampu -kecuali segelintir saja- memenej diri mereka sendiri atau memberi pengaruh kepada wanita-wanita muslimah lainnya. Mayoritas kaum ibu di kalangan kita belum mampu berkomunikasi dengan baik dengam berbagai kalangan wanita lainnya atau berdialog dalam berbagai problematika masyarakat.

Sedangkan di sisi lain, kita melihat kelompok-kelompok nasionalis dan kiri mengeksploitasi kaum wanita semaksimal mungkin untuk mencapai target-target politik mereka... Kita belum mampu memaksimalkan potensi kaum wanita Muslimah yang begitu dahsyat, (khsuusnya dalam mencetak generasi berkualutas tinggi).

Begitulah mereka -kecuali dalam kondisi yang sangat terbatas- belum efektif dan mampu bersaham banyak dalam gerakan kita.. Padahal kita mengklaim dan bercita-cita bahwa kaum ibu kita mampu mentarbiyah anak-anak kita menjadi para pemimpin dan tokoh masa depan, sedangkan kita belum memberikan perhatian yang penuh dalam melibatkan dan mempersiapkan mereka (sebagi sumber pemimpin masa depan). Masalah ini masih menjadi pemandangan yang paradoks dalam gerakan Islam. Kita sulit memenangkan pertarungan jka 50 % dan mungkin lebih (jumlah kaum ibu) masih terabaikan dan terkucilkan dalam the real battle...

Dalam konteks yang sama, kita belum mencurahkan tenaga kita untuk mepersiapkan anak-anak kita dan mengembangkan potensi diri mereka (agar lebih baik dari kita). Prosentase materi pendidikan Islam khusus anak-anak, misalnya, belum lebih dari 5 % dari yang seharusnya... Kita memprediksi mereka mampu membaca dan memahami buku-buku untuk kaum dewasa.

Sesungguhnya pendidikan anak sejak balita sampai dewasa harus dirancang khusus dengan apik (tentu dengan mendirikan sekolah-sekolah percontohan dan alternatif). Gerakan dakwah masih banyak kehilangan dalam sektor ini karena mengabaikannya (dan tidak menjadikannya sebagai agenda utama).
(bersambung, insya Alloh)www.eramuslim.com