Minggu, 11 Mei 2014

ANALISIS SISWA BERKESULITAN BELAJAR KELAS II SDIT BAITUSSALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA




 Presented by Kareen el-Qalamy
(Sebelum revisi)

PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG
Matematika sejak peradaban manusia bermula memainkan peranan yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai bentuk simbol, rumus, teorema, dalil, ketetapan, dan konsep digunakan untuk membantu perhitungan, pengukuran, penilaian, dan sebagainya. Tidak heran jika peradaban manusia berubah dengan pesat karena ditunjang oleh partisipasi matematika yang selalu mengikuti perubahan dan perkembangan zaman (Masykur dan Fathani, 2009: 41).
Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang (terutama sains dan teknologi), dibandingkan dengan negara lain yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting. Di Indonesia, sejak bangku SD sampai perguruan tinggi, bahkan mungkin sejak play group atau sebelumnya (baby school), syarat penguasaan terhadap matematika jelas tidak bisa dikesampingkan. Untuk dapat menjalani pendidikan selama di bangku sekolah sampai kuliah dengan baik maka siswa dituntut untuk dapat menguasai matematika dengan baik (Masykur dan Fathani, 2009: 41-42).
Pembelajaran matematika yang dilakukan selama ini bukannya tanpa fungsi dan tujuan. Selama ini matematika sekolah berfungsi sebagai salah satu unsur masukan instrumental, yang memiliki obyek dasar abstrak dan melandaskan kebenaran, konsistensi, dalam setiap proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan. Kebenaran konsistensi adalah kebenaran yang terdahulu yang telah diterima. Tujuan pendidikan matematika dari mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut (Permendiknas, 2006).
1.         Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2.         Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
3.         Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
4.         Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5.         Memiliki sikap menghargai matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

            Dari lima poin tujuan pendidikan matematika di atas siswa dituntut untuk bisa mencapai semuanya. Padahal di sisi lain setiap siswa mempunyai kemampuan belajar yang berbeda-beda. Tujuan pembangunan nasional yaitu bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak dan bermutu. Hal tersebut mengalami kendala karena belum adanya perangkat kurikulum yang dapat mengakomodasi dan melayani kebutuhan spesifik peserta didik. Sementara peserta didik sendiri memiliki kekhasan baik secara fisik, mental, sosial, emosional, maupun kecerdasan. Salah satu yang memiliki kekhasan dalam emosional adalah peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Mereka memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata tetapi biasanya mengalami kesenjangan antaraprestasi belajar dengan potensi yang dimilikinya. Sementara sistem pembelajaran di sekolah belum memungkinkan penyediaan layanan pendidikan yang sesuai untuk peserta didik berkesulitan belajar.
            Harapan pemerintah untuk dapat melayani seluruh komponen masyarakat akan pendidikan yang layak dan bermutu selama ini belum sepenuhnya bisa terwujud dengan adanya berbagai kendala di berbagai aspek. Kendala tersebut terletak pada sisi komponen pendidikan itu sendiri sebagai subjek maupun pada kondisi masyarakat (peserta didik) sebagai objek. Salah satu aspek sisi komponen pendidikan yang menjadi kendala adalah belum adanya perangkat kurikulum yang dapat mengakomodasi dan melayani kebutuhan spesifik peserta didik. Sementara peserta didik sendiri memiliki kekhasan baik secara fisik, mental, sosial, emosional, maupun kecerdasan.
Peserta didik berkesulitan belajar memerlukan perhatian khusus. Mereka memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata. Di sekolah reguler, peserta didik berkesulitan belajar umumnya tidak terdeteksi secara baik oleh guru. Mereka biasanya mengalami kesenjangan antara prestasi belajar dengan potensi yang dimilikinya. Sistem pembelajaran di sekolah reguler belum memungkinkan penyediaan layanan pendidikan yang sesuai untuk peserta didik berkesulitan belajar. Untuk itu diperlukan upaya-upaya tertentu agar peserta didik berkesulitan belajar di sekolah-sekolah reguler dapat ditangani. Salah satu upaya dalam penanganan bagi peserta didik berkesulitan belajar yaitu dengan dikembangkannya sebuah model kurikulum khusus bagi mereka yang berkesulitan belajar. Model kurikulum ini merupakan rancangan pengalaman pembelajaran menyeluruh bagi peserta didik berkesulitan belajar pada satuan pendidikan tertentu.
Pendidikan inklusif yang menghargai semua siswa dengan keunikan mereka tidak serta merta berjalan mudah, termasuk dalam pendidikan matematika (Susetyawati, E., dkk., 2008). Sistem pendidikan yang masih mengedepankan penyeragaman untuk memenuhi target kurikulum daripada penyesuaian dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik merupakan salah satu kendala utama. Padahal, untuk bisa menjalankan pendidikan matematika inklusif, filosofi, sistem, maupun praktek pendidikan harus berubah.
Paradigma standarisasi pendidikan menyebabkan praktek pembelajaran matematika di sekolah inklusi dilaksanakan seperti pada sekolah reguler. Guru matematika di kelas inklusi masih cenderung mengajar sesuai kemampuan siswa normal. Proses pembelajaran dan penilaian dilaksanakan berdasar pada logika sekolah reguler sehingga ABK kurang mendapatkan layanan yang sesuai. Praktek seperti ini menyerupai bentuk sekolah model integrasi dimana ABK yang harus menyesuaikan dengan pembelajaran yang dilaksanakan, bukan pembelajaran yang disesuaikan dengan keunikan kebutuhan belajar mereka.
Protret buram pendidikan matematika, baik dari sisi proses maupun hasil, yang selama ini terjadi pada pendidikan matematika di sekolah reguler juga terjadi pada sekolah inklusi, bahkan menjadi lebih rumit.  Seperti halnya pada pembelajaran matematika di sekolah reguler selama ini, guru matematika sekolah inklusi banyak menerapkan model pembelajaran konvensional dimana guru mendominasi kelas. Dominasi guru menyebabkan siswa pasif selama pembelajaran. Minat dan motivasi belajar siswa juga kurang nampak. Siswa seolah mengikuti pembelajaran sebagai sebuah rutinitas dan kewajiban. Dari sisi hasil, prestasi belajar matematika siswa sekolah inklusi umumnya rendah. Tingkat ketuntasan belajar siswa dalam mempelajari kompetensi yang diajarkan guru relatif rendah.
Permasalahan menjadi semakin pelik bagi ABK karena kurang memperoleh ruang memadai untuk belajar sesuai kemampuan. Proses belajar mengajar di kelas yang masih bertumpu pada pola pembelajaran kelas reguler mengakibatkan ABK sulit mengimbangi kecepatan belajar kelas. Keunikan belajar ABK menuntut perlakuan khusus guru. Jika guru tidak mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya, ABK pasti mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika. Tingkat kesulitan belajar matematika yang tinggi semakin sulit karena keterbatasan mereka. Hal ini kontraproduktif jika dilihat dari pemikiran awal pendidikan inklusif yang ingin memberikan layanan lebih baik bagi ABK.      
B.       RUMUSAN MASALAH
1.    Bagaimana analisis karakter siswa berkesulitan belajar matematika kelas II SDIT Baitussalam?
C.       TUJUAN PENULISAN
2.      Mencari solusi alternatif terkait peserta didik berkesulitan belajar matematika kelas II SDIT Baitussalam      Prambanan.
D.      MANFAAT PENULISAN
1.      Memberikan solusi tentang permasalahan kurikulum yang di alami anak berkesulitan belajar matematika di kelas II SDIT Baitussalam
2.      Peneliti dapat belajar mengasah kemampuan berfikirnya dalam memberikan solusi suatu permasalahan yang berkaitan tentang pembelajaran























BAB II
PEMBAHASAN

A.     PAPARAN KASUS KARAKTER SISWA BERKESULITAN BELAJAR
Pembelajaran di sekolah mau tidak mau bertemu dengan berbagai macam karakter peserta didik. Dari berbagai macam karakter tersebut, ada yang mempunyai karakter normal seperti anak pada umumnya. Namun ada juga peserta didik yang mempunyai karakter khusus alias berbada dengan anak pada umumnya.
Seperti halnya kasus yang dialami oleh salah seorang peserta didik kelas II SDIT Baitussalam Prambanan bernama Sean Aron Gilbran atau akrab dipanggil Gilbran. Gilbran ini dilihat dari penampilan luar memang terlihat biasa-biasa saja. Perbedaan anak ini mulai terlihat jika berlangsungnya pembelajaran, terutama pembelajaran matematika.
Perbedaan atau keanehan karakter yang ditunjukkan yaitu diantaranya:
1.      Sulit berkonsentrasi saat jam pelajaran matematika
2.      Selalu mengatakan,”tidak bisa” ketika menjumpai masalah dalam bentuk soal matematika padahal sudah pernah dibelajarkan sebelumnya.
3.      Sulit mengawali langkah ketika mengerjakan penyelesaian soal.
4.      Rendahnya motivasi belajar.
Suatu ketika penulis pernah berhadapan langsung dengan orang tua Gilbran. Percakapan antara penulis dan orang tuanya pun terjadi
Orang tua Gilbran      : “Bagaimana ini Bu, Gilbran? Saya sangat minta tolong ke ibu untuk bisa memberikan tambahan jam matematika untuk Gilbran karena nilai matematika Gilbran kurang dibandingkan dengan nilai mata pelajaran yang lain.
Penulis                         : “Maaf Bu, saya jamnya sudah penuh, atau akan saya mintakan tolong guru yang lain untuk bisa memberikan les privat ke Gilbran.”
Orang tua Gilbran      :”Begitu juga bisa Bu. Soalnya saya bingung mau diapain Gilbran. Dulu waktu dia berumur empat tahun pernah jatuh dan kepalanya luka. Saat dironsen ternyata ada cairan di dalam otaknya. Saya tidak tahu apakah kejadian tersebut berefek kepada perkembangan Gilbran sekarang.”
Penulis                       :”O..begitu, iya Bu, insyaAllah akan saya usahakan.”
   Dari percakapan di atas, penulis menduga adanya pengaruh antara peristiwa masa lalu Gilbran kepada perkembangan proses berpikirnya. Oleh sebab itu penulis ingin mencari tahu akan kasus yang dialami oleh Gilbran.
   Hasil belajar yang dicapai oleh Gilbran juga masih kalah dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Hal ini sangat terlihat sekali pada saat penilaian UTS Genap. Untuk melihat analisis hasil belajar Gilbran bisa dilihat pada lampiran.
Kondisi kondisi Gilbran yang mengalami kesulitan belajar semakin diperparah lagi dengan tidak adanya kurikulum pembelajaran yang mendukung dan sesuai. Hal ini disebabkan kurikulum yang diberlakukan masih kurikulum yang digunakan pada sekolah umum, belum mengacu kepada kurikulum yang cocok digunakan untuk sekolah inklusi.  Kurikulum tersebut tidak sesuai ditandai dengan:
1.      Tidak adanya perlakuan khusus yang ditujukan bagi anak berkesulitan belajar pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
2.      Tidak adanya bahan ajar khusus yang ditujukan bagi anak berkesulitan belajar
3.      Kesamaan proses evaluasi yang diberlakukan antara siswa normal dengan siswa berkesulitan belajar.


B.     ANALISIS KASUS KURIKULUM PEMBELAJARAN YANG DIBERLAKUKAN
Analisis kasus dari yang telah dijabarkan di atas yaitu:
Dari internal siswa:
1.      Sulit berkonsentrasi saat jam pelajaran matematika
Anak ini jarang sekali memperhatikan ketika guru menjelaskan. Dia selalu asyik dengan dunianya sendiri. Contoh: menggambar, mengobrol sendiri dengan teman sampingnya.
2.      Selalu mengatakan,”tidak bisa” ketika menjumpai masalah dalam bentuk soal matematika padahal sudah pernah dibelajarkan sebelumnya.
Untuk poin kasus yang kedua ini belum bisa diselidiki lebih lebih jauh terkait tidak bisanya. Apakah karena lupa? Atau memang belum paham. Perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut untuk bisa mengetahuinya. Namun kalau dilihat dari hasil evaluasi pembelajaran berupa nilai ulangan harian, nilai anak ini pasti di bawah kriteria ketuntasan maksimal.
3.      Sulit mengawali langkah ketika mengerjakan penyelesaian soal.
Hal ini selalu terjadi ketika proses pnyelesaian masalah pada matematika. Padahal sebelumnya sudah diberi penjelasan. Jadi harus dipancing dan dibimbing setiap tahap.
4.      Rendahnya motivasi belajar.
Ketika pembelajaran matematika berlangsung kurangnya antusias dari anak ini. Terlihat malas dan berat saat penyelesaian masalah.
5.      Terjadinya peristiwa yang diduga berdampak terhadap proses perkembangan cara berpikir Gilbran
            Dari eksternal siswa (kurikulum):
1.      Tidak adanya perlakuan khusus bagi anak berkesulitan belajar.
Selama ini proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik belum memberlakukan perlakuan khusus bagi anak berkesulitan belajar. Jadi pendidik masih menyamaratakan perlakuan pembelajaran. Hal ini menyebabkan anak berkesulitan belajar merasa kesulitan untuk mengimbangi kemaampuan anak lain pada umumnya.
2.      Kesamaan bahan ajar yang dipakai.
Seharusnya anak berkesulitan belajar diberikan bahan ajar yang khusus pula untuk membantu dalam proses belajarnya. Bahan ajar yang dimaksud tentu yang cocok digunakan untuk anak berkesulitan belajar, misal dengan karakteristik mudah dipahami, sederhana dan menarik.
3.      Kesamaan proses evaluasi yang diberlakukan.
Proses evaluasi hasil belajar yang diberlakukan sebaiknya menyesuaikan kemampuan peserta didik. Terutama bagi anak berkesulitan belajar sangatlah tidak adil jika harus menggunakan standar penilaian bagi peserta didik pada umumnya.
C.     PEMBAHASAN HASIL ANALISIS KASUS KURIKULUM PEMBELAJARAN YANG DIBERLAKUKAN
Berdasarkan analisis kasus di atas, kekhususan karakter yang dialami anak ini cenderung muncul dari internal diri anak ini sendiri. terkait konsentrasi, rendahnya motivasi, sering bingung. Maka dari itu faktor internal ini harus dihilangkan atau minimal dikurangi karena anak ini masih memiliki masa depan yang panjang.
Selain dari faktor internal, faktor eksternal juga sangat berpengaruh terhadap kondisi akademis anak berkesulitan belajar. Faktor eksternal tersebut diantaranya belum adanya perlakuan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, belum adanya bahan ajar khusus  yang cocok dipakai bagi anak berkesulitan belajar dan belum adanya penilaian hasil belajar khusus bagi anak berkesulitan belajar.
Perlakuan khusus yang dimaksud adalah adanya model pembelajaran khusus atau adanya guru pendamping. Perlakuan khusus bagi anak berkebutuhan khusus, belum adanya bahan ajar yang sesuai dan belum adanya penilaian hasil belajar khusus bagi anak berkesulitan belajar termasuk bagian dari kurikulum.

D.       ALTERNATIF SOLUSI YANG DITAWARKAN
Melihat kasus yang ada, solusi yang ditawarkan, diantaranya yaitu:
1.      Penumbuhan minat dan motivasi khususnya dari orang tua dan guru di sekolah
2.      Perlunya pendampingan khusus saat pembelajaran sehingga mendapatkan bimbingan khusus pula.
3.      Saat pembelajaran hendaknya diawali dengan flash back yang bertujuan mengingat kembali materi yang telah diajarkan.
4.      Adanya penambahan jam belajar di luar jam pelajaran di sekolah, seperti les dll.
5.      Pembuatan kurikulum khusus bagi sekolah inklusi secara umumnya dan pembuatan model pembelajaran khusus, bahan ajar khusus dan proses evaluasi khusus pula bagi anak berkesulitan belajar secara khususnya.

















BAB III
KESIMPULAN

            Berdasarkan pembahasan di atas hasil analisis karakter dan kurikulum untuk anak berkesulitan belajar sudah sangat jelas, bahwa peserta didik berkesulitan belajar mempunyai karakter yang berbeda. Perbedaan karakter ini tentu menumbuhkan respon dan penanganan yang berbeda pula dibandingkan dengan anak normal pada umumnya. Perlu adanya penanganan khusus agar tidak terkucilkan dari pergaulan dan agar bisa mengimbangi kemampuan belajar peserta didik yang lain.
            Alternatif solusi yang ditawarkan pun juga lebih kepada solusi untuk mengurangi faktor-faktor internal yang muncul dari diri pribadi peserta didik. Sedangkan untuk faktor eksternal terkait kurikulum yang diberlakukan hendaknya menyesuaikan kondisi anak berkesulitan belajar. Penyesuaian kurikulum yang dimaksud terkait model pembelajaran, bahan ajar dan proses evaluasi. Hal ini bertujuan agar solusi yang ditawarkan tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi peserta didik.
            Dengan begitu harapannya peserta didik berkesulitan belajar tetap bisa mengikuti dan menerima apa saja yang dibelajarkan seperti halnya dengan peserta didik pada umumnya.











DAFTAR PUSTAKA


e-book Model Kurikulum Bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar. 2007. Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional.

Masykur, Moch dan Fathani A.H. 2007. Mathematical Intelligence. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. No. 22 tahun 2006. Standar Isi. Jakarta: Mendiknas.

Sumaryanta, M.Pd. 2010. Pembelajaran Matematika Inklusif. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Fakultas Sains dan Teknologi Program Studi Pendidikan Matematika
Susetyawati, E., Pratini, H.S., & Sumaryanta. 2008.  Inovasi Pembelajaran Matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Realistik-Inklusif (MATRIKS). Laporan penelitian Universitas PGRI Yogyakarta





Senin, 10 Februari 2014

Di Balik Keceriaannya


Presented by Kareen el- Qalamy

          
          Menjadi seorang pendidik di sebuah lembaga pendidikan tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Pendidik – bagi seorang perempuan – memang sudah menjadi kewajibannya. Kewajiban setiap perempuan kelak ketika Allah menitipkan jiwa yang fitrah. Kemudian dididik hingga mencapai dewasa. Tetapi kalau mendidik anak orang lain, tidak ada ikatan darah sama sekali merupakan tantangan luar biasa. Bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani.
            Mengapa tidak? Pendidik harus bisa memahami dan masuk ke dunia mereka, dunia anak-anak. Dunia anak-anak yang nampak sangat mengasyikkan, menyenangkan tanpa adanya setitik noda kesedihan. Yang ada hanyalah kegembiraan dan kesenangan tiada henti. Memang dunia anak identik dengan dunia bermain. Jadi jangan heran jika anak-anak tidak mengenal kata lelah untuk terus bermain.
            Nampaknya inilah yang sedang aku nikmati sekarang. Profesi sebagai seorang pendidik. Apalagi anak didikku anak-anak Sekolah Dasar (SD). Minggu-minggu awal memang kuakui melelahkan bahkan menjengkelkan ketika harus berhadapan dengan anak-anak. Akan tetapi seakan-akan semuanya itu sirna ketika aku mulai memahami psikologi anak-anak.  Yang awalnya aku sangat sulit mengkondisikan mereka untuk tenang saat belajar di kelas, sulit mengatur mereka agar mau tenang saat sholat, sedikit demi sedikit dapat kuatasi. Ditambah lagi kalau ada anak yang nangis dikarenakan bertengkar dengan temannya, terkadang dibuat bingung kira-kira bagaimana mengatasinya.
Maklum masih amatiran, begitulah usahaku untuk menghibur diri. Kuanggap sebagai sarana pembelajaran sebelum aku benar-benar menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak. Dan sekarang, alhamdulillah menangani anak-anak sudah menjadi hal biasa bagiku. Setiap hari ada-ada saja yang mereka lakukan, entah itu BAB di celana, ngompol, sakit dan berulah macam-macam tidak menjadi masalah bagiku. Dunia anak-anak seakan-akan menjadi hal yang unik bagiku.
Ada sebuah peristiwa yang membuatku terkesan berkaitan dengan dunia anak-anak. Di saat aku mengajar matematika di kelas 2, ada seorang anak putra yang memang terlihat cerdas di mataku. Dia cepat sekali paham dengan apa yang aku jelaskan. Padahal dia tipe anak yang tidak bertahan lama untuk duduk diam di kursinya. Pasti setelah beberapa menit dia mulai jalan-jalan di dalam kelas, terkadang menggoda temannya yang lain sehingga menimbulkan kegaduhan di kelas. Tiba – tiba datang pak satpam menengok dari luar pintu. Lantas aku pun menghampiri beliau, nampaknya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku.
Setelah kuhampiri, ternyata ada seorang bapak-bapak, dan aku pun secara spontan berpikiran bahwa bapk-bapak tersebut adalah ayah dari salah seorang siswa di kelas. Setelah kutanya maksud kedatangan beliau, beliau ingin meminta izin untuk menjemput anaknya. Dan anak yang dimaksud adalah anak laki-laki cerdas yang bernama Irsyad. Lantas aku langsung menghampiri Irsyad, memberitahukan bahwa ayahnya datang menjemput.
Ada hal aneh yang kutangkap dari peristiwa itu. Biasanya seorang anak yang dijemput orang tuanya pasti memancarkan raut wajah senang dan ceria. Namun sangat berbeda dengan Irsyad. Dia malah menangis, seakan-akan tidak mau dijemput ayahnya. Sungguh kejadian yang aneh buatku. Walaupun dia tidak mau dijemput, tetap saja ayahnya memaksa membawa Irsyad keluar kelas untuk dijemput pulang. Kejadian itu terus membuatku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.
Rasa penasaranku aku lampiaskan dengan bertanya kepada wali kelas 2 yang kuajar. Tiba-tiba sontak dibuat kaget atas penuturan wali kelas bahwasannya Irsyad dalam posisi keluarga broken home. Orang tuanya dalam tahap perceraian. Ya Allah....Irsyad....seorang anak yang selalu terlihat ceria, ternyata menyimpan permasalahan yang sangat pelik menyangkut kondisi keluarganya.
Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Mendadak rasa bersalah pun muncul di dalam hatiku. Takut kalau dia dibawa lari ayahnya karena menjadi rebutan antara ayah dan ibunya. Sedangkan selama ini Irsyad tinggal bersama ibunya. Sangat masuk di akal juga kalau ayahnya rela menjemput ke sekolah dan membawanya ke Purworejo karena kangen. Anak-anak, anak-anak, di balik keceriaan mereka terkadang punya arti tersendiri di kehidupan mereka.
            

Minggu, 09 Februari 2014

Kejutan di Awal Tahun



Presented by Kareen el-Qalamy


         Hampir memasuki satu bulan di tahun 2014. Euphoria tahun baru sepertinya masih hangat terasa. Malam tahun baru yang biasanya dirayakan dengan sangat meriah berujung kemubadziran. Anggaran yang tentunya tidak sedikit jumlahnya rela digelontorkan oleh pemerintah demi terselenggaranya kemeriahan malam tahun baru.
            Ketika malam tahun baru terlewati dengan pesta pora dan keesokan harinya memasuki hari pertama tahun baru mulai terasa dampaknya. Sampah berceceran di mana-mana akibat sisa perayaan tahun baru. Tidak hanya itu dampak yang ditimbulkan setelah perayaan malam tahun baru. Pagi hari di hari pertama yang seharusnya diawali dengan penuh semangat terasa malas akibat begadang semalam suntuk. Begadang untuk menanti detik-detik perayaan tahun baru yang biasanya diisi dengan acara hiburan yang sifatnya hedonis.
            Akan lebih bermanfaat jika acara malam tahun baru diisi dengan introspeksi diri, merenungi apa yang telah diperbuat dan dihasilkan selama satu tahun kemarin. Sekaligus membuat planning apa saja yang akan dikerjakan dan diraih selama satu tahun mendatang.
            Apalagi beberapa hari ini dikejutkan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di awal tahun ini. Dibuka dengan peristiwa naiknya harga gas LPG yang membuat hampir seluruh masyarakat yang menggunakan gas LPG menjerit. Selain itu kondisi cuaca di awal tahun yang nampaknya belum bersahabat. Terbukti dengan terjadinya cuaca ekstrem di beberapa negara belahan dunia tidak terkecuali di Indonesia.
            Beberapa diantaranya aktivitas Gunung Sinabung yang ada di Sumatra Utara sejak tahun 2013 sampai sekarang masih terus bergeliat, bahkan beberapa hari ini mengeluarkan semburan api vulkanik yang meluluhlantahkan daerah-daerah sekitarnya. Kemudian disusul banjir yang melanda ibukota. Dimana banjir tersebut memang sudah menjadi rutinitas tahunan setiap musim penghujan. Sampai-sampai pemerintah kota dibuat bingung karena banjir. Segala upaya dilakukan untuk menanggulangi banjir, namun nampaknya belum membuahkan hasil. Banjir Jakarta belum usai, tiba-tiba disusul bencana banjir bandang yang melanda Manado, Sulawesi Utara. Banjir bandang yang melanda Manado hampir menyapu sebagian besar kota Manado.
            Entah apa yang tersirat di balik semua bencana yang terjadi. Sebagai manusia bencana yang terjadi hendaknya menjadi cambukan dari Allah untuk segera kembali mengingat-Nya. Mungkin selama ini kita telah lalai dari mengingat-Nya, ditambah lagi semakin sering bermaksiat dan semakin sedikit beribadah kepada-Nya. Jangan dibilang kesenangan sesaat ketika perayaan tahun baru lantas berubah menjadi kesedihan berkepanjangan karena datangnya bencana. Bersenang-senang dahulu bersusah-susah kemudian. Bagi pemerintah, anggaran tahun baru yang seharusnya bisa dialokasikan untuk korban bencana habis sia-sia. Marilah bersama-sama mengambil ibroh di balik bencana yang terjadi, jangan malah sibuk mencari kambing hitam. Bencana yang terjadi tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab kita semua untuk selalu memperhatikan firman-Nya. Wallahu’alam